Categories

October 27, 2011

Balada Romansa: Si Asmara yang Membutakan


 
Aku mengenalnya setahun yang lalu. Saat ia menatapku dari rumah di seberang rumahku. Jantungku berdegup kencang. Mata itu sungguh tajam. Kami pun berkenalan. Perkenalan itu terus berlanjut. Aku pun mulai mengaguminya. Dia memang tidak seperti anak laki-laki biasa. Dia punya pesona yang lebih. Dia mampu memikat hati perempuan yang memandangnya. Termasuk aku.

Tapi aku hanya diam. Aku hanya memendam rasa itu sendiri. Perasaan kagumku kian bertambah ketika dia seolah memberiku secercah harapan. Aku pun bagai terbang ke langit tujuh. Hingga pada suatu hari tatkala aku sedang membuka jejaring sosial miliknya, aku membaca statusnya satu persatu. Aku lihat semua teman perempuan yang dekat dengannya. Dan aku menemukan satu nama yang sering ia sebutkan.

Aku melihat sendiri komentarnya terhadap foto gadis itu. Dia begitu memuji gadis itu. Dari situ aku menarik kesimpulan, cintaku bertepuk sebelah tangan. Rasanya bagai disambar petir di siang bolong. Patah hatiku. Remuk jantungku. Sakit. Sungguh sakit rasanya. Air mataku tak terbendung lagi. Aku pun menangis. Menangis sendiri. Dalam sepi. Dalam malam-malam sunyi.

Beberapa hari selera makanku lenyap. Aku hanya diam. Meratapi nasib. Benar-benar sedih. Parahnya aku hanya memendam semua itu sendirian. Tapi walau pun demikian, aku masih optimis. Aku yakin dia akan bisa menjadi milikku. Aku pasti bisa bersamanya. Sering aku berdoa kepada Tuhan, agar Dia mau membukakan pintu hatinya untukku.

Selang beberapa bulan, seseorang datang ke hidupku menggantikan dia. Walaupun tidak sepenuhnya karena posisinya terlalu istimewa. Tapi orang baru itu mampu membuatku tersenyum, tertawa, menghapus kegalauanku. Dia pun seperti tak peduli padaku. Dia pergi dengan yang lain.

Tapi tetap saja ada sepenggal rasa sakit yang menyelimutiku. Melihatnya bersama orang lain. Melihatnya bahagia dengan yang  lain. Seperti ada duri yang menusuk hatiku. Nyeri.

Selang beberapa bulan, keajaiban terjadi. Aku sendiri lagi, begitupun dirinya. Tiba-tiba dia mengejarku. Memintaku untuk menjadi kekasihnya. Benar-benar bungah hatiku. Tuhan telah kabulkan doaku. Doa yang nyaris terlupakan.

Tuhan izinkan aku untuk memilikinya. Hari-hariku begitu menyenangkan. Dia warnai hidupku. Dia benar-benar indah. Semua yang ada pada dirinya selalu membuatku berdecak kagum. Dan perasaanku pada dirinya telah membutakan mata hatiku. Aku tak bisa membedakan mana yang salah mana yang benar.

Ya, rasa yang mebutakanku. Dia yang membuatku buta. Aku melakukan apapun untuk dia. Aku berikan apapun yang dia minta. Aku turuti semua kemauannya. Aku korbankan waktuku, tenagaku, pikiranku, dan hartaku. Semua itu kulakukan demi dia.

Hingga aku benar-benar mengenal dia yang sebenarnya. Dia seutuhnya. Semua sifat yang ada pada dirinya. Dan walaupun aku sadar dan tahu bahwa dia busuk, tetap saja tak ku gubris. Bagiku yang terpenting adalah aku bersamanya. Dia bersamaku.

Suatu hari musibah menimpanya. Aku pun dengan setia mendampinginya. Dan tahukah balasan apa yang dia berikan padaku? Dia campakkan aku begitu saja. Sungguh teganya dirinya padaku. Sungguh betapa jahatnya dia. Benar-benar keparat.

Tapi aku tak punya daya apa-apa. Aku tak bisa lakukan apa-apa. Selain menangis. Menangis. Ya, menangis. Melampiaskan kesedihanku. Dengan kucuran air mata. Seorang sahabat yang baik hati menjadi saksi. Dia yang menjadi saksi kisahku ini. Dia yang menjadi saksi tangisanku di malam itu. Dia yang menjadi saksi atas sepenggal kehidupanku.

Mulai Dari Awal



Aku kangen banget nulis. Rasanya udah puluhan tahun gak kenal kertas sama pena. Kangen banget sama toots keyboardku. Laptop tua ini, beberapa bulan terakhir hanya buat Facebookan, dengarin musik, dan terkadang ngerjain tugas sekolah. Aku udah gak pernah lagi bikin cerpen, bahkan nulis diary pun enggak.

Jadi, ya gini deh hasilnya. Kaku. Bahasanya nggak luwes. Dan nggak bisa ngalir dengan ringan. Jadi terasa berat dan sulit. Padahal hanya menulis. Hanya mengeluarkan uneg-uneg ke dalam bentuk tulisan. Tapi sekarang begitu sulit buatku.

Aku bingung mau menulis apa. Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Bahkan rasanya jari-jari tanganku harus mengulang untuk mengenali huruf demi huruf di atas papan keyboard. Oh Tuhan, maafkanlah aku yang telah lalai. Yang telah malas dalam menulis.

Tapi ya sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu. Toh aku masih tetap bisa menulis. Walaupun aku harus memulai lagi dari awal. Nggak masalah. Yang penting sekarang adalah menulis. Karena menulis itu penting sekali. Baik untuk sekarang maupun untuk masa depan. Tulisan yang kita tulis sekarang menjadi tonggak sejarah di masa depan kelak.

Menulis juga bisa menambah kecerdasan. Karena dengan menulis otak kita dituntut untuk berpikir, mengingat, sekaligus berkarnya. Wah, luar biasa bukan. Maka dari itu sayang sekali apabila budaya menulis ini ditinggalkan.

Apalagi belakangan ini aku mengalami penurunan IQ. Ya. IQ-ku turun 6 point. Aku coba tes IQ pakai game psikotes berbasis multimedia flash yang ada di laptopku, dulu hasilnya 118, dan kemarin setelah aku coba lagi ternyata hasinya tinggal.... 112!!!

Bisa dibayangkan betapa bodohnya aku sekarang bukan? Tapi jangan bilang begitu. Enggak boleh mengatakan bahwa diri sendiri adalah bodoh. Nanti bisa mempengaruhi alam bawah sadar menjadi pesimis.

Okelah, cukup segini dulu permulaanku. Aku mulai dari awal. :)