Categories

December 23, 2011

Touring to Arjosari


Pulang sekolah aku ikut Yeyen pulang ke rumahnya di Arjosari. Sudah lama aku ingin main ke sana. Berkeliling Arjosari, menyisir daerah-daerah yang belum kuketahui. Kebetulan bensinku full. Semalam habis diisi. Setelah ganti baju, berangkatlah kami.

Sepertinya aku mulai hafal rute ke rumah Yeyen. Dari Penceng ke utara menyusuri jalan Basuki Rahmat. Luruuuus terus. Pokoknya ikuti jalan aja deh. Sampai di Pembangunan masih terus. Mulailah memasuki wilayah Bengkal, Nanggungan, lalu Widoro. Ada jembatan lewati saja. Sampailah di pertigaan Sambong.

Setelah lampu merah itu, jalan tak lagi lurus. Mulai berkelak-kelok tapi belum ada tikungan tajam. Masih dalam batas normal kok. Nah, mulai dari situ benar-benar ngikutin jalan. Jalan aspal yang ada diikuti terus. Kalau sudah ada tugu bertuliskan “Gunung Sari” mulai perhatikan kanan jalan. Ada dua jembatan yang bisa dilalui untuk sampai ke rumah Yeyen, eh enggak deh ada tiga. Jembatan pertama, baru selesai diperbaiki. Aku tadi lewat situ. Lalu jembatan kedua, yang biasa aku lewati jalannya agak becek. Lalu jembatan ketiga, dekat dengan pabrik timah. Agak seram sih jembatan yang ini. Kerangkanya dari besi-besi gelondongan. Itupun dibuat renggang. Kemudian ditutup seng. Uh, seram.

Eh, adzan nih. Break dulu ya, solat isyak. ^_^

****

Udah selesai nih solatnya, lanjut yuk..

Nah, kebetulan tadi aku lewat jembatan pertama untuk pertama kalinya. Lumayan bagus, kayunya nggak ada yang lapuk. Tapi sayang, kurang lebar. Hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kalau kebetulan di tengah-tengah ada pejalan kaki (biasanya petani), ya pejalan kaki itu harus mengalah. Dia berhenti dan merapat ke pinggir untuk memberi space bagi pengendara motor. Turun dari jembatan, mata akan disuguhi pemandangan sawah. Jalan setapaknya sudah bagus. Dijamin kalau hujan nggak becek. Hihihi ...

Sampai di rumah Yeyen, aku duduk di teras. Pemandangannya khas sekali. Depan rumah saja sudah sawah. Aku beruntung, bisa melihat petani membajak dengan traktor. Traktor didorong keliling lahan agar semua tanahnya gembur. Mayoritas mata pencaharian penduduk di situ adalah petani. Nuansa pedesaannya masih kental sekali.  Jauh berbeda dengan sumpeknya kota besar. Kendaraan yang lalu lalang pun masih bisa dihitung. 


Kami pun berangkat. Pertama aku ingin tahu SMPN I Arjosari. Dari rumah Yeyen, kami jalan naik motor ke utara. Kembali lagi mengikuti jalanan. Ups, rupanya jalannya becek. Ada banyak lubang yang terisi air hujan. Apalagi masih ada jalan yang belum diaspal dan berbatu. Sulit juga dilewati. Kami pun lewat pabrik timah. Aku tertegun. Heran. Pabrik kok sepi banget?

Hmm, jangan bayangkan bangunan pabrik timah itu seperti pabrik-pabrik di kota besar. Ukurannya nggak lebih luas dari SMAN I Pacitan. Di kiri jalan, limbah pabrik mengalir seperti danau perak. Dan baunya, nggak enak banget. Aku heran kenapa warga Pagutan mau merelakan lahannya untuk pabrik sementara limbahnya dibiarkan mengalir begitu saja. ‘Kan mencemari lingkungan.

Untuk ke jalan raya, kami melewati jembatan ketiga, di atas tadi sudah aku jelaskan bukan? Itu lho jembatan yang seram. Aku pun takut-takut melewatinya. Ngeri kalau-kalau sengnya tidak kuat menahan beban pengguna jembatan yang lalu lalang setiap harinya.

Sesampainya di jalan raya, aku baru bisa bernapas lega. Akhirnya bisa tenang juga. Jalan yang kami lewati adalah Jalan Ponorogo-Pacitan. Kalau diikuti terus bisa sampai Ponorogo deh. Sampai Pasar Arjosari ada pertigaan. Kalau terus ke Ponorogo, kalau belok ke Banyu Anget. Kami pilih belok. Kembali aku tertegun, suasananya kok seperti di Ponorogo ya? Ada pohon trembesinya juga.

Tujuan pertama terlewati, SMPN I Arjosari. Bagus juga bangunannya. Warnanya hijau pupus. Sedap dipandang. Kami jalan terus dan setengah jalan lagi sampai di Banyu Anget. Tapi males ah ke sana. Siang-siang kok berendam di air panas. Kami pun putar balik. Di pertigaan pasar kami pilih jalan ke Ponorogo, tapi bukan berarti kami hendak ke sana.

Jalan-jalan begitu saja aku sudah senang. Padahal hanya muter-muter menghabiskan bensin. Nah, di jalan itu kami bertemu Ardan. Kami purtuskan deh untuk main ke rumahnya. Ardan ini jualan duren lho (barang kali ada duren, harap kami). Tapi ternyata nggak ada duren saudara-saudara. Sebagai gantinya kami dibawakan rambutan satu kantung plastik. Banyak juga lho, kalau beli nggak dapat lima ribu.

Ternyata rumahnya Ardan harus masuk gang. Dan gangnya nggak seperti di Baleharjo, melainkan naik-naik-naik-naik. Untuk dapatkan rambutan kami harus naik dulu ke area atas, hehe. Asyik juga lho, seperti bolang (bocah tualang hilang). Sungai di situ masih bersih dan belum terkontaminasi. Sepertinya asyik nih kalau mandi, pikirku. Tempatnya sejuk deh. Banyak banget pohonnya. Tinggi-tinggi pula. Dan yang jelas tempat seperti itu nyaman banget buat belajar, baca buku, menulis. Karena sejuk dan damai.

Matahari semakin meninggi. Waktunya Jum’atan buat kaum adam. Kami pun pamit pulang seraya mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Sebelum pulang ke Pacitan, tentu saja aku transit di rumah Yeyen. Sebab dia nebeng aku. Kalau aku tega sih, bisa saja aku turunkan dia di dekat jembatan. Tapi untungnya aku punya perasaan.

Hari semakin siang, aku tak mungkin berlama-lama di situ. Pukul 12.40 aku pulang juga melewati jembatan pertama. Di jalan, aku sempat bingung. Karena aku merasa ada perbedaan. Aku berpikir, ini aku yang nggak pernah perhatikan jalan, atau memang aku salah jalan. Tapi aku benar-benar lega ketika sampai di pertigaan Sambong. Ternyata banyak yang tak kuperhatikan di sepanjang jalan Pacitan-Arjosari selama ini. Ahaha..

Over all, menyenangkan main ke Arjosari..

^_^

No comments:

Post a Comment