Categories

December 13, 2011

Have No Balances



Lingkungan memang sangat berpengaruh akan tumbuh kembang seseorang. Lingkungan berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Ya, faktor lingkungan emang penting.

Hal ini aku alami dan benar-benar aku rasakan sekarang. Aku cewek, usiaku 16 tahun. Tapi aku nggak bisa dandan. Aku nggak bisa tampil modis kayak cewek-cewek lain. Aku nggak tau gimana caranya mengatur baju apa yang pantas aku pakai.

Kenapa? Karena dalam keseharianku nggak ada yang bisa aku jadikan panutan. Nggak ada yang bisa ku jadikan contoh dalam berpenampilan. Aku tinggal dengan ibuku, adik laki-laki, dan kakekku. Ayahku bekerja di luar kota. Dan aku tau, dia sibuk banget.

Ibuku bukan seperti ibu-ibu lain yang pintar bersolek, modis, dan paham seluk-beluk tentang semua urusan kecantikan. Bukan. Ibuku nggak kaya gitu. Ibuku bukan orang yang modis. Beliau jarang pedulikan busana yang ia pakai. Pokonya buat dia tuh yang penting baju. Nggak peduli matching enggaknya.

Hal ini berbanding terbalik dengan ayahku yang emang dari dulu orangnya perhatian banget sama penampilan. Sama baju, celana, sandal, rambut, pokoknya modis lah untuk ukuran bapak-bapak kepala empat. Bahkan ayahku sangat memperhatikan warna baju dan celana agar terlihat matching.

Aku, nggak bisa ku pungkiri. Aku butuh figure yang lengkap. Yang tidak separo-separo. Aku nggak cukup hanya dengan satu orang alim yang nggak ngerti soal tren mode. Aku juga nggak bisa tinggal hanya dengan orang yang fashioneble tapi nggak ngerti agama.

Saat aku habis tinggal dengan ayahku, penampilanku mungkin akan keren dan terlihat trendi, tapi aku akan jauh dari jalan yang lurus. Dan saat aku tinggal dengan ibuku, mungkin aku akan jadi anak yang baik dan lurus tapi nggak tau cara berpenampilan.

Ini jadi dilema baru buatku. Sebagai cewek, tentu aku punya naluri untuk tampil menarik. Tapi aku nggak bisa dandan sendiri. Aku nggak bisa pinter sendiri tanpa adanya figure. Sebagai wanita, aku pun butuh panutan seorang yang lurus. Baik itu urusan agama maupun dunia.

Tapi tidak mungkin bukan kalau semua itu hanya setengah-setengah. Tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Yang ada yaitu berat sebelah. Ditambah lagi aku sedari dulu hanyalah makhluk rumah yang betah seharian di dalam ruangan. Bahkan aku pun tidak bisaa merawat diri. Lalu, semua itu diperparah dengan kota tempatku tinggal yang terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kota. Jauh dari gemerlap kota. Bisa dibayangkan?

Apabila aku bilang kepada salah satu dari mereka, yang ada mereka pasti men-judge aku. Lalu posisiku tak pernah benar. Keluargaku memang tidak broken, tapi tidak ideal.

No comments:

Post a Comment