Saudara-saudara
saya beritahukan bahwa tadi itu Shelly cuma berbohong. Sekali lagi BERBOHONG.
Buktinya sampai di atas dia malah ngobrak-abrik kamarnya Eza, dia pingin tahu
tentang Eca. Mujur, di kasur album Eza & Eca masih terbuka, di album itu
juga ada biodata masing-masing. Dari nama lengkap, TTL, alamat lengkap, sampe
makanan favorit pun juga ada.
Shelly juga sempet bongkarin chatingan mereka. Dan Eza emang oon dia pergi tanpa bawa HP. Jadilah HP-nya diutak-atik Shelly. Setelah dirasa cukup, Shelly meraih buku Pintar Fisika yang tergeletak di meja belajar.
“Bukunya ketemu Shel?” tanya mamanya Eza
“Iya tante, ini dia. Ya udah Shelly pamit pulang dulu udah jam segini, maaf Shelly udah ngerepotin tante, makasih ya tante,” kata Selly.
“Ah nggak apa-apa kok tante nggak ngerasa direpotin lagi,” ujar Mama.
“Kalo gitu Shelly permisi dulu tante, mari..” kata Shelly dengan manisnya.
Pukul 10 kurang 15 menit Eza pulang. Setelah berbasa-basi dengan papa mamanya ia segera naik ke kamar. Segera ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia tidak tahu kalau kamarnya habis diberantakin, karena Shelly telah merapikannya kembali dengan baik. Sambil berbaring tangannya menggapai HP di meja dekat tempat tidur.
“Busyet! Nih anak judesnya kumat lagi, mendingan ambil jarak langsung deh,” ujar Eza. Beberapa detik kemudian matanya terpejam dan ia mulai melayang dalam mimpinya.
Pukul 00.00 handphone Eca berdering, dengan malas ia meraihnya. “Duh, siapa sich rese amat! Orang lagi enak-enak tidur, mana udah dapet pewe lagi!” gumamnya. Pada layar tertulis privat number, ia langsung menekan tombol hijau. “Haloooo....” dan klik! Telepon dimatikan. Kejadian itu berulang terus hingga pagi.
Insiden tadi malam membuat Eca bete sepanjang hari. Ditambah ibu yang dengan cuek bebek menyuruh-nyuruh dirinya. Sementara Shelly menari-nari kegirangan, karena berhasil ngerjain Eca.
Rupanya Shelly benar-benar tidak memiliki pekerjaan selain terus mengganggu Eca dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya semalam. Dasar kereaktif!
“Ihh! Siapa sih nih! Ganggu banget! Mana nomernya dirahasiain udah gitu cumi lagi. Dasar pengecut!” cetus Eca. Ia langsung mematikan HP-nya.
“Sial!” umpat Shelly di rumahnya. “Gimana nih caranya biar aku bisa neror dia??” tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya. “Oh ya dia khan tiap malem online. Nah Eca siap-siap aja ntar malem aku temenin chating,”
Siang itu Shelly berniat mengembalikan buku Eza yang tidak bermaksud ia pinjam tempo hari. Tok,tok,tok... pintu rumah Eza diketuk, tapi tak ada yang membukakan pintu. Ia tahu jam segitu papa mama Eza belum pulang kerja dan Eza sendiri paling-paling lagi kongkow sama temen-temennya. Sebenarnya ada mbak Yayuk, pembantu Eza. Tapi mbak Yayuk pasti lagi ngerumpi sama para PRT lainnya. Dan memang dewi fortuna selalu menyertainya, pintu tidak dikunci. Segera ia masuk dan naik ke kamar Eza. Laptop dibukanya dan diutak-atiknya biar eror. “Berhasil!” ujarnya tersenyum simpul.
Pukul 21.00 Eza berniat chating tapi laptopnya eror, akhirnya mereka telepon-teleponan doang. Eca yang sudah terlanjur online malas mematikan komputernya. Shelly pun beraksi..
Dear Eca,
Eca sedih banget, ia nggak nyangka Eza bakal setega itu. Eza ngelakuin itu hanya gara-gara ‘pacar’nya jealous sama kedekatan mereka. Padahal komunikasi mereka baruuu aja lancar setelah LIMA TAHUN putus. Sejak itu dia nggak pernah berhubungan lagi sama Eza. Nggak pernah telepon, sms, maupun chating. Eza yang nggak tahu apa-apa bingung. Sementara Shelly senang sekali bagitu tahu Eza udah putus contact sama Eca.
“Nih si Eca kenapa sih?? Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat, nggak pernah online lagi,” gumamnya suatu hari. Tapi Eza bukan tipikal orang yang gampang putus asa. Dia terus coba telepon Eca sampai Eca mengangkatnya...
“Halo, Ca?? Kamu ngapa sih? Gak pernah telepon, sms, chating. Ngapa sih? Ngambek kamu?” tanya Eza.
“Lho???! Bukannya ini keinginan kamu sendiri?! Pertama pacar kamu itu ngelarang-ngelarang aku biar ngejauhin kamu. Terus kamu ngirim surat yang isinya nyuruh aku buat mutusin contact kita,” kata Eca dengan nada tinggi.
"Aku nggak punya pacar dan aku nggak...”
“Udah ah! Sorry Za aku sibuk, mending kamu urusin aja tuh pacar kamu,” ujar Eca memotong pembicaraan sekaligus mengakhirinya.
Pacar?? Surat?? Siapa ya yang ngelakuin ini semua? Perasaan aku nggak pernah yang namanya punya pacar, dan aku juga nggak pernah ngirim surat ke Eca. Eca juga tahu aku bukan cowok kuno. Pasti ada yang sengaja pingin ngerusak persahabatan aku sama Eca. Tapi siapa?? Siapa yang berbuat setega ini? Siapa?? Siapa??
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Eza hingga membuatnya pusing tujuh keliling. Ia pun menuju lemari bukunya mencari-cari albumnya dengan Eca. Ketemu! Dibawanya album itu duduk bersamanya di atas ranjang yang nyaman. Lembar demi lembar dibukanya. Sampai pada lembar yang kesekian ada sebuah jepit rambut mungil terselip di dalamnya.
“Punya siapa nih? Perasaan aku nggak pernah ngajak cewek main ke kamar aku. Tapi.....aku khan punya tetangga songong yang kali aja masuk ke sini tanpa seijin aku lagi. Dasar Shelly Lampir,” ujarnya sambil menatap rumah di sebarang jalan. Dari kamarnya terlihat seorang cewek cantik sedang menyirami bunga sambil bersenandung riang. “Kapan ya dia masuk kamarku? Oh ya waktu aku baru pulang mudik. Waktu itu dia emang masuk ke sini tapi album ini khan belom dicetak. Pasti baru-baru ini,”
Pas Eza lagi hangout bareng teman-temannya dia ketemu tukang sulap yang sedang mempertunjukkan kemampuannya. Setelah orang-orang bubar, iseng ia menghampiri tukang sulap tersebut.
“Bang, abang pinter maen sulap kan?” tanyanya.
“Yo’i bro. Ada apa? Mau belajar?” tukang sulap itu balas bertanya.
“Kagak. Biasanya kalo pinter sulap pasti bisa hipnotis orang kan?” sambung Eza.
“Bisa. Loe mau gue hipnotis?” kata tukang sulap.
“Bukan gue bang. Tapi temen gue,” timpal Eza sambil melihat-lihat peralatan sulap.
“Temen loe? Emang dia kenapa?” ujar si abang tukang sulap. Abang tukang sulap, abang tukang sulap, mari mari sini, mari mari sini, saya mau beli.... Eh itu mah tukang bakso ya bukan tukang sulap.
“Gue mau dia ngakuin perbuatannya aja, sekalian ngerjain gitu,” kata Eza seraya memainkan tongkat sulap seperti memainkan stick drum.
“Oh, ya udah besok loe bawa aja temen loe itu kemari,” ujar tukang sulap yang ternyata punya nama Bonny itu. Eza tahu setelah ngelihat KTP-nya yang barusan jatuh. “Tapi ada tipnya khan bos?”
“Beress!” kata Eza menutup pembicaraan.
Shelly juga sempet bongkarin chatingan mereka. Dan Eza emang oon dia pergi tanpa bawa HP. Jadilah HP-nya diutak-atik Shelly. Setelah dirasa cukup, Shelly meraih buku Pintar Fisika yang tergeletak di meja belajar.
“Bukunya ketemu Shel?” tanya mamanya Eza
“Iya tante, ini dia. Ya udah Shelly pamit pulang dulu udah jam segini, maaf Shelly udah ngerepotin tante, makasih ya tante,” kata Selly.
“Ah nggak apa-apa kok tante nggak ngerasa direpotin lagi,” ujar Mama.
“Kalo gitu Shelly permisi dulu tante, mari..” kata Shelly dengan manisnya.
Pukul 10 kurang 15 menit Eza pulang. Setelah berbasa-basi dengan papa mamanya ia segera naik ke kamar. Segera ia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Ia tidak tahu kalau kamarnya habis diberantakin, karena Shelly telah merapikannya kembali dengan baik. Sambil berbaring tangannya menggapai HP di meja dekat tempat tidur.
Malem ca! udeh molor belon?
Send to: Eca
Udah!
Sender: Eca
Qw ganggu ya??
Send to: Eca
Bwangeed!!!
Sender: Eca
“Busyet! Nih anak judesnya kumat lagi, mendingan ambil jarak langsung deh,” ujar Eza. Beberapa detik kemudian matanya terpejam dan ia mulai melayang dalam mimpinya.
Pukul 00.00 handphone Eca berdering, dengan malas ia meraihnya. “Duh, siapa sich rese amat! Orang lagi enak-enak tidur, mana udah dapet pewe lagi!” gumamnya. Pada layar tertulis privat number, ia langsung menekan tombol hijau. “Haloooo....” dan klik! Telepon dimatikan. Kejadian itu berulang terus hingga pagi.
Insiden tadi malam membuat Eca bete sepanjang hari. Ditambah ibu yang dengan cuek bebek menyuruh-nyuruh dirinya. Sementara Shelly menari-nari kegirangan, karena berhasil ngerjain Eca.
Rupanya Shelly benar-benar tidak memiliki pekerjaan selain terus mengganggu Eca dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya semalam. Dasar kereaktif!
“Ihh! Siapa sih nih! Ganggu banget! Mana nomernya dirahasiain udah gitu cumi lagi. Dasar pengecut!” cetus Eca. Ia langsung mematikan HP-nya.
“Sial!” umpat Shelly di rumahnya. “Gimana nih caranya biar aku bisa neror dia??” tanyanya pada diri sendiri.
Tiba-tiba ia menjentikkan jarinya. “Oh ya dia khan tiap malem online. Nah Eca siap-siap aja ntar malem aku temenin chating,”
Siang itu Shelly berniat mengembalikan buku Eza yang tidak bermaksud ia pinjam tempo hari. Tok,tok,tok... pintu rumah Eza diketuk, tapi tak ada yang membukakan pintu. Ia tahu jam segitu papa mama Eza belum pulang kerja dan Eza sendiri paling-paling lagi kongkow sama temen-temennya. Sebenarnya ada mbak Yayuk, pembantu Eza. Tapi mbak Yayuk pasti lagi ngerumpi sama para PRT lainnya. Dan memang dewi fortuna selalu menyertainya, pintu tidak dikunci. Segera ia masuk dan naik ke kamar Eza. Laptop dibukanya dan diutak-atiknya biar eror. “Berhasil!” ujarnya tersenyum simpul.
Pukul 21.00 Eza berniat chating tapi laptopnya eror, akhirnya mereka telepon-teleponan doang. Eca yang sudah terlanjur online malas mematikan komputernya. Shelly pun beraksi..
Cewek cantik : kamu
eca khan?
Cabe rawit :
..h0_0h..
Cewek cantik : mulai
detik ini jangan lagi berhubungan sama
Eza.
Eza.
Cabe rawit : why???
Dia cobat qw..apa hak kamu ngelarang
qw???!
qw???!
Cewek cantik : dia
punya aku.
Aku nggak suka kalo ada cewek ngedeketin dia.
Cabe rawit : emang
kamu siapanya?? Emaknya??
Cewek cantik : aku
pacarnya.
Cabe rawit : tapi
eza gak pernah cerita tuh lox dia dah pny
ce’.
ce’.
Cewek cantik : aku nggak
peduli. Sekali lagi kamu berhubungan
lagi sama Eza. AWAS!!!!
lagi sama Eza. AWAS!!!!
Cabe rawit : awas
pa’an?? awas kecebur got?? Hehe...
Cewek cantik : aku
serius.
Cabe rawit : gpp
lah,. juzt kiding aza kug... ngomong2 qw
leh Tau name u gk??????? Kali aja kita bisa
akrab... J
leh Tau name u gk??????? Kali aja kita bisa
akrab... J
Tidak ada balasan dari si cewek
cantik, rupanya dia udah offline. Beberapa hari kemudian Eca menerima surat, ia
melirik nama pengirimnya, “Eza???! Ngapain dia pake cara jadul beginian.
Ada-ada aja,” sampai di kamar surat dibukanya. Surat itu diketik dan isinya pun
cukup singkat.
Dear Eca,
Langsung aja ya karena aku nggak mau basa-basi. Emang bener
aku udah punya pacar, dan doi aku nggak suka kalo kita masih deket. Jadi mulai
sekarang kita nggak usah contact2xan lagi. Sekian suratku, makasih
udah nyempetin buat ngebacanya.
NB: gak perlu dibales.
Eza
Eca sedih banget, ia nggak nyangka Eza bakal setega itu. Eza ngelakuin itu hanya gara-gara ‘pacar’nya jealous sama kedekatan mereka. Padahal komunikasi mereka baruuu aja lancar setelah LIMA TAHUN putus. Sejak itu dia nggak pernah berhubungan lagi sama Eza. Nggak pernah telepon, sms, maupun chating. Eza yang nggak tahu apa-apa bingung. Sementara Shelly senang sekali bagitu tahu Eza udah putus contact sama Eca.
“Nih si Eca kenapa sih?? Sms nggak dibales, telepon nggak diangkat, nggak pernah online lagi,” gumamnya suatu hari. Tapi Eza bukan tipikal orang yang gampang putus asa. Dia terus coba telepon Eca sampai Eca mengangkatnya...
“Halo, Ca?? Kamu ngapa sih? Gak pernah telepon, sms, chating. Ngapa sih? Ngambek kamu?” tanya Eza.
“Lho???! Bukannya ini keinginan kamu sendiri?! Pertama pacar kamu itu ngelarang-ngelarang aku biar ngejauhin kamu. Terus kamu ngirim surat yang isinya nyuruh aku buat mutusin contact kita,” kata Eca dengan nada tinggi.
"Aku nggak punya pacar dan aku nggak...”
“Udah ah! Sorry Za aku sibuk, mending kamu urusin aja tuh pacar kamu,” ujar Eca memotong pembicaraan sekaligus mengakhirinya.
Pacar?? Surat?? Siapa ya yang ngelakuin ini semua? Perasaan aku nggak pernah yang namanya punya pacar, dan aku juga nggak pernah ngirim surat ke Eca. Eca juga tahu aku bukan cowok kuno. Pasti ada yang sengaja pingin ngerusak persahabatan aku sama Eca. Tapi siapa?? Siapa yang berbuat setega ini? Siapa?? Siapa??
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Eza hingga membuatnya pusing tujuh keliling. Ia pun menuju lemari bukunya mencari-cari albumnya dengan Eca. Ketemu! Dibawanya album itu duduk bersamanya di atas ranjang yang nyaman. Lembar demi lembar dibukanya. Sampai pada lembar yang kesekian ada sebuah jepit rambut mungil terselip di dalamnya.
“Punya siapa nih? Perasaan aku nggak pernah ngajak cewek main ke kamar aku. Tapi.....aku khan punya tetangga songong yang kali aja masuk ke sini tanpa seijin aku lagi. Dasar Shelly Lampir,” ujarnya sambil menatap rumah di sebarang jalan. Dari kamarnya terlihat seorang cewek cantik sedang menyirami bunga sambil bersenandung riang. “Kapan ya dia masuk kamarku? Oh ya waktu aku baru pulang mudik. Waktu itu dia emang masuk ke sini tapi album ini khan belom dicetak. Pasti baru-baru ini,”
Pas Eza lagi hangout bareng teman-temannya dia ketemu tukang sulap yang sedang mempertunjukkan kemampuannya. Setelah orang-orang bubar, iseng ia menghampiri tukang sulap tersebut.
“Bang, abang pinter maen sulap kan?” tanyanya.
“Yo’i bro. Ada apa? Mau belajar?” tukang sulap itu balas bertanya.
“Kagak. Biasanya kalo pinter sulap pasti bisa hipnotis orang kan?” sambung Eza.
“Bisa. Loe mau gue hipnotis?” kata tukang sulap.
“Bukan gue bang. Tapi temen gue,” timpal Eza sambil melihat-lihat peralatan sulap.
“Temen loe? Emang dia kenapa?” ujar si abang tukang sulap. Abang tukang sulap, abang tukang sulap, mari mari sini, mari mari sini, saya mau beli.... Eh itu mah tukang bakso ya bukan tukang sulap.
“Gue mau dia ngakuin perbuatannya aja, sekalian ngerjain gitu,” kata Eza seraya memainkan tongkat sulap seperti memainkan stick drum.
“Oh, ya udah besok loe bawa aja temen loe itu kemari,” ujar tukang sulap yang ternyata punya nama Bonny itu. Eza tahu setelah ngelihat KTP-nya yang barusan jatuh. “Tapi ada tipnya khan bos?”
“Beress!” kata Eza menutup pembicaraan.
No comments:
Post a Comment