“Eza?” ujarnya.
“Ah, kamu lama banget Ca. Aku nunggu
sampai ubanan nih,” Eza tersenyum.
Eca benar-benar tidak percaya dengan
apa yang sedang dilihatnya. Sahabat yang telah lama pergi ternyata adalah
temannya chating selama ini. Tak kuasa lagi ia membendung air matanya. Akhirnya
ia menangis tersedu-sedu.
“Udah ah nangisnya. Cengeng amat,”
kata Eza dengan cuek.
“Kamu tuh nggak tahu aku sedih
banget pisah sama kamu. Bertahun-tahun kita putus kontak, apa lagi waktu
baru-baru kamu pindah. Di sekolah aku duduk sendiri. Ke sekolah sendiri dan aku
gak pernah nemuin sahabat” kata Eca sambil mengelap air matanya.
“Bertahun-tahun? Baru tiga tahun,
lagian sekarang udah ketemu apa coba yang mau ditangisin. Dasar cewek pasti
kebanyakan nonton sinetron,” Eza menganggapi dengan seenaknya.
“Huh, nggak berubah juga. Tapi ada
sedikit sih yang berubah. Mm, lebih ramah, hehe...” kata Eca yang mulai senang.
“Dah makan?” tanya Eza.
“Ya belom lah,” jawab Eca singkat.
“Makan di sawah yuk nini masak sayur
asem plus ikan asin plus sambal terasi,” ajak Eza.
Eca mengangguk. “Tapi ke pantai dulu
ya,”
“Beres,” jawab Eza.
Sepasang remaja itu kemudian
mengayuh sepedanya menuju pantai. Di sana ombak, pasir dan angin sudah menunggu
kehadiran mereka. Sementara di sawah sayur asem dan kawan-kawannya juga sudah
tidak sabar untuk masuk ke dalam perut dua sahabat sejati yang perlu dicatat
dalam sejarah. Eca dan Eza biarpun jarak dan waktu memisahkan mereka tapi
mereka tetaplah sahabat yang takkan terpisah. Untung saja di ambang putusnya
tali persahabatan itu speedy masih mempersatukannya lagi. Double E bersatu
lagi!
No comments:
Post a Comment