Categories

December 6, 2011

SPEEDY LEM DOUBLE E part I




Pagi itu sepasang anak berseragam putih merah dengan santainya mengayuh sepeda di jalanan yang basah karena semalaman diguyur hujan. Double E, Eca dan Eza. Eca seorang gadis belia yang ramah, bawel, dan agak judes tapi sebenarnya anak yang baik. Sementara Eza anak laki-laki yang pendiam, cuek, dan pastinya baik banget dong. Mereka sudah berteman dari kecil. Dari belum sekolah sampai sekolah bareng, sekelas, bahkan sebangku.
            “Dari tadi kok diam? Tumben, apa tadi pagi matahari terbitnya di barat ya?” Eza membuka pembicaraan karena Eca yang biasanya cerewet jadi diam seribu bahasa.
            “Rahangku pada sakit kalo buat ngomong. Semalam aku habis makan keripik pisang,” jawab Eca sambil memperhatikan seorang polisi yang membantu anak-anak menyeberang jalan.
            “Huh, kirain,” sahut Eza dengan cuek. “Payah banget baru aja makan keripik pisang gimana kalau makan kerikil.”
            “Asal kamu tahu aku tuh makannya setoples besar. Kamu tahu khan toples tempat opak? Nah kira-kira segitu tuh besarnya,” kata Eca.
            “What?! Kamu kesurupan setan mana Ca?” dengan tampang bloon tak ketinggalan mulut menganga Eza melotot ke arah Eca. Mukanya waktu itu lucu banget mungkin kalo Eca nengok dia bakal ketawa ngakak. Tapi sayang pagi itu dia jutek banget karena rahangnya yang nyeri.
            Setelah memarkir sepedanya mereka berjalan beriringan menuju kelas. Di bangku Eca membuka dan menutup mulutnya berkali-kali kemudian memencong-mencongkannya ke kiri dan ke kanan. Satu dua satu dua persis SKJ. Rupanya dia sedang melemaskan otot-otot rahangnya yang kaku. Lima menit kemudian bel masuk berbunyi. Eca menghentikan senamnya.
            “Akhirnya mulutku normal kembali. Nggak sia-sia senam mulutku ini,” gumamnya.
            Pelajaran matematika berlangsung dengan lancar. Semua murid memperhatikan penjelasan Bu Tika dengan sungguh-sungguh. Tugas yang diberikan Bu Tika pun terselesaikan dengan baik. Sebelum meninggalkan kelas Bu Tika tidak lupa memberi hadiah berupa PR 10 nomer. Pelajaran berikutnya IPA. Eza sangat bersemangat mengikuti pelajaran Pak Panji. Eca tersenyum melihatnya, ia tahu Eza sangat menyukai pelajaran IPA. Eza memang sangat mencintai makhluk hidup. Saking cintanya ia pernah membiarkan nyamuk menghisap darah di tangannya sampai lama sekali. Eca pun tersenyum saat mengingatnya.
            “Nyamuk juga makhluk hidup, Ca. Dia juga butuh makan sama seperti kita jadi apa salahnya kalo dia minta darah kita setetes aja. Kita khan masih punya darah banyak dan kita nggak bakal mati kehabisan darah karena digigit seekor nyamuk.”
            Matahari mungkin kelebihan energi karena siang itu ia bersemangat sekali menyinari bumi. Jalanan yang tadinya sepi tahu-tahu sudah dipenuhi barisan anak sekolahan yang pada pulang.
            “Duh, panas banget sih. Matahari, kamu kok jahat banget kita tuh di sekolah tadi udah cukup pusingnya tanpa kamu tambahin dengan sinar kamu yang menyengat ini. Kalau kayak gini mah aku pilih hujan aja khan enak dingin. Hihi..” kata Eca yang bawelnya is back.
            “Ntar siang makan di sawah yuk. Aku udah pesen biar nini masakin sayur asem plus ikan asin plus sambal terasinya,” ajak Eza tanpa mempedulikan omelan Eca.
            “Wow!! Enak banget tuh siang-siang gini makan di sawah terus minum es buah. Mmmm, lezat. Aku jadi pingin cepat sampai rumah terus ganti baju terus berangkat. Ayo Za kita balapan sampai di rumah,” kata Eca sembari menambah kecepatan sepedanya, semakin cepat dan akhirnya meninggalkan Eza.
            “Balapan aja sendiri sana. Panas-panas bagini mau aja buang-buang tenaga,” kata Eza sambil meringis memperhatikan Eca yang semakin jauh dari pandangannya.
            Sesuai rencana, kini mereka sedang makan di gubuk yang terletak di tengah sawah kepunyaan nininya Eza. Duh, jadi ngiler. Setelah kenyang makan mereka pulang dengan  mengendarai sepedanya masing-masing. Sesampainya di rumah mereka langsung tidur pulas karena kekenyangan. Bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, bangun, tidur lagi. Lho kok malah nyanyi lagunya Mbah Surip sih? Oke kembali ke laptop. Bangun tidur mereka berencana main-main di pantai.
            “Buat apa Za bawa kamera?” tanya Eca yang melihat Eza memasukkan kamera ke dalam tas pinggangnya.
            “Buat narsis,” jawab Eza singkat sambil menaiki sepedanya.
            “Wah, tumben banget. Tapi nggak apa-apa kok. Aku khan orangnya narsis, seneng banget kalo ada kamera, oh ya nanti foto aku yang banyak ya. Terus kamu juga jangan diam aja kamu tuh harus narsis juga,” kata Eca dengan mata berbinar-binar.
            “Udah ayo cabut. Bawel amat sih,” sahut Eza cuek. Mereka akhirnya berangkat juga. Sore itu matahari bersahabat banget, dan awan pun tidak berbuat usil dengan menutupi cerahnya sang langit. Jalanan cukup ramai sehingga Eca dan Eza harus berhati-hati mengendarai sepedanya. Tapi kemudian mereka membelok ke kiri. Jalan menuju pantai lumayan sepi, hanya ada satu dua kendaraan bermotor yang lewat.
            Sesampainya di pantai, mereka memarkir sepedanya di tempat yang aman dan nyaman tak lupa mereka menguncinya. Mereka sangat menyayangi sepeda mereka. Eca pun tersenyum-senyum memandangi sepedanya.
            “Sepeda kamu udah berapa tahun Za?” tanya Eca.
            “Sepeda kita khan umurnya sama Ca, paling cuma selisih beberapa jam aja. Dulu waktu aku dapat rangking satu, aku dibeliin sepeda. Pas sepeda ini aku bawa pulang, kamu ngelihat dan akhirnya kamu ngerengek-rengek minta dibeliin sepeda juga sama orang tua kamu. Hahahahaha.....” Eza ketawa terbahak-bahak. Sementara yang diketawain langsung manyun.
            “Loh kok malah manyun? Kita ke sini niatnya khan mau main. Ayo! Tuh lihat ombaknya bagus banget, duh anginnya nggelitik kupingku jadi geli” kata Eza sembari melangkah pergi menjauh dari Eca yang masih mematung di tempatnya. Eca memperhatikan sahabatnya yang semakin jauh melangkah.
            “Dari jarak sejauh ini Eza kelihatan keren, itu pun dari belakang.” gumamnya. Tak sampai lima menit Eca sudah ada di samping Eza. Cepet banget ya larinya. Mereka pun melakukan permainan khas pantai. Buat istana pasir, main air, kejar-kejaran, sampai dekil dan basah kuyup. Semua moment itu diabadikan dengan kamera yang dibawa Eza tadi.
            “Ntar malem kita cetak ya,” kata si empunya kamera.
            “Za, tadi aku mimpi aneh. Masa aku mimpi kamu tuh pergi jauuuh banget. Kamu ninggalin aku Za. Padahal dalam mimpi aku itu kita lagi makan bakso dan gara-gara kamu pergi jadinya aku deh yang bayar,” kata Eca.
            Eza yang dari tadi mengaduk-aduk pasir pun menghentikan kegiatannya. “Mimpi kamu bakal jadi kenyataan,”
            “Ogah ah masa aku harus bayarin kamu makan. Khan aku udah sering, gantian kamu dong,” sahut Eca.
            “Maksud aku bukan itu Ca. Maksudku aku dan keluargaku bakal pindah rumah, katanya kita bakal pindah ke tempat yang jauuuh banget dari sini. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat, jadi mungkin ini terakhir kita main makanya aku tadi bawa kamera,” jelas Eza.
            “Kamu kok baru ngomong sekarang sih Za? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin?” Eca keget, matanya berkaca-kaca.
            “Aku tahu kamu pasti sedih kalo denger ini, makanya aku baru ngomong sekarang. Tapi tenang aja Ca kita masih bisa telpon-telponan khan? Aku juga bakal sering-sering ke sini kok jenguk nini. Aku janji Eca,” kata Eza sambil mengacungkan kelingkingnya. Eca pun ikut mengacungkan kelingkingnya. Kelingking mereka pun saling mengikat.

No comments:

Post a Comment