Seorang teman lama mengabarkan
bahwa salah satu teman kita ada yang mau di DO dari sekolahnya. Kabar via SMS
itu tak cukup membuatku kaget. Ya, karena aku tahu siapa dan mengapa ia sampai
bisa dapat musibah seperti itu.
Sebut sajalah Adi. Aku mulai mengenalnya
dua tahun silam. Dan beberapa bulan lalu memang sempat dekat denganku. Tapi tak
lebih dari sebulan, hubungan itu sirna. Aku bersyukur lah. Itu tandanya aku
nggak masuk dalam dunianya.
Dia memang bukan dari keluarga
kebanyakan, melainkan sedikit lebih “unik”. Aneh, menurutku. Tidak ideal dan
tidak seharusnya begitu. Tapi tak perlulah aku mengurusi mereka. Dan kini, aku
benar-benar bersyukur bisa lepas dari dia.
Adi sekolah di SMA yang terkenal
sebagai sekolah (maaf) buangan. Karena di situlah pusat anak-anak nakal yang
tidak diterima di sekolah favorit. Sejak dulu memang sudah begitu. Kondisi ini
diperparah dengan orang tuanya yang memang berbeda dari orang tua pada umumnya.
Dengan ibu yang doyan main, dan seorang nenek yang sudah tua untuk mengawasi
semua gerak-geriknya. Ayahnya? Aku tak pernah tahu. Paman-pamannya lah yang
menggantikan posisi ayahnya itu.
Entah kenakalan apa yang belum pernah ia lakoni. Mulai dari merokok,
minum minuman beralkohol, balap liar, membolos, melawan orang tua, pulang larut
malam, dan berbagai kenakalan remaja lainnya. Herannya, bukannya menyesal telah
melakukan rentetan kenakalan itu Adi seakan mengganggap itu semua adalah
prestasinya.
Ia selalu menceritakan semua
kenakalannya dengan bangga. Laksana orang-orang sukses yang menceritakan
kesuksesannya. Aku hanya mengeryitkan kening tatkala mendengarnya mulai
berceloteh. Sebagai teman, tentu aku mengingatkan dia agar mengurangi
kenakalannya itu. Tapi apa daya rupanya kuping Adi sudah bebal dengan berbagai
bentuk nasihat.
Jadi, kalau sampai dia benar di
DO itu salah dia sendiri. Masa remaja memang masa-masa bahagia. Tapi bukan
berarti kita bisa melakukan kenakalan sesuka hati. Oke, aku akui nakal memang
mengasyikkan. Membantah orang tua, main sampai larut, kebut-kebutan di jalan,
membolos, semua adalah kegiatan yang mengasyikkan.
Tapi, apa kita nggak mikir masa
depan? Apa kita nggak pingin punya masa depan yang cerah? Apa kita nggak pingin
sukses? Apa kita nggak pingin hidup enak nantinya?
Pada akhirnya pilihan ada di tangan
kamu masing-masing.