Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan tanpa tanda jasa. Tanpa tanda jasa. Tanda jasa. Jasa. Ya, mereka memang bekerja di bidang jasa. Mereka mendidik anak bangsa supaya menjadi generasi yang berpendidikan. Generasi yang cerdas, yang mampu mengharumkan nama bangsa. Pekerjaan yang mulia. Membekali murid-muridnya dengan ilmu. Supaya kelak dapat menyinari kehidupan mereka.
Tapi pada kenyataannya, tidak semanis itu. Guru juga manusia biasa. Bukan malaikat. Kerap kali, seorang guru melakukan tindakan yang menodai kecusian tugas yang diembannya. Kekerasan. Baik fisik maupun psikis kepada anak didiknya. Entah karena faktor tabiat, emosi, subjektivitas, atau diskriminasi. Saya sendiri pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari guru.
Pengalaman ini saya alami waktu duduk di kelas 2 SMP. Guru olahraga, berinisial A. Orangnya gendut, kulitnya gelap, botak, dan berkumis tebal. Dia memang terkenal galak dari jaman baheula. Waktu itu, seperti biasa pelajaran olahraga berjalan dengan membosankan. Kelas dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama disuruh bermain basket. Kelompok kedua, bermain voli didampingin pak A. Saya masuk kelompok yang kedua.
Dia mengajarkan teknik dasar melempar dan menerima bola. Kami disuruh membentuk lingkaran. Saat tiba giliran saya, ternyata cara saya melempar bola salah. Dia langsung menghampiri saya. Ngatain saya goblok. Dan kepala saya dipegangnya, seperti memegang bola, lalu dikoyaknya. Pusing sih. Teman-teman sampai geleng-geleng kepala.
Dan pernah juga, saat penilaian untuk sit up murid-murid disuruh berpasangan. Kalau yang satu sedang sit up yang lain memegangi kakinya. Kebetulan saat itu saya juga melakukan kesalahan karena dia mencontohkannya kurang jelas. Orang ini apabila dikritik atau diprotes reaksinya langsung mengamuk. Lalu, saat melihat saya melakukan kesalahan dalam memegangi kaki teman yang akan sit up dia langsung menghampiri saya dan menendang tangan saya.
Apakah seperti itu cara guru menegur muridnya yang melakukan kesalahan? Bukankan tugas guru adalah membimbing murid-muridnya? Kenapa harus dengan cara kampungan seperti itu?
Ada lagi pengalaman buruk saat saya melakukan tes masuk SMA. Tepatnya tes wawancara bahasa inggris. Seorang guru, tidak tahu namanya siapa, tidak ingat persis wajahnya. Tapi saya sangat mengingat perlakuannya. Dalam bahasa inggris dia berkata yang intinya dia tidak yakin kemampuan saya tidak memadai. Dia menanyakan apakah saya mempunyai impian. Saya pun menjawab, “Yes, sir. I wanna be a journalist.” Dengan nada tinggi, alis terangkat, dan ekspresi menghina dia bilang “Journalist???”
Mungkin maksudnya ingin membuat saya jadi down dan rendah diri. Tapi yang ada saya malah kesal. Ibarat percikan api yang disiram bensin. Rasanya malah ingin membuktikan kepadanya bahwa saya tidak sebodoh yang di kira. Saya bisa punya achievement. Biar dia tidak lagi meremehkan orang lain. Biar dia tidak lagi sesombong itu. Saya tahu, kalau saya balas dia dengan adu mulut bisa-bisa nama saya nanti dicoret dan saya tidak bisa masuk ke SMA tersebut.
Pokoknya intinya kedua guru di atas adalah guru-guru yang menyebalkan. Dan pelajaran yang bisa diambil adalah jangan menjadikan kekerasan sebagai media untuk menyelesaikan masalah dan jangan pernah meremehkan orang lain. Saya berharap, para guru hendaknya lebih dewasa dalam menghadapi siswanya. Tak usahlah melakukan tindakan yang tidak perlu dilakukan.