Pulang sekolah aku ikut Yeyen
pulang ke rumahnya di Arjosari. Sudah lama aku ingin main ke sana. Berkeliling Arjosari,
menyisir daerah-daerah yang belum kuketahui. Kebetulan bensinku full. Semalam
habis diisi. Setelah ganti baju, berangkatlah kami.
Sepertinya aku mulai hafal rute
ke rumah Yeyen. Dari Penceng ke utara menyusuri jalan Basuki Rahmat. Luruuuus terus.
Pokoknya ikuti jalan aja deh. Sampai di Pembangunan masih terus. Mulailah memasuki
wilayah Bengkal, Nanggungan, lalu Widoro. Ada jembatan lewati saja. Sampailah di
pertigaan Sambong.
Setelah lampu merah itu, jalan
tak lagi lurus. Mulai berkelak-kelok tapi belum ada tikungan tajam. Masih dalam
batas normal kok. Nah, mulai dari situ benar-benar ngikutin jalan. Jalan aspal
yang ada diikuti terus. Kalau sudah ada tugu bertuliskan “Gunung Sari” mulai
perhatikan kanan jalan. Ada dua jembatan yang bisa dilalui untuk sampai ke
rumah Yeyen, eh enggak deh ada tiga. Jembatan pertama, baru selesai diperbaiki.
Aku tadi lewat situ. Lalu jembatan kedua, yang biasa aku lewati jalannya agak
becek. Lalu jembatan ketiga, dekat dengan pabrik timah. Agak seram sih jembatan
yang ini. Kerangkanya dari besi-besi gelondongan. Itupun dibuat renggang. Kemudian
ditutup seng. Uh, seram.
Eh, adzan nih. Break dulu ya,
solat isyak. ^_^
****
Udah selesai nih solatnya, lanjut
yuk..
Nah, kebetulan tadi aku lewat
jembatan pertama untuk pertama kalinya. Lumayan bagus, kayunya nggak ada yang
lapuk. Tapi sayang, kurang lebar. Hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kalau kebetulan
di tengah-tengah ada pejalan kaki (biasanya petani), ya pejalan kaki itu harus
mengalah. Dia berhenti dan merapat ke pinggir untuk memberi space bagi
pengendara motor. Turun dari jembatan, mata akan disuguhi pemandangan sawah. Jalan
setapaknya sudah bagus. Dijamin kalau hujan nggak becek. Hihihi ...
Sampai di rumah Yeyen, aku duduk
di teras. Pemandangannya khas sekali. Depan rumah saja sudah sawah. Aku beruntung,
bisa melihat petani membajak dengan traktor. Traktor didorong keliling lahan
agar semua tanahnya gembur. Mayoritas mata pencaharian penduduk di situ adalah
petani. Nuansa pedesaannya masih kental sekali. Jauh berbeda dengan sumpeknya kota besar. Kendaraan
yang lalu lalang pun masih bisa dihitung.
Kami pun berangkat. Pertama aku
ingin tahu SMPN I Arjosari. Dari rumah Yeyen, kami jalan naik motor ke
utara. Kembali lagi mengikuti jalanan. Ups, rupanya jalannya becek. Ada banyak
lubang yang terisi air hujan. Apalagi masih ada jalan yang belum diaspal dan
berbatu. Sulit juga dilewati. Kami pun lewat pabrik timah. Aku tertegun. Heran.
Pabrik kok sepi banget?
Hmm, jangan bayangkan bangunan
pabrik timah itu seperti pabrik-pabrik di kota besar. Ukurannya nggak lebih
luas dari SMAN I Pacitan. Di kiri jalan, limbah pabrik mengalir seperti danau
perak. Dan baunya, nggak enak banget. Aku heran kenapa warga Pagutan mau
merelakan lahannya untuk pabrik sementara limbahnya dibiarkan mengalir begitu
saja. ‘Kan mencemari lingkungan.
Untuk ke jalan raya, kami
melewati jembatan ketiga, di atas tadi sudah aku jelaskan bukan? Itu lho jembatan
yang seram. Aku pun takut-takut melewatinya. Ngeri kalau-kalau sengnya tidak
kuat menahan beban pengguna jembatan yang lalu lalang setiap harinya.
Sesampainya di jalan raya, aku
baru bisa bernapas lega. Akhirnya bisa tenang juga. Jalan yang kami lewati
adalah Jalan Ponorogo-Pacitan. Kalau diikuti terus bisa sampai Ponorogo deh. Sampai
Pasar Arjosari ada pertigaan. Kalau terus ke Ponorogo, kalau belok ke Banyu
Anget. Kami pilih belok. Kembali aku tertegun, suasananya kok seperti di
Ponorogo ya? Ada pohon trembesinya juga.
Tujuan pertama terlewati, SMPN I
Arjosari. Bagus juga bangunannya. Warnanya hijau pupus. Sedap dipandang. Kami jalan
terus dan setengah jalan lagi sampai di Banyu Anget. Tapi males ah ke sana. Siang-siang
kok berendam di air panas. Kami pun putar balik. Di pertigaan pasar kami pilih
jalan ke Ponorogo, tapi bukan berarti kami hendak ke sana.
Jalan-jalan begitu saja aku sudah
senang. Padahal hanya muter-muter menghabiskan bensin. Nah, di jalan itu kami
bertemu Ardan. Kami purtuskan deh untuk main ke rumahnya. Ardan ini jualan
duren lho (barang kali ada duren, harap kami). Tapi ternyata nggak ada duren
saudara-saudara. Sebagai gantinya kami dibawakan rambutan satu kantung plastik.
Banyak juga lho, kalau beli nggak dapat lima ribu.
Ternyata rumahnya Ardan harus
masuk gang. Dan gangnya nggak seperti di Baleharjo, melainkan
naik-naik-naik-naik. Untuk dapatkan rambutan kami harus naik dulu ke area atas,
hehe. Asyik juga lho, seperti bolang (bocah tualang hilang). Sungai di
situ masih bersih dan belum terkontaminasi. Sepertinya asyik nih kalau mandi,
pikirku. Tempatnya sejuk deh. Banyak banget pohonnya. Tinggi-tinggi pula. Dan yang
jelas tempat seperti itu nyaman banget buat belajar, baca buku, menulis. Karena
sejuk dan damai.
Matahari semakin meninggi. Waktunya
Jum’atan buat kaum adam. Kami pun pamit pulang seraya mengucapkan banyak-banyak
terimakasih. Sebelum pulang ke Pacitan, tentu saja aku transit di rumah Yeyen. Sebab
dia nebeng aku. Kalau aku tega sih, bisa saja aku turunkan dia di dekat
jembatan. Tapi untungnya aku punya perasaan.
Hari semakin siang, aku tak
mungkin berlama-lama di situ. Pukul 12.40 aku pulang juga melewati jembatan
pertama. Di jalan, aku sempat bingung. Karena aku merasa ada perbedaan. Aku berpikir,
ini aku yang nggak pernah perhatikan jalan, atau memang aku salah jalan. Tapi aku
benar-benar lega ketika sampai di pertigaan Sambong. Ternyata banyak yang tak
kuperhatikan di sepanjang jalan Pacitan-Arjosari selama ini. Ahaha..
Over all, menyenangkan main ke
Arjosari..
^_^
No comments:
Post a Comment