16/12. Besok adalah hari terkahir
UAS. Mapelnya TIK dan Ekonomi. Hmmm, entah mengapa sejak aku duduk di bangku
SMA atmosfer sekolah yang dulu begitu tebal sepertinya mulai terkikis. Lihat
saja, di musim ulangan seperti ini bukannya sibuk dengan belajar ini itu tapi
yang ada malah santai begini. Malah tadi siang aku melukis dinding kamarku
dengan sisa cat minyak untuk Ujian saat SMP.
Padahal kalo dinalar nih ya,
pelajaran SMA itu banyak bin susah-susah. Kalo nggak salah hitung sih ada tujuh
belas mata pelajaran untuk kelas sepuluh. Apa saja?
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris
Bahasa Arab
Budaya Jawa
Fisika
Biologi
Kimia
Matematika
Ekonomi
Sosiologi
Sejarah
Geografi
Seni Musik
TIK
Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Agama
Olah Raga
Coba hitung tuh benar tujuh belas
apa enggak? Kalo salah jewer aja kuping aku nih. Masih ada lagi tambahan
Bimbingan Konseling (BK). Gunanya seperti psikolog sekolah gitu deh. Ada kok
jamnya. Satu minggu satu jam pelajaran setiap kelas. Gunanya sih, buat
membimbing siswa biar jalannya tetap benar.
Hmmmm, balik lagi ke pokok
persoalan. Yaitu atmosfer sekolah yang mulai menipis. Maksudnya suasana sekolah
yang benar-benar sekolahan. Tempat buat belajar, buat menuntut ilmu, kayak yang
diajarin waktu SD dulu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ini terjadi.
Diantaranya faktor guru, faktor metode pembelajaran, faktor lingkungan, dan
faktor pribadi. Kita bahas satu per satu yuk.
Faktor Guru
Ehm, di sini aku nggak ada maksud
sedikit pun buat menyinggung pihak-pihak tertentu atau menjelek-jelekan guru.
But, jujur nih ya, guru jaman sekarang tuh jarang banget yang bener-bener
pingin mengajarkan ilmunya. Rata-rata profesi guru hanya untuk cari duit
semata. Duit, duit, duit, dan duit. Apalagi sekarang ini pemerintah benar-benar
menjamin kehidupan guru. Gaji guru aja sekarang tinggi banget bo. Tapi rupanya,
para guru itu terlena dengan duit. Mereka lupa dengan tugas mulia yang
diembannya. Mungkin juga mereka lupa akan sumpahnya mengabdi pada negeri.
Padahal guru itu berperan penting loh dalam memajukan suatu bangsa.
Tapi aku benar-benar kecewa deh.
Guru setiap hari masuk ke kelas, cuma sekedar masuk. Tanpa ada niat tulus, “Oh,
aku mau bikin murid-muridku pintar. Bagaimana caranya biar ilmuku tersampaikan
kepada mereka. Pokoknya aku harus bisa mendidik mereka supaya jadi generasi
penerus bangsa yang cerdas, berbudi, dan bertaqwa.” Eh, sekarang bukan begitu
tapi begini, “Oh iya hari ini aku kerja. Pokoknya yang penting aku masuk kelas,
ngajar, nyampein materi, materi selesai, ulangan, nilai masuk, tugasku beres
deh. Mau mereka paham kek, enggak kek. Kalo mereka mau perhatikan yang silakan
enggak juga nggak apa-apa. Yang penting materinya selesai.” Hmmmm, sungguh
mengecewakan.
Kalo guru-gurunya seperti itu
bagaimana generasi penerusnya bisa memajukan bangsa? Tragis deh.
Faktor Metode Pembelajaran
Zaman udah maju nih, semua serba
teknologi. Serba komputer, serba internet, serba digital. Sekolah sudah
menyediakan LCD proyektor di setiap kelas. Laboratorium komputer maupun bahasa
sudah makin canggih saja. Dan aku yakin, banyak sekali metode pembelajaran yang
asyik untuk diterapkan kepada siswa.
Tapi masih ada saja deh guru yang
kuno. Yang metodenya jadul banget. Aduh, please deh ini 2011 men, bukan 1800.
Udah nggak jaman kali belajar di kelas terus tanpa terjun langsung ke lapangan.
Udah nggak jaman kali murid disuruh dengar ceramah melulu. Dan nggak jaman
banget ngaduk-ngaduk koran lawas buat tugas, internet buat apa coba?
Oke, pembelajaran yang asyik
nggak harus serba canggih kok. Yang penting pinter-pinternya guru aja bikin
asyik suasana belajar. Sesekali terjun langsung ke lapangan gitu buat mengamati
secara langsung masalah yang sedang dipelajari. Selain itu, murid mana bisa
terus-menerus bersikap pasif. Kita juga ingin mengemukakan pendapat secara
bebas dan terbuka. Benar-benar bebas dan santai, nggak perlu takut di-judge
guru.
Pokoknya intinya sebagai guru itu
HARUS BISA MENCIPTAKAN SUASANA BELAJAR YANG MEMBUAT SISWA NYAMAN. TITIK. Itu
tugas guru. Guru lebih dewasa dari muridnya, otomatis pikirannya juga lebih
dewasa. Nggak dikit-dikit emosi kalo dikritik.
Faktor Lingkungan
Bicara soal lingkungan langsung
terpikir pada keadaan fisik sebuah sekolah. Proses belajar mengajar akan sangat
menyenangkan apabila berada di tempat yang nyaman. Sekolah seharusnya
benar-benar menjalankan program pengijauan. Nggak asik banget kan kalo sekolah
itu gersang. Dinding-dindingnya sepi, nggak ada poster apa pun. Warna catnya
pun pucat.
Seharusnya semua warga sekolah
bersama membangun sekolahnya menjadi wiyata mandala yang asik. Dindingnya
ditempeli poster-poster apa kek (yang berhubungan dengan sekolah dan pendidikan
loh). Tumbuhan hijaunya diperbanyak. Misal, setiap kelas memiliki tanaman yang
dirawat setiap hari dan menjadi tanggung jawab kelas tersebut. Kalau perlu cat
yang pucat diganti dengan warna yang fresh, yang segar. Hijau atau biru
misalnya.
Faktor Pribadi
Usia SMA merupakan usia
penjajakan ke dewasa. Kita nggak suka diperlalukan seperti anak kecil. Kita
juga nggak mau kalo urusan kita terlalu dicampuri. Tapi itu bukan berarti kita
disuruh mengerjakan semuanya sendiri dan dilepas begitu saja. Kita masih anak
sekolahan loh.
Pendidik seharusnya dapat
mengerti keadaan kita. Pendidik seharusnya tidak childish dan egois. Pendidik
seharusnya bisa menyesuaikan diri dengan kita. Pendidik seharusnya mendidik
dengan cara yang kita suka. Kita nggak suka diperlakukan secara keras, tapi
bukan berarti kita mau diemong seperti Paud.
Seorang guru nggak usah
marah-marah, nggak usah pakai emosi, nggak usah pakai kekejaman. Salah-salah
kita nanti malah sakit hati, frustasi, depresi dan sakit kejiwaan lainnya
gara-gara diperlakukan seenaknya oleh pendidik.
Huft, mungkin kali ini segitu
dulu. Sekali lagi aku tegaskan aku nggak ada maksud jelek sama siapa pun.
Lagian masih ada kok, guru atau pendidik yang ‘masih’ niat jadi guru. Walaupun
populasi mereka semakin sedikit. Ah, semoga saja masih banyak di luar sana.
Semoga. Supaya bangsa ini bisa maju. Dan aku tetap menghormati guru
bagaimanapun sikap dan sifatnya. Kalo ada guru yang baca ini mohon jangan
dimasukkan ke hati ya. Jangan tersinggung ya. Jangan marah ya.
Ini cuma sekedar kritikan bocah
aja kok.
^_^
No comments:
Post a Comment