Keesokan harinya
barang-barang Eza sudah dimasukkan ke dalam mobil. Eca hanya memandanginya dari
balik jendela kamar. Kemarin malam keluarga Eza sudah berpamitan kepada para
tetangga. Eza rupanya menyadari bahwa dari tadi ada yang memperhatikannya.
Sebelum naik ke mobil ia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Eca. Eca
pun tak kuasa menahan air matanya. Sementara mobil Eza semakin menjauh.
Hari-hari dilalui Eca tanpa sahabat
karibnya. Ia jadi sering murung dan tidak lagi bawel seperti dulu. Dilihatnya
bangku Eza yang sekarang kosong.
“Kamu apa kabar Za? Kamu suka nggak
sama sekolah kamu yang baru? Rumah kamu pasti lebih bagus, kamu udah dapet
temen baru belum Za?” Eca bergumam. Kesedihannya kali ini melebihi kesedihannya
saat ditinggal Ony, kucing peliharaannya.
Janji tinggal janji. Eza semakin
jarang meneleponnya dan ia pun tidak pernah mengunjungi nininya sehingga mereka
tidak pernah bertemu. Tiap melihat rumah di depan hatinya perih sekali. Dua
bulan yang lalu hampir tiap hari ia main ke rumah itu. Berangkat sekolah
bersama, bersepeda menyusuri jalan ke sekolah.
“Ca,” suara ibu membuyarkan lamunan
Eca.
“Eh, ibu. Ada apa bu?” kata Eca.
“Kamu kok ngelamun sih? Kangen ya
sama Eza?” goda ibu.
“Ah, nggak kok bu. Biasa aja,” kata
Eca salting.
“Begini, ayah kamu kerjanya pindah,
jadi rumah kita dan sekolah kamu juga harus pindah. Katanya sih kita bakal
pindah minggu depan. Jadi siap-siap ya Ca,” kata ibu dengan senyum manisnya.
Eca menghela nafas setelah ibu
pergi.”Mungkin dengan pindah rumah aku nggak akan terus-terusan sedih mikirin
Eza. Ini khan karena aku masih sering ngelihat rumahnya aja.”
Ternyata benar di tempat baru Eca
lebih semangat dan kembali menjadi Eca yang periang. Waktu bergulir begitu
cepat, Eca tak merasakannya bahwa sudah 3 tahun ia tinggal di tempat baru itu.
Bayang-bayang Eza mulai menghilang. Malam itu ia sedang asyik membaca komik
ditemani ipod barunya. Tiba-tiba terdengar lagu Sahabat Kecilku-nya Gita
Gutawa.
“Sahabat
kecilku masihkah kau ingat aku,
Saat kau lantunkan segala cita dan tujuan
mulia,
Tak ada satu pun masa seindah saat kita
bersama,
Bermain-main hingga lupa waktu mungkinkah
kita kan mengulangnya,”
“Jadi inget Eza,” gumamya. Eca kemudian membuka
jendela kamarnya. Mencoba menghitung bintang yang bertebaran di langit. “Satu,
dua, tiga, empat, lima, enam. Eh yang itu kok terang banget ya, yang itu juga.”
Dulu ia dan Eza sering menghitung bintang, tapi nggak pernah berhasil. “Hm,
udah jam sembilan, waktunya chating nih sama Jambu Monyet.”
Eca pun menghidupkan komputernya.
Menurut jadwalnya, jam 9 malam adalah jam buat internetan. Beberapa bulan
terakhir ia suka chating sama temen mayanya Jambu Monyet, dengan nama Cabe
Rawit beginilah chatingannya malam ini.
Cabe Rawit :
allow masih hidupkah dirimu????
Jambu Monyet : qw dah mati tadi sore dimakamin. . .
Cabe Rawit : berarti nie d neraka dounk? Salam y
buat yg laen...
Jambu Monyet : y gak lah qw gie d surga,,mmm di sini
enak bgt
U dah kelar
belajar??
Cabe Rawit : nie libur dodol!! u tau lagunya GitGut
gak???
Jambu Monyet : yg mana bos???
Cabe Rawit : sahabat kecilku...
Jambu Monyet : napa??
Cabe Rawit : qw jagi inget sama sahabat kecilku...
Jambu Monyet : kaya apa kecilnya?? Sama semut kecilan
mana??
Cabe Rawit : namanya eza. Qta udah kaya lem sama
prangko. Ke
mana-mana
bareng melulu...
Si
jambu monyet yang tak lain dan tak bukan adalah Eza tertegun. “Apa
jangan-jangan dia Eca?”
Jambu Monyet : sahabat u pasti pernah tinggal di Jl.
Kenanga no.4..
Cabe Rawit : kok tahu?
Jambu Monyet : kalian seneng banget main sepeda??
Cabe Rawit : lho kok tahu sih?
Jambu Monyet : kalian pisah gara2 si Eza itu pindah
rumah khan??
Cabe Rawit : OMG!! Sebenernya u tuh siapa sih?
Jambu Monyet : eca, ini aku Eza. Sahabat kecil kamu...
Cabe Rawit : gak percaya :p
Jambu Monyet : ya ampun ca...ini keajaiban tuhan, kalo
gak percaya telp
aja ke no
081930099xxx
Eca
penasaran, dihubunginya nomor yang diberikan si Jambu Monyet.
“Halo,” terdengar jawaban di
seberang sana.
“Halo, bener ini nomernya Jambu
Monyet?” tanya Eca.
“Suara kamu beda ya Ca sekarang. Ya
ampun aku seneng banget Ca bisa denger suara kamu lagi. Kamu apa kabar? Masih
inget rupanya sama Eza,” cerosos lawan bicaranya.
“Aku gak percaya kalo ini Eza,”
jawab Eca dengan ketus.
“Ya udah kalo nggak percaya, kamu
dateng aja ke rumah kamu yang dulu. Aku lagi di rumah nini liburan. Cepet
dateng ya Ca, aku tunggu.” Eza mengakhiri pembicaraan. Tut..tut..tut.. telepon
ditutup.
Eca masih nggak percaya kalau itu
tadi Eza, akhirnya ia meminta izin orang tuanya agar diperbolehkan main ke
tempat tinggalnya yang dulu. Di sana nanti ia menginap di rumah tantenya karena
rumahnya sudah dijual. Ia mau membuktikan kata-kata Jambu Monyet.
Semalam sudah ia menginap di rumah
tante Lili. Pagi itu semua masih pada tidur, diraihnya sepeda Noni, adik
sepupunya. Ia berkeliling menyusuri jalan yang dulu sering ia lalui bersama
Eza. Akhinya tibalah ia di depan mantan rumahnya. Tidak berubah. Catnya masih
merah muda seperti dulu, pohon mengganya masih berdiri kokoh dengan ayunan yang
menggantung. Pagarnya pun masih hitam legam hanya saja catnya diperbarui biar
lebih kinclong. Dan ia menengok ke rumah di depan mantan rumahnya. Rumah Eza
pun masih sama. Masih hijau dengan beragam tanaman yang memenuhi halamannya.
Sedang asyiknya mengamati rumah Eza,
tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Refleks Eca berteriak lalu
ia menoleh, seorang anak laki-laki sebayanya tengah menaiki sepeda. Eca
memperhatikan wajah anak itu dengan jeli. Kemudian sebuah senyum mengembang
dari bibirnya.
No comments:
Post a Comment