Peristiwa ini aku alami ketika sedang
libur lebaran. Aku diajak temanku main ke luar kota bersama keluarganya naik
sepeda motor. Karena saat itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA aku belum
boleh bersepeda motor jauh-jauh, aku pun berbohong kepada orang tuaku. Aku
hanya pamit main ke rumah teman, seperti biasa.
Sesampainya di sana, aku diajak
silaturahmi ke rumah saudara temanku. Selesai bertamu, ketika hendak pulang aku
dikejutkan oleh saudara temanku yang memberi kami sejumlah uang. Aku heran,
kenapa aku juga diberi padahal dia tidak mengenalku. Dan dia memberikan uang
secara cuma-cuma. Yang membuatku tambah heran, uang yang diberikan lumayan
besar untuk ukuran anak SMA sepertiku. Aku pun tak ambil pusing. Uang itu aku
masukkan ke dalam saku belakang celana.
Beberapa menit setelah kita berlalu,
papanya temanku berkata bahwa orang yang memberi uang tadi adalah bandar togel
dan uang yang diberikan padaku itu juga uang togel. Aku tersentak kaget.
Astagfirullah! Ini uang haram, batinku. Aku pun gelisah.
Di perjalanan pulang, posisiku
dibonceng temanku. Aku mendengar pengendara di belakangku berkata bahwa ada
barangku yang terjatuh. Aku mengira itu sisir yang aku selipkan di kantong
ransel, tapi setelah dicek sisirnya masih ada. Aku pun bingung, tapi aku tak
terlalu memikirkannya.
Sampai di rumah, aku merogoh saku
celana ingin mengambil uang pemberian saudara temanku. Tetapi uang itu tidak
ada di tempat aku meletakannya. Aku pun mencarinya di semua saku celana jinsku,
tetapi tetap tidak ada. Aku pun teringat pada orang yang tadi di jalan
mengingatkan bahwa ada barangku yang terjatuh. Mungkin uang itulah barangnya.
Tapi setelah aku pikir-pikir uang
itu lebih baik hilang, dari pada nanti malah aku gunakan. Aku sangat lega. Aku
sangat bersyukur atas besarnya kasih sayang Allah kepadaku. Allah telah
menjagaku dari berbuat dosa.
Hal ini menyadarkanku atas kesalahan
yang aku lakukan beberapa bulan terakhir. Aku jarang shalat, tidak pernah
mengaji, bahkan ketika Ramadhan tiba aku hanya puasa seenaknya. Bukannya
gembira menyambut Ramadhan, aku malah uring-uringan dan terus menggerutu karena
puasa. Lalu ketika waktunya shalat tarawih aku pergi keluar bersama teman-teman.
Nongkrong dan main sampai larut malam.
Bukan hanya lalai beribadah, aku
juga malas membantu orang tuaku. Aku jarang di rumah. Setiap hati main. Pergi
bersama teman-teman. Dari pagi hingga sore. Lalu sehabis Magrib hingga larut
malam. Alhamdulillah, Allah sangatlah baik telah mengingatkanku dengan cara
yang tak akan aku lupakan. Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari
pengalamanku ini. Amin.
No comments:
Post a Comment