17/12. Hari terakhir UAS dengan
mapel ekonomi dan TIK. Jangan tanya bagaimana usahaku. Aku malu sekaligus ..
menyesal. Benar. Kali ini aku baru benar-benar menyesal. Aku benar-benar sedih.
Aku akui aku memang lalai. Aku memang malas. Aku memang salah. Sekarang tinggal
kutanggung sendiri penyesalan ini.
Ingatanku amburadul. Memoryku
acak-acakan. Semua berantakan dan tidak tertata dengan rapi. Aku sekarang
benar-benar sadar dengan sepenuh hati dan segenap jiwaku. Aku harus belajar
setiap hari. Aku nggak seharusnya menyalahkan keadaan atau orang lain.
Seharusnya terlebih dahulu aku introspeksi diri. Seharusnya aku ngaca dulu
sebelum melempar cermin kepada mereka. Harusnya aku itu ngaca, apa aku sudah
benar? Tidakkah aku salah? Ya, dan baru sekarang aku sadari kesalahanku.
Aku remidi biologi. Biologi
memang sulit dan ditambah aku malas membaca dan mempelajarinya setiap hari.
Paling tidak seminggu sekali. Tidak, aku benar-benar malas membuka bukunya.
Melihat tulisan di dalamnya saja aku sudah merasa muak. Aku pun tidak
seharusnya menyalahkan guru biologi. Guru tidak salah. Metode pembelajaran pun
tidak salah. Seharusnya aku menyadari ini dari dulu. Sekarang harusnya aku
masih bersyukur, remidi hanya tugas. Hanya mengerjakan soal-soal di buku paket
yang nyaris tak pernah ku baca. Aku harus kerjakan dengan sebaik-baiknya.
Harus. Semangat!
Bahasa Jawa pun terlalu aku
sepelekan. Aku yakin dengan hasil ulangan harianku yang bagus aku tidak akan
remidi sekalipun UAS-ku jelek. Tapi ternyata aku salah. Aku terlalu sombong dan
percaya diri. Tidak seharusnya aku punya pikiran seperti itu. Sungguh pemikiran
terbodoh. Dan aku memang bodoh, tidak seharusnya aku berlagak sok bisa. “Ini
lho, aku.” Bahkan Allah pun melarang keras hambanya berjalan dengan sombong di
muka bumi ini. Aku tahu itu, tapi aku tidak benar-benar memahaminya. Bodoh. Aku
memang bodoh. Dan kembali lagi aku bersyukur, remidi Bahasa Jawa pun sudah
sangat dipermudah. Hanya mencari artikel tentang wayang lima lembar. Tidak
membuat makalah atau pun nembang di depan kelas. Tidak. Guru sudah baik dengan
mempermudah tugas.
Matematika benar-benar sebuah
keajaiban yang harus aku syukuri. Bayangkan saja, aku bisa lolos dan tidak
remidi dengan nilai 62. Benar-benar keajaiban. Aku yang tidak sedikitpun
memahami pelajaran itu bisa lolos dan tidak remidi. Aku tidak tahu bagaimana
aku harus mensyukurinya. Dengan segala kekuranganku aku bisa, aku bisa. Dengan
kemalasan dan kelalaianku, inilah bukti kasih sayang Allah kepadaku.
Kali ini aku benar-benar telah
sadar dari tidur panjangku. Benar saja, selalu ada hikmah yang bisa dipetik
pada setiap peristiwa. Alhamdulillah ya Allah ...
No comments:
Post a Comment