Categories

December 6, 2011

SPEEDY LEM DOUBLE E part II


Keesokan harinya barang-barang Eza sudah dimasukkan ke dalam mobil. Eca hanya memandanginya dari balik jendela kamar. Kemarin malam keluarga Eza sudah berpamitan kepada para tetangga. Eza rupanya menyadari bahwa dari tadi ada yang memperhatikannya. Sebelum naik ke mobil ia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Eca. Eca pun tak kuasa menahan air matanya. Sementara mobil Eza semakin menjauh.
            Hari-hari dilalui Eca tanpa sahabat karibnya. Ia jadi sering murung dan tidak lagi bawel seperti dulu. Dilihatnya bangku Eza yang sekarang kosong.
            “Kamu apa kabar Za? Kamu suka nggak sama sekolah kamu yang baru? Rumah kamu pasti lebih bagus, kamu udah dapet temen baru belum Za?” Eca bergumam. Kesedihannya kali ini melebihi kesedihannya saat ditinggal Ony, kucing peliharaannya.
            Janji tinggal janji. Eza semakin jarang meneleponnya dan ia pun tidak pernah mengunjungi nininya sehingga mereka tidak pernah bertemu. Tiap melihat rumah di depan hatinya perih sekali. Dua bulan yang lalu hampir tiap hari ia main ke rumah itu. Berangkat sekolah bersama, bersepeda menyusuri jalan ke sekolah.
            “Ca,” suara ibu membuyarkan lamunan Eca.
            “Eh, ibu. Ada apa bu?” kata Eca.
            “Kamu kok ngelamun sih? Kangen ya sama Eza?” goda ibu.
            “Ah, nggak kok bu. Biasa aja,” kata Eca salting.
            “Begini, ayah kamu kerjanya pindah, jadi rumah kita dan sekolah kamu juga harus pindah. Katanya sih kita bakal pindah minggu depan. Jadi siap-siap ya Ca,” kata ibu dengan senyum manisnya.
            Eca menghela nafas setelah ibu pergi.”Mungkin dengan pindah rumah aku nggak akan terus-terusan sedih mikirin Eza. Ini khan karena aku masih sering ngelihat rumahnya aja.”
            Ternyata benar di tempat baru Eca lebih semangat dan kembali menjadi Eca yang periang. Waktu bergulir begitu cepat, Eca tak merasakannya bahwa sudah 3 tahun ia tinggal di tempat baru itu. Bayang-bayang Eza mulai menghilang. Malam itu ia sedang asyik membaca komik ditemani ipod barunya. Tiba-tiba terdengar lagu Sahabat Kecilku-nya Gita Gutawa.
            “Sahabat kecilku masihkah kau ingat aku,
              Saat kau lantunkan segala cita dan tujuan mulia,
              Tak ada satu pun masa seindah saat kita bersama,
              Bermain-main hingga lupa waktu mungkinkah kita kan mengulangnya,”
            “Jadi inget Eza,” gumamya. Eca kemudian membuka jendela kamarnya. Mencoba menghitung bintang yang bertebaran di langit. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Eh yang itu kok terang banget ya, yang itu juga.” Dulu ia dan Eza sering menghitung bintang, tapi nggak pernah berhasil. “Hm, udah jam sembilan, waktunya chating nih sama Jambu Monyet.”
            Eca pun menghidupkan komputernya. Menurut jadwalnya, jam 9 malam adalah jam buat internetan. Beberapa bulan terakhir ia suka chating sama temen mayanya Jambu Monyet, dengan nama Cabe Rawit beginilah chatingannya malam ini.
Cabe Rawit       : allow masih hidupkah dirimu????
Jambu Monyet      : qw dah mati tadi sore dimakamin. . .
Cabe Rawit        : berarti nie d neraka dounk? Salam y buat yg laen...
Jambu Monyet      : y gak lah qw gie d surga,,mmm di sini enak bgt
                    U dah kelar belajar??
Cabe Rawit        : nie libur dodol!! u tau lagunya GitGut gak???
Jambu Monyet      : yg mana bos???
Cabe Rawit        : sahabat kecilku...
Jambu Monyet      : napa??
Cabe Rawit        : qw jagi inget sama sahabat kecilku...
Jambu Monyet      : kaya apa kecilnya?? Sama semut kecilan mana??
Cabe Rawit        : namanya eza. Qta udah kaya lem sama prangko. Ke
                    mana-mana bareng melulu...
     Si jambu monyet yang tak lain dan tak bukan adalah Eza tertegun. “Apa jangan-jangan dia Eca?”
Jambu Monyet      : sahabat u pasti pernah tinggal di Jl. Kenanga no.4..
Cabe Rawit        : kok tahu?
Jambu Monyet      : kalian seneng banget main sepeda??
Cabe Rawit        : lho kok tahu sih?
Jambu Monyet      : kalian pisah gara2 si Eza itu pindah rumah khan??
Cabe Rawit        : OMG!! Sebenernya u tuh siapa sih?
Jambu Monyet      : eca, ini aku Eza. Sahabat kecil kamu...
Cabe Rawit        : gak percaya :p
Jambu Monyet      : ya ampun ca...ini keajaiban tuhan, kalo gak percaya telp
                    aja ke no 081930099xxx
            Eca penasaran, dihubunginya nomor yang diberikan si Jambu Monyet.
            “Halo,” terdengar jawaban di seberang sana.
            “Halo, bener ini nomernya Jambu Monyet?” tanya Eca.
            “Suara kamu beda ya Ca sekarang. Ya ampun aku seneng banget Ca bisa denger suara kamu lagi. Kamu apa kabar? Masih inget rupanya sama Eza,” cerosos lawan bicaranya.
            “Aku gak percaya kalo ini Eza,” jawab Eca dengan ketus.
            “Ya udah kalo nggak percaya, kamu dateng aja ke rumah kamu yang dulu. Aku lagi di rumah nini liburan. Cepet dateng ya Ca, aku tunggu.” Eza mengakhiri pembicaraan. Tut..tut..tut.. telepon ditutup.
            Eca masih nggak percaya kalau itu tadi Eza, akhirnya ia meminta izin orang tuanya agar diperbolehkan main ke tempat tinggalnya yang dulu. Di sana nanti ia menginap di rumah tantenya karena rumahnya sudah dijual. Ia mau membuktikan kata-kata Jambu Monyet.
            Semalam sudah ia menginap di rumah tante Lili. Pagi itu semua masih pada tidur, diraihnya sepeda Noni, adik sepupunya. Ia berkeliling menyusuri jalan yang dulu sering ia lalui bersama Eza. Akhinya tibalah ia di depan mantan rumahnya. Tidak berubah. Catnya masih merah muda seperti dulu, pohon mengganya masih berdiri kokoh dengan ayunan yang menggantung. Pagarnya pun masih hitam legam hanya saja catnya diperbarui biar lebih kinclong. Dan ia menengok ke rumah di depan mantan rumahnya. Rumah Eza pun masih sama. Masih hijau dengan beragam tanaman yang memenuhi halamannya.
            Sedang asyiknya mengamati rumah Eza, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Refleks Eca berteriak lalu ia menoleh, seorang anak laki-laki sebayanya tengah menaiki sepeda. Eca memperhatikan wajah anak itu dengan jeli. Kemudian sebuah senyum mengembang dari bibirnya.

No comments:

Post a Comment