Lingkungan memang sangat
berpengaruh akan tumbuh kembang seseorang. Lingkungan berperan penting dalam
pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Ya, faktor lingkungan emang
penting.
Hal ini aku alami dan benar-benar
aku rasakan sekarang. Aku cewek, usiaku 16 tahun. Tapi aku nggak bisa dandan. Aku
nggak bisa tampil modis kayak cewek-cewek lain. Aku nggak tau gimana caranya
mengatur baju apa yang pantas aku pakai.
Kenapa? Karena dalam keseharianku
nggak ada yang bisa aku jadikan panutan. Nggak ada yang bisa ku jadikan contoh
dalam berpenampilan. Aku tinggal dengan ibuku, adik laki-laki, dan kakekku. Ayahku
bekerja di luar kota. Dan aku tau, dia sibuk banget.
Ibuku bukan seperti ibu-ibu lain
yang pintar bersolek, modis, dan paham seluk-beluk tentang semua urusan
kecantikan. Bukan. Ibuku nggak kaya gitu. Ibuku bukan orang yang modis. Beliau jarang
pedulikan busana yang ia pakai. Pokonya buat dia tuh yang penting baju. Nggak peduli
matching enggaknya.
Hal ini berbanding terbalik
dengan ayahku yang emang dari dulu orangnya perhatian banget sama penampilan. Sama
baju, celana, sandal, rambut, pokoknya modis lah untuk ukuran bapak-bapak kepala empat. Bahkan ayahku sangat memperhatikan warna baju dan celana agar
terlihat matching.
Aku, nggak bisa ku pungkiri. Aku butuh figure
yang lengkap. Yang tidak separo-separo. Aku nggak cukup hanya dengan satu orang
alim yang nggak ngerti soal tren mode. Aku juga nggak bisa tinggal hanya dengan
orang yang fashioneble tapi nggak ngerti agama.
Saat aku habis tinggal dengan
ayahku, penampilanku mungkin akan keren dan terlihat trendi, tapi aku akan jauh
dari jalan yang lurus. Dan saat aku tinggal dengan ibuku, mungkin aku akan jadi
anak yang baik dan lurus tapi nggak tau cara berpenampilan.
Ini jadi dilema baru buatku. Sebagai
cewek, tentu aku punya naluri untuk tampil menarik. Tapi aku nggak bisa dandan
sendiri. Aku nggak bisa pinter sendiri tanpa adanya figure. Sebagai wanita, aku
pun butuh panutan seorang yang lurus. Baik itu urusan agama maupun dunia.
Tapi tidak mungkin bukan kalau
semua itu hanya setengah-setengah. Tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Yang
ada yaitu berat sebelah. Ditambah lagi aku sedari dulu hanyalah makhluk rumah
yang betah seharian di dalam ruangan. Bahkan aku pun tidak bisaa merawat diri. Lalu, semua itu diperparah dengan kota
tempatku tinggal yang terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari
gemerlap kota. Bisa dibayangkan?
Apabila aku bilang kepada salah
satu dari mereka, yang ada mereka pasti men-judge aku. Lalu posisiku tak pernah
benar. Keluargaku memang tidak broken, tapi tidak ideal.
No comments:
Post a Comment