Pagi
itu sepasang anak berseragam putih merah dengan santainya mengayuh sepeda di
jalanan yang basah karena semalaman diguyur hujan. Double E, Eca dan Eza. Eca seorang gadis belia yang ramah, bawel,
dan agak judes tapi sebenarnya anak yang baik. Sementara Eza anak laki-laki
yang pendiam, cuek, dan pastinya baik banget dong. Mereka sudah berteman dari
kecil. Dari belum sekolah sampai sekolah bareng, sekelas, bahkan sebangku.
“Dari tadi kok diam? Tumben, apa
tadi pagi matahari terbitnya di barat ya?” Eza membuka pembicaraan karena Eca
yang biasanya cerewet jadi diam seribu bahasa.
“Rahangku pada sakit kalo buat
ngomong. Semalam aku habis makan keripik pisang,” jawab Eca sambil
memperhatikan seorang polisi yang membantu anak-anak menyeberang jalan.
“Huh, kirain,” sahut Eza dengan
cuek. “Payah banget baru aja makan keripik pisang gimana kalau makan kerikil.”
“Asal kamu tahu aku tuh makannya
setoples besar. Kamu tahu khan toples tempat opak? Nah kira-kira segitu tuh
besarnya,” kata Eca.
“What?! Kamu kesurupan setan mana
Ca?” dengan tampang bloon tak ketinggalan mulut menganga Eza melotot ke arah
Eca. Mukanya waktu itu lucu banget mungkin kalo Eca nengok dia bakal ketawa
ngakak. Tapi sayang pagi itu dia jutek banget karena rahangnya yang nyeri.
Setelah memarkir sepedanya mereka
berjalan beriringan menuju kelas. Di bangku Eca membuka dan menutup mulutnya
berkali-kali kemudian memencong-mencongkannya ke kiri dan ke kanan. Satu dua
satu dua persis SKJ. Rupanya dia sedang melemaskan otot-otot rahangnya yang
kaku. Lima menit kemudian bel masuk berbunyi. Eca menghentikan senamnya.
“Akhirnya mulutku normal kembali.
Nggak sia-sia senam mulutku ini,” gumamnya.
Pelajaran matematika berlangsung
dengan lancar. Semua murid memperhatikan penjelasan Bu Tika dengan
sungguh-sungguh. Tugas yang diberikan Bu Tika pun terselesaikan dengan baik.
Sebelum meninggalkan kelas Bu Tika tidak lupa memberi hadiah berupa PR 10 nomer.
Pelajaran berikutnya IPA. Eza sangat bersemangat mengikuti pelajaran Pak Panji.
Eca tersenyum melihatnya, ia tahu Eza sangat menyukai pelajaran IPA. Eza memang
sangat mencintai makhluk hidup. Saking cintanya ia pernah membiarkan nyamuk
menghisap darah di tangannya sampai lama sekali. Eca pun tersenyum saat
mengingatnya.
“Nyamuk juga makhluk hidup, Ca. Dia
juga butuh makan sama seperti kita jadi apa salahnya kalo dia minta darah kita
setetes aja. Kita khan masih punya darah banyak dan kita nggak bakal mati
kehabisan darah karena digigit seekor nyamuk.”
Matahari mungkin kelebihan energi
karena siang itu ia bersemangat sekali menyinari bumi. Jalanan yang tadinya
sepi tahu-tahu sudah dipenuhi barisan anak sekolahan yang pada pulang.
“Duh, panas banget sih. Matahari,
kamu kok jahat banget kita tuh di sekolah tadi udah cukup pusingnya tanpa kamu
tambahin dengan sinar kamu yang menyengat ini. Kalau kayak gini mah aku pilih hujan aja khan enak
dingin. Hihi..” kata Eca yang bawelnya is back.
“Ntar siang makan di sawah yuk. Aku
udah pesen biar nini masakin sayur asem plus ikan asin plus sambal terasinya,”
ajak Eza tanpa mempedulikan omelan Eca.
“Wow!! Enak banget tuh siang-siang
gini makan di sawah terus minum es buah. Mmmm, lezat. Aku jadi pingin cepat
sampai rumah terus ganti baju terus berangkat. Ayo Za kita balapan sampai di
rumah,” kata Eca sembari menambah kecepatan sepedanya, semakin cepat dan
akhirnya meninggalkan Eza.
“Balapan aja sendiri sana.
Panas-panas bagini mau aja buang-buang tenaga,” kata Eza sambil meringis
memperhatikan Eca yang semakin jauh dari pandangannya.
Sesuai rencana, kini mereka sedang
makan di gubuk yang terletak di tengah sawah kepunyaan nininya Eza. Duh, jadi
ngiler. Setelah kenyang makan mereka pulang dengan mengendarai sepedanya masing-masing.
Sesampainya di rumah mereka langsung tidur pulas karena kekenyangan. Bangun
tidur, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi, bangun, tidur lagi. Lho kok malah
nyanyi lagunya Mbah Surip sih? Oke kembali ke laptop. Bangun tidur mereka
berencana main-main di pantai.
“Buat apa Za bawa kamera?” tanya Eca
yang melihat Eza memasukkan kamera ke dalam tas pinggangnya.
“Buat narsis,” jawab Eza singkat
sambil menaiki sepedanya.
“Wah, tumben banget. Tapi nggak
apa-apa kok. Aku khan orangnya narsis, seneng banget kalo ada kamera, oh ya
nanti foto aku yang banyak ya. Terus kamu juga jangan diam aja kamu tuh harus
narsis juga,” kata Eca dengan mata berbinar-binar.
“Udah ayo cabut. Bawel amat sih,”
sahut Eza cuek. Mereka akhirnya berangkat juga. Sore itu matahari bersahabat
banget, dan awan pun tidak berbuat usil dengan menutupi cerahnya sang langit.
Jalanan cukup ramai sehingga Eca dan Eza harus berhati-hati mengendarai
sepedanya. Tapi kemudian mereka membelok ke kiri. Jalan menuju pantai lumayan
sepi, hanya ada satu dua kendaraan bermotor yang lewat.
Sesampainya di pantai, mereka
memarkir sepedanya di tempat yang aman dan nyaman tak lupa mereka menguncinya.
Mereka sangat menyayangi sepeda mereka. Eca pun tersenyum-senyum memandangi
sepedanya.
“Sepeda kamu udah berapa tahun Za?”
tanya Eca.
“Sepeda kita khan umurnya sama Ca,
paling cuma selisih beberapa jam aja. Dulu waktu aku dapat rangking satu, aku
dibeliin sepeda. Pas sepeda ini aku bawa pulang, kamu ngelihat dan akhirnya
kamu ngerengek-rengek minta dibeliin sepeda juga sama orang tua kamu. Hahahahaha.....”
Eza ketawa terbahak-bahak. Sementara yang diketawain langsung manyun.
“Loh kok malah manyun? Kita ke sini
niatnya khan mau main. Ayo! Tuh lihat ombaknya bagus banget, duh anginnya
nggelitik kupingku jadi geli” kata Eza sembari melangkah pergi menjauh dari Eca
yang masih mematung di tempatnya. Eca memperhatikan sahabatnya yang semakin
jauh melangkah.
“Dari jarak sejauh ini Eza kelihatan
keren, itu pun dari belakang.” gumamnya. Tak sampai lima menit Eca sudah ada di
samping Eza. Cepet banget ya larinya. Mereka pun melakukan permainan khas
pantai. Buat istana pasir, main air, kejar-kejaran, sampai dekil dan basah
kuyup. Semua moment itu diabadikan dengan kamera yang dibawa Eza tadi.
“Ntar malem kita cetak ya,” kata si
empunya kamera.
“Za, tadi aku mimpi aneh. Masa aku
mimpi kamu tuh pergi jauuuh banget. Kamu ninggalin aku Za. Padahal dalam mimpi
aku itu kita lagi makan bakso dan gara-gara kamu pergi jadinya aku deh yang
bayar,” kata Eca.
Eza yang dari tadi mengaduk-aduk
pasir pun menghentikan kegiatannya. “Mimpi kamu bakal jadi kenyataan,”
“Ogah ah masa aku harus bayarin kamu
makan. Khan aku udah sering, gantian kamu dong,” sahut Eca.
“Maksud aku bukan itu Ca. Maksudku
aku dan keluargaku bakal pindah rumah, katanya kita bakal pindah ke tempat yang
jauuuh banget dari sini. Besok pagi-pagi sekali kita berangkat, jadi mungkin
ini terakhir kita main makanya aku tadi bawa kamera,” jelas Eza.
“Kamu kok baru ngomong sekarang sih
Za? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin?” Eca keget, matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu pasti sedih kalo
denger ini, makanya aku baru ngomong sekarang. Tapi tenang aja Ca kita masih
bisa telpon-telponan khan? Aku juga bakal sering-sering ke sini kok jenguk
nini. Aku janji Eca,” kata Eza sambil mengacungkan kelingkingnya. Eca pun ikut
mengacungkan kelingkingnya. Kelingking mereka pun saling mengikat.
No comments:
Post a Comment