Sepanjang
perjalanan menuju pantai Eca dan Eza pada rebutan buat ngomong. Uhh, udah kaya
ikan mas koki yang lagi rebutan makanan aja tuh mereka.
“Duh, Ca tiga tahun terakhir ini
rasanya hampa banget gak ada kamu. Apalagi pas awal-awalnya aku pindah. Buat
adaptasinya tuh susaah banget. Ke mana pun aku pergi, ke mana pun kaki ini
melangkah, ke mana pun mata ini memandang, selalu kebayang-bayang sama kamu,”
cerita Eza dengan polosnya.
“Huh! Tiga tahun nggak ketemu
ternyata udah pinter ngegombal yach. Pasti ceweknya banyak nih?! Dasar
playboy..!” ledek Eca.
“Alah...! Udah lah Ca nggak usah
muna deh. Kamu juga sama khan?! Pasti kalau kamu pakai acara nangis-nangisan
segala. Cengeng,” sergah Eza. Sementara Eca menundukkan wajahnya. Ia malu mau
ngaku ke Eza kalau selama ini dia juga selalu terbayang-bayang padanya. “Tuh
khan, ada yang malu nih... Euleh-euleh sampe merah tuh muka. Mau nyaingin
kepiting rebus neng?!”
“Iya-iya deh aku nyerah. Aku juga
ngerasa kehilangan banget. Tiap aku tengok halaman rumah kamu...hatiku
perih...rasanya kaya diiris-iris....air mataku udah gak kebendung
lagi...hk..hk..hk..huuu..huuu...” Eca sok manja, pakai acara pura-pura nangis
segala lagi.
“Wek!” Eza menjulurkan lidahnya.
“Lebay!”
“Biarin! Aku nggak peduli. Mau lebay
kek, jijay kek, bajaj kek, bawang bombay, atau kakek-kakek keselek petai
sekalipun masa bodo karena aku sekarang lagi HEPIII BISA KETEMU MY BEST FRIEND
LAGIIII......” kata Eca sambil teriak-teriak. Ibu-ibu yang mau ke pasar pada nengok
ke arahnya. Dalam pikiran mereka mungkin mereka bingung nih anak kesambet setan
apa sih. Kuntilanak, ibukuntil, nenek kuntil, atau bapak kuntil, emang ada
setan kayak begitu??
“Idih... Kamu ngapain Ca? Malu atuh
diliatin sama orang-orang. Tar kalo ada ambulan yang lewat, trus kamu dimasukin
dan disuruh tinggal di rumah sakit jiwa gimana?” kata Eza dengan berbisik
karena jujur saja ia mulai tengsin dengan tingkah konyol sobatnya.
“Aku bakal ajak kamu. Kamu khan
temen terbaikku. Jadi aku bakal setia dan nggak bakal ngekhianatin kamu. So
tenang aja aku nggak akan ninggalin kamu. Hihihi....” bisik Eca dengan nada
mengejek. Eza pun mengencangkan laju sepedanya hingga Eca tertinggal olehnya.
“Zaa!
Tunggu lah, kau itu jadi orang musti sabar. Sebab kalau kau sering marah-marah
seperti ini cepat tua kau nanti. Rambut kau
yang hitam ini bisa cepat ubanan, dan kulit wajah kau yang kenyal seperti agar-agar ini bisa
keriput seperti balon habis ditiup. Bersabarlah kawan...” ujar Eca dengan logat
Batak.
“Hahahahaha!!” tawa Eza pun meledak.
“Waduh Eca! Lucu kali kau ini, aku saja tak kuasa menahan tawaku. Ikutlah kau
audisi lawak, pasti lulus kau nanti,” Eza pun ikut-ikut menlagukan nada
bicaranya seperti orang Batak. Merka berdua tertawa lepas.
Huh, saking asyiknya mereka bercanda
tidak terasa sepeda mereka sudah menyentuh lembutnya pasir pantai. Saking lembutnya
itu pasir, mereka sampai kesulitan mengendarai sepeda dan terpakasa
menuntunnya. Kedua sepeda itu telah diparkir di bawah pohon kelapa sementara
dua makhluk yang tadi mengendarainya tengah asyik berkejar-kejaran dengan
ombak. Eca minta difoto. Dia udah siap dengan gaya putri duyung yang sok seksi
tapi malah mirip sama singa laut. Sementara Eza bergaya sok cool dengan
menegakkan kerah bajunya. Kedua tangannya merentang kaya ingin meluk gunung,
kepala sedikit diangkat dengan mata terpejam. Bibir tersenyum sambil menghirup
aroma laut. Tapi Eza emang cool, batin Eca. Jepret!!
“Bikin benteng yuk Za,” ajak Eca menarik
lengan Eza karena dari tadi ia tidak beranjak dari tempatnya berpose.
Sementara Eca sedang konsentrasi
tinggi membangun benteng pertahanannya, Eza usil mengolesi hidung Eca dengan
pasir yang basah. Eca yang tidak terima membalas perbuatan semena-mena Eza dan
jadilah mereka saling memaskerkan satu sama lain dengan pasir. Peperangan itu
berakhir saat Eza jatuh ke air, Eca tertawa dengan penuh kemenangan. Dengan
sengaja Eza menarik kaki Eca agar ia juga senasib dengannya. Akhirnya mereka
berdua basah kuyub setelah datang sang ombak mengguyur mereka.
“Yah kamu sich Za. Jadi basah deh
aku,” ujar Eca.
“Khan biar impas non...” kata Eza.
“Btw busway, ini udah jam berapa ya
Za?” tanya Eca karena ia memergoki sang surya sudah mulai meninggi yang memberi
efek samping berupa rasa panas pada ubun-ubunnya.
“Jam tujuh lewat Ca. Lama juga ya
kita main-main,” jawab Eza sambil melangkahkan kaki ke tempatnya tadi memarkir
sepeda.
“Wah, pantas aja perutku dah mulai
bunyiin drumband, dah gak terima lagi keroncongan. Abiz jadul sich...jaman
sekarang masih keroncongan? Mendingan ke laut aja sono...” Eca nyerocos sambil
menenteng sandalnya.
“Bawel ah! Mending sekarang kita
cepet pulang, mandi, terus ke sawah deh makan. Humm....yummy!!” kata Eza sambil
menjilat bibir atasnya.
Eca membuntuti Eza dari belakang.
Kemudian mereka pulang ke rumah nininya Eza. Di sana nini dengan senang
menyambut mereka terutama Eca.
“Ini teh beneran si Eca? Aduh,
geulisna...”
“Iya ni, ini teh beneran si Eca. Kenapa
atuh ni? Emangnya si Eca tambah jelek ya ni?” sahut Eza menimpali.
“Ih Eza. Ini mah namanya tambah
geulis atuh,” nini tersenyum-senyum memandangi wajah Eca. Sementara yang dipandangi
hanya tersipu malu. “Ya udah pada mandi sana gih nanti keburu masuk angin,”
“Kamu duluan Za aku mau telepon
tante dulu biar dia nggak cemas,” kata Eca sambil memencet-mencet keypad HP-nya.
“Owh..” jawab Eza kemudian beranjak
pergi dengan berkalung handuk. Sementara Eca sedang menunggu tante Lili
mengangkat callingnya. Dan...
“Halo tan. Mm, gini..iya, iya aku
udah ketemu kok sama Eza. Sekarang aku lagi di rumah nininya tadi habis main
air di pantai. Owh.. Apa? Mama telepon? Terus ngomong apa aja tan? Owh, iya iya
siiip beress... Bye tante,” Eca mengoceh dengan tante via telepon. Beberepa
menit kemudian Eza keluar dengan bau shampo yang masih melekat. Hmm...haruum...
“Udah mandi gih cepetan,” katanya.
“Aku ntar pake baju apa Za? Aku khan
nggak bawa baju,” kata Eca sambil menangkap handuk yang dilempar Eza.
“Pake aja kaosku,” jawab Eza. Lalu
Eca pun segera mandi. Selesai mandi, inilah saatnya makan......
“Allaahumma baarik lanaa fiimaa
rozaqtanaa waqinaa ‘adzaaban naar...” ujar Eza. “Nah sayur asem, bersiaplah masuk
perutku!!”
Kedua anak manusia itu makan dengan
lahap. Bahkan Eca sampai nambah, Eza geleng-geleng. Nih cewek laper apa doyan??
pikirnya. Mereka sempat rebutan ikan asin, Eca yang mulai. Pertama Eza udah
ngambil ikan asin yang paling cakep dan menaruhnya berjejer dengan nasi di
piringnya. Tapi Eca usil, diam-diam ia mengambil ikan Eza dan mereka pun pada
ngerebutin ikan asin itu.
“Dah punya pacar Ca?” tanya Eza
tiba-tiba. Eca kaget juga kok Eza tau-tau nanyain itu.
“Gak,” jawab Eca singkat.
“Owh,” jawab Eza. “Tapi banyak yang
ngantri pasti,”
“Nggak penting Za. Usia kita tuh
belum pantes buat pacaran. Naksir-naksiran sih boleh aja. Tapi kalo pacaran,
ntar dulu deh. Lagian kamu kesambet apa Za kok tau-tau ngomongin itu?”
“Nggak tau. Tau-tau nyeletuk aja,”
“Oowh pasti kamu udah punya pacar
ya??” goda Eca.
“Ngaco kamu,” jawab Eza. “Udah ah,
ayo piringnya diberesin. Cepetan dibawa masuk.”
Setelah kenyang makan, Eca pulang ke
rumah tante Lili.
“Ehm..ehm...” goda tante begitu ia
masuk.
“Iih tante, apaan sich,” kata Eca
ngambek.
“Senengnya ya? Abis jalan-jalan ke pantai,
makan bareng di sawah. Co cweeeeet...” kata Tante Lili. Muka Eca memerah,
dengan manyun dia pergi meninggalkan tantenya. Sampai kamar ia langsung
merebahkan tubuhnya di ranjang. Tiba-tiba terdengar bunyi sms.
Tar malem muter2 yuk nyari oleh2?! Besok qw dah pulang km
juga sm khan? Qw jemput di humz’a tante Lili...
Sender: Eza
Ok! Qw tunggu.. ^_^
Send to: Eza
No comments:
Post a Comment