Categories

December 19, 2011

Usai Dengan Sesal




17/12. Hari terakhir UAS dengan mapel ekonomi dan TIK. Jangan tanya bagaimana usahaku. Aku malu sekaligus .. menyesal. Benar. Kali ini aku baru benar-benar menyesal. Aku benar-benar sedih. Aku akui aku memang lalai. Aku memang malas. Aku memang salah. Sekarang tinggal kutanggung sendiri penyesalan ini.

Ingatanku amburadul. Memoryku acak-acakan. Semua berantakan dan tidak tertata dengan rapi. Aku sekarang benar-benar sadar dengan sepenuh hati dan segenap jiwaku. Aku harus belajar setiap hari. Aku nggak seharusnya menyalahkan keadaan atau orang lain. Seharusnya terlebih dahulu aku introspeksi diri. Seharusnya aku ngaca dulu sebelum melempar cermin kepada mereka. Harusnya aku itu ngaca, apa aku sudah benar? Tidakkah aku salah? Ya, dan baru sekarang aku sadari kesalahanku.

Aku remidi biologi. Biologi memang sulit dan ditambah aku malas membaca dan mempelajarinya setiap hari. Paling tidak seminggu sekali. Tidak, aku benar-benar malas membuka bukunya. Melihat tulisan di dalamnya saja aku sudah merasa muak. Aku pun tidak seharusnya menyalahkan guru biologi. Guru tidak salah. Metode pembelajaran pun tidak salah. Seharusnya aku menyadari ini dari dulu. Sekarang harusnya aku masih bersyukur, remidi hanya tugas. Hanya mengerjakan soal-soal di buku paket yang nyaris tak pernah ku baca. Aku harus kerjakan dengan sebaik-baiknya. Harus. Semangat!

Bahasa Jawa pun terlalu aku sepelekan. Aku yakin dengan hasil ulangan harianku yang bagus aku tidak akan remidi sekalipun UAS-ku jelek. Tapi ternyata aku salah. Aku terlalu sombong dan percaya diri. Tidak seharusnya aku punya pikiran seperti itu. Sungguh pemikiran terbodoh. Dan aku memang bodoh, tidak seharusnya aku berlagak sok bisa. “Ini lho, aku.” Bahkan Allah pun melarang keras hambanya berjalan dengan sombong di muka bumi ini. Aku tahu itu, tapi aku tidak benar-benar memahaminya. Bodoh. Aku memang bodoh. Dan kembali lagi aku bersyukur, remidi Bahasa Jawa pun sudah sangat dipermudah. Hanya mencari artikel tentang wayang lima lembar. Tidak membuat makalah atau pun nembang di depan kelas. Tidak. Guru sudah baik dengan mempermudah tugas.

Matematika benar-benar sebuah keajaiban yang harus aku syukuri. Bayangkan saja, aku bisa lolos dan tidak remidi dengan nilai 62. Benar-benar keajaiban. Aku yang tidak sedikitpun memahami pelajaran itu bisa lolos dan tidak remidi. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mensyukurinya. Dengan segala kekuranganku aku bisa, aku bisa. Dengan kemalasan dan kelalaianku, inilah bukti kasih sayang Allah kepadaku.

Kali ini aku benar-benar telah sadar dari tidur panjangku. Benar saja, selalu ada hikmah yang bisa dipetik pada setiap peristiwa. Alhamdulillah ya Allah ...

No comments:

Post a Comment