Apa yang terlintas di pikiran
kamu saat mendengar kata “Bantargebang”? Tempat sampah? Pemulung? Well, well,
well, mungkin di antara kamu semuanya ada yang belum tahu mengenai daerah yang
satu ini. Bantargebang merupakan nama kecamatan di kawasan Bekasi Timur. Daerah
ini terkenal dengan TPA-nya (Tempat Pembuangan Akhir). Ada bergunung-gunung
sampah dari Jakarta dan sekitanya berkumpul di sini. Setiap hari ratusan meter
kubik sampah turun dari truk-truk sampah ke tempat ini. Namanya juga tempat
sampah pasti jadi istana bagi para pemulung dong. Yups, di sini ada kampung
pemulung. Otomatis warganya ya pemulung lah pastinya.
Aku lahir di Bantargebang.
Whaaat??!! Iya, suer deh. Tapi kamu jangan mikir kalo aku lahir timbunan sampah
lho. Enggak kok, aku juga lahir di rumah sakit normal, dibantu dokter
kandungan, serta suster-suster yang ramah dan baik hati. Bantargebang itu nggak
cuma sebatas tempat sampah. Bantargebang itu luas tauk, soalnya masih terbagi
menjadi banyak kelurahan. Kebetulan aku tinggal di Kampung Pedurenan. Kalo sekarang
sih daerah ini udah padat penduduk, tapi dulu di tahun 1996 jangan shock kalo
aku bilang tempat ini lebih kampungan dari kampung. Pokoknya masih
kampuuuuuuuuung banget. Jalanannya masih becek, masih banyak pohon rimbun, dan
sepi banget karena jauh dari jalan raya. Entahlah kenapa dulu keluargaku beli
tanah dan membangun rumah di tempat ini.
Mungkin alasan di atas jadi
penyebab kenapa sebelum aku bisa menikmati Kampung Pedurenan orang tuaku sudah
pindah ke Bunga Karang. Daerah ini berbeda 180 derajat dari Bantargebang.
Letaknya di jantung kota Bekasi membuatnya ramaaaaiiii, ramai, ramai, ramai
banget. Kawasannya benar-benar padat penduduk deh. Di daerah sini juga banyak
pusat perbelanjaan yang ngetren pada saat itu, seperti Pasar Baru Bekasi,
Proyek, Ramayana, bahkan Indomaret pun sudah menjamur subur lho di Bunga
Karang. Bener-bener daerah perkotaan ya.
Lagi-lagi orang tuaku ngajak
pindahan. Waktu itu usiaku belum genap empat tahun. Tapi aku masih ingat banget
prosesi pindahan rumah dari Bunga Karang ke Pekayon, Bekasi Selatan. Bagaimana orang-orang
bantuin gotong lemari, terus aku naik mobil bak sama mama papa. Dan ketika
sampai di rumah yang baru, sempet kaget juga sih karena ukurannya yang jauh
lebih kecil.
Daerah Pekayon ini bisa dibilang
paling nyaman dibanding dua tempat yang sudah pernah aku tinggali. Bukan kampung
yang masih kampungaaaaaan banget, bukan juga kota yang ramai, padat, dan tak
pernah tidur. Daerah ini emang cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Kalo di
Bunga Karang aku nggak punya halaman buat lari-larian, di Pekayon ada halaman
depan dan belakang yang luaaaasss untuk ukuran perkotaan. Di sekitar rumah juga
masih banyak pohon rambutan yang kalo lagi musim, bisa puas-puasin makan
rambutan sampe batuk.
Satu lagi hal yang paling aku
suka dari Pekayon adalah airnya. Iya airnya. Air di sini beniiiiing banget.
Bersih dan seger banget buat mandi. Buat diminum pun rasanya enak. Bener-bener
yahuud. Di Pekayon juga aku memulai karierku, ceileh orang sekolah juga
dibilangnya karier. Biarin lah biar rada keren dikit. Adekku juga lahir waktu
aku tinggal di Pekayon. Pokoknya Pekayon itu banyak menyumbang sejarah besar
buat hidupku.
Sayangnya di usiaku yang
kedelapan tahun aku harus rela ninggalin tempat ini. Karena aku harus pindah
lagi ke Pacitan. Suatu tempat yang jaauuuuuh dari Pekayon. Jauh dari Bekasi,
bahkan udah beda provinsi. Sampai detik ini aku belum pindah-pindah lagi. Sampai
aku ngetik tulisan ini aku juga masih berdomisili di kota kecil bernama Pacitan
ini. Mungkin, beberapa tahun lagi aku akan pindah ke lain kota untuk lanjutin
sekolah. Mungkin aku akan berkarier di suatu tempat entah di mana nanti. Mungkin
juga aku akan punya keluarga sendiri di lain tempat. Sebelum aku mati dan
dikubur, mungkin aku masih melanglang buana lagi.
Kamu mungkin berpikir kalau
hidupku ini ribet ya, karena pindah-pindah melulu. Terserah kamu lah mau mikir gimana. Yang jelas dengan beberapa pengalaman pindahan aku dapet pelajar berharga yaitu ketika pindahan ada
dua sisi yang harus siap untuk kita hadapi. Pertama, kita harus rela
meninggalkan tempat lama dengan segala cerita lama. Kedua, kita harus siap
untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan sejuta cerita baru yang akan
terukir.