Categories

December 6, 2011

TEGURAN LEWAT UANG HARAM


            Peristiwa ini aku alami ketika sedang libur lebaran. Aku diajak temanku main ke luar kota bersama keluarganya naik sepeda motor. Karena saat itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SMA aku belum boleh bersepeda motor jauh-jauh, aku pun berbohong kepada orang tuaku. Aku hanya pamit main ke rumah teman, seperti biasa.
            Sesampainya di sana, aku diajak silaturahmi ke rumah saudara temanku. Selesai bertamu, ketika hendak pulang aku dikejutkan oleh saudara temanku yang memberi kami sejumlah uang. Aku heran, kenapa aku juga diberi padahal dia tidak mengenalku. Dan dia memberikan uang secara cuma-cuma. Yang membuatku tambah heran, uang yang diberikan lumayan besar untuk ukuran anak SMA sepertiku. Aku pun tak ambil pusing. Uang itu aku masukkan ke dalam saku belakang celana.
            Beberapa menit setelah kita berlalu, papanya temanku berkata bahwa orang yang memberi uang tadi adalah bandar togel dan uang yang diberikan padaku itu juga uang togel. Aku tersentak kaget. Astagfirullah! Ini uang haram, batinku. Aku pun gelisah.
            Di perjalanan pulang, posisiku dibonceng temanku. Aku mendengar pengendara di belakangku berkata bahwa ada barangku yang terjatuh. Aku mengira itu sisir yang aku selipkan di kantong ransel, tapi setelah dicek sisirnya masih ada. Aku pun bingung, tapi aku tak terlalu memikirkannya.
            Sampai di rumah, aku merogoh saku celana ingin mengambil uang pemberian saudara temanku. Tetapi uang itu tidak ada di tempat aku meletakannya. Aku pun mencarinya di semua saku celana jinsku, tetapi tetap tidak ada. Aku pun teringat pada orang yang tadi di jalan mengingatkan bahwa ada barangku yang terjatuh. Mungkin uang itulah barangnya.
            Tapi setelah aku pikir-pikir uang itu lebih baik hilang, dari pada nanti malah aku gunakan. Aku sangat lega. Aku sangat bersyukur atas besarnya kasih sayang Allah kepadaku. Allah telah menjagaku dari berbuat dosa.
            Hal ini menyadarkanku atas kesalahan yang aku lakukan beberapa bulan terakhir. Aku jarang shalat, tidak pernah mengaji, bahkan ketika Ramadhan tiba aku hanya puasa seenaknya. Bukannya gembira menyambut Ramadhan, aku malah uring-uringan dan terus menggerutu karena puasa. Lalu ketika waktunya shalat tarawih aku pergi keluar bersama teman-teman. Nongkrong dan main sampai larut malam.
            Bukan hanya lalai beribadah, aku juga malas membantu orang tuaku. Aku jarang di rumah. Setiap hati main. Pergi bersama teman-teman. Dari pagi hingga sore. Lalu sehabis Magrib hingga larut malam. Alhamdulillah, Allah sangatlah baik telah mengingatkanku dengan cara yang tak akan aku lupakan. Semoga pembaca dapat mengambil hikmah dari pengalamanku ini. Amin.

No comments:

Post a Comment