Categories

July 22, 2012

Pindah Rumah


Apa yang terlintas di pikiran kamu saat mendengar kata “Bantargebang”? Tempat sampah? Pemulung? Well, well, well, mungkin di antara kamu semuanya ada yang belum tahu mengenai daerah yang satu ini. Bantargebang merupakan nama kecamatan di kawasan Bekasi Timur. Daerah ini terkenal dengan TPA-nya (Tempat Pembuangan Akhir). Ada bergunung-gunung sampah dari Jakarta dan sekitanya berkumpul di sini. Setiap hari ratusan meter kubik sampah turun dari truk-truk sampah ke tempat ini. Namanya juga tempat sampah pasti jadi istana bagi para pemulung dong. Yups, di sini ada kampung pemulung. Otomatis warganya ya pemulung lah pastinya.

Aku lahir di Bantargebang. Whaaat??!! Iya, suer deh. Tapi kamu jangan mikir kalo aku lahir timbunan sampah lho. Enggak kok, aku juga lahir di rumah sakit normal, dibantu dokter kandungan, serta suster-suster yang ramah dan baik hati. Bantargebang itu nggak cuma sebatas tempat sampah. Bantargebang itu luas tauk, soalnya masih terbagi menjadi banyak kelurahan. Kebetulan aku tinggal di Kampung Pedurenan. Kalo sekarang sih daerah ini udah padat penduduk, tapi dulu di tahun 1996 jangan shock kalo aku bilang tempat ini lebih kampungan dari kampung. Pokoknya masih kampuuuuuuuuung banget. Jalanannya masih becek, masih banyak pohon rimbun, dan sepi banget karena jauh dari jalan raya. Entahlah kenapa dulu keluargaku beli tanah dan membangun rumah di tempat ini.

Mungkin alasan di atas jadi penyebab kenapa sebelum aku bisa menikmati Kampung Pedurenan orang tuaku sudah pindah ke Bunga Karang. Daerah ini berbeda 180 derajat dari Bantargebang. Letaknya di jantung kota Bekasi membuatnya ramaaaaiiii, ramai, ramai, ramai banget. Kawasannya benar-benar padat penduduk deh. Di daerah sini juga banyak pusat perbelanjaan yang ngetren pada saat itu, seperti Pasar Baru Bekasi, Proyek, Ramayana, bahkan Indomaret pun sudah menjamur subur lho di Bunga Karang. Bener-bener daerah perkotaan ya.

Lagi-lagi orang tuaku ngajak pindahan. Waktu itu usiaku belum genap empat tahun. Tapi aku masih ingat banget prosesi pindahan rumah dari Bunga Karang ke Pekayon, Bekasi Selatan. Bagaimana orang-orang bantuin gotong lemari, terus aku naik mobil bak sama mama papa. Dan ketika sampai di rumah yang baru, sempet kaget juga sih karena ukurannya yang jauh lebih kecil.

Daerah Pekayon ini bisa dibilang paling nyaman dibanding dua tempat yang sudah pernah aku tinggali. Bukan kampung yang masih kampungaaaaaan banget, bukan juga kota yang ramai, padat, dan tak pernah tidur. Daerah ini emang cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Kalo di Bunga Karang aku nggak punya halaman buat lari-larian, di Pekayon ada halaman depan dan belakang yang luaaaasss untuk ukuran perkotaan. Di sekitar rumah juga masih banyak pohon rambutan yang kalo lagi musim, bisa puas-puasin makan rambutan sampe batuk.

Satu lagi hal yang paling aku suka dari Pekayon adalah airnya. Iya airnya. Air di sini beniiiiing banget. Bersih dan seger banget buat mandi. Buat diminum pun rasanya enak. Bener-bener yahuud. Di Pekayon juga aku memulai karierku, ceileh orang sekolah juga dibilangnya karier. Biarin lah biar rada keren dikit. Adekku juga lahir waktu aku tinggal di Pekayon. Pokoknya Pekayon itu banyak menyumbang sejarah besar buat hidupku.

Sayangnya di usiaku yang kedelapan tahun aku harus rela ninggalin tempat ini. Karena aku harus pindah lagi ke Pacitan. Suatu tempat yang jaauuuuuh dari Pekayon. Jauh dari Bekasi, bahkan udah beda provinsi. Sampai detik ini aku belum pindah-pindah lagi. Sampai aku ngetik tulisan ini aku juga masih berdomisili di kota kecil bernama Pacitan ini. Mungkin, beberapa tahun lagi aku akan pindah ke lain kota untuk lanjutin sekolah. Mungkin aku akan berkarier di suatu tempat entah di mana nanti. Mungkin juga aku akan punya keluarga sendiri di lain tempat. Sebelum aku mati dan dikubur, mungkin aku masih melanglang buana lagi.

Kamu mungkin berpikir kalau hidupku ini ribet ya, karena pindah-pindah melulu. Terserah kamu lah mau mikir gimana. Yang jelas dengan beberapa pengalaman pindahan aku dapet pelajar berharga yaitu ketika pindahan ada dua sisi yang harus siap untuk kita hadapi. Pertama, kita harus rela meninggalkan tempat lama dengan segala cerita lama. Kedua, kita harus siap untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan sejuta cerita baru yang akan terukir.

No comments:

Post a Comment