Categories

December 6, 2011

KABUT TELENG RIA


Ini cerpen yang membawaku ke FLS2N di Subarabaya. Walaupun nggak dapat juara, tapi aku dapat pengalaman .. ^_^


Dengan tangan  gemetar Faisal menggenggam hasil try outnya. Jaket kuncung hijau yang masih membalut tubuh siswa kelas IX SMP terkemuka di Pacitan yang tinggi kekar itu tak mampu menutupi rasa deg-degannya untuk bertemu dengan seseorang. Tetes-tetes keringat dingin membasahi wajah tampannya yang mulai memucat. Dikuatkannya dengan segenap jiwa tapi nyalinya tetap kerdil. Belum sampai masuk ke kamar, seseorang itu yang tak lain adalah ibunya sudah menegurnya.
            Piye1 try outnya Nang2?” sapa sayang ibu di ruang tamu mengagetkan Faisal.
            “Ya begitulah, Bu.”
            “Coba sini, Ibu lihat.”
            Dengan gugup Faisal menyerahkan lembaran itu kepada wanita paruh baya yang sedang mencermati iklan jitu Jawa Pos tentang penawaran guru privat. Faisal gelisah menanti reaksi ibu yang biasanya lembut dan sabar itu. Tapi detik berikutnya ibu hanya menghela napas.
            “Kenapa bisa begini?” kelembutan ibu seolah berubah 180 derajat.
            “Faisal minta maaf, Bu.” Faisal tidak berani menatap mata ibu yang sirna akan keteduhan.
            “Dari kemarin kan Ibu sudah ngomong, stop dulu surfingmu dan lebih fokus belajar. Apa to yang kamu dapat dari surfing? Pulang Maghrib, badan sudah capek, setelah itu langsung tidur. Terus belajar kamu kapan?” cerocos ibu sambil bangkit dari duduk dan membanting hasil try out dengan keras ke meja.
            “Tiap hari Faisal belajar kok, Bu.”
            “Kalau setiap hari kamu belajar, hasilnya nggak akan seperti ini.”
            ”Mungkin memang sudah takdir, Bu.”
            “Takdir bisa diubah kalau mau berusaha.”
            Inggih3 Bu. Faisal akan berusaha.”
            “Jangan ngomong thok! Buktikan pada  Ibu!”
            Sebenarnya Faisal ingin ibu tahu bahwa latihan kerasnya merupakan upaya untuk membuktikan kepada semua orang, terutama kepada Pak Purbo bahwa ia bukanlah Faisal yang lemah dan tidak punya talenta. Pak Purbo, pelatih surfingnya selalu mencemooh dirinya.
            “Faisal! Kamu ini bagaimana to? Sudah selama ini masih seperti ini saja. Kalau kamu memang tidak bisa lebih baik kamu keluar saja dari kelompok peselancar ini!” ucap Pak Purbo sambil membetulkan topi yang menutupi kepala botaknya. Tubuh kekar dan sorot mata tajam Pak Purbo cukup membuat Faisal ngeri untuk bertatap muka.
Ucapan Pak Purbo terdengar begitu sakit di telinga Faisal. Bukan hanya sekali dua kali tapi sudah berulang kali Pak Purbo mencemoohnya. Hal inilah yang memacu Faisal untuk lebih giat berlatih. Luka-luka hatinya telah membulatkan tekadnya untuk menjadi peselancar yang hebat. Tapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan ibu yang sangat menyayanginya itu. Apakah mungkin ia bisa fokus belajar tanpa harus meninggalkan latihan surfingnya.
“Faisal! Pokoknya Ibu nggak mau menerima hasil seperti ini di try out berikutnya.” seru ibu membuyarkan lamunan Faisal.
Inggih, Bu.” Jawab Faisal lemah sambil melangkah dengan gontai ke kamar. Direbahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemarahan ibu di ruang tamu  itu memenuhi kepala Faisal hingga terasa pusing dan memberatkan matanya untuk tetap terjaga. Beberapa menit
 

1.       Piye                               :  Bagaimana (Jawa)
2.       Nang                             :  Sapaan untuk anak laki-laki (Jawa)
3.       Inggih                           :  Ya (Jawa)

berikutnya ia terlelap dalam buaian bunga tidur. Faisal tidak merasa tubuhnya berada di atas tempat tidur melainkan sudah berada di tengah pantai. Di sampingnya tergeletak papan surfing putih yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Ia pun bangkit, di hadapannya membentang laut selatan tempat sehari-hari ia berlatih surfing.
            “Kenapa sepi sekali? Padahal Pantai Teleng Ria Pacitan ini nggak pernah sepi.”
            Tiba-tiba perasaan merinding menyelimuti dirinya. Detak jantungnya bagaikan deburan ombak yang dipermainkan oleh angin pantai yang tak bersahabat. Faisal berlari ke arah barat, berharap ada teman yang datang, tapi hasilnya nihil. Ia pun kembali ke tengah pantai.
            Kabut tebal perlahan menyelimuti pantai sore itu membuat suasana semakin mencekam. Dari kejauhan terdengar derap langkah kaki kuda berpadu dengan gemerincing suara genta. Faisal tersentak lalu membalikkan tubuhnya. Terlihat olehnya secara kasat mata kereta berkerangka emas yang ditarik oleh empat ekor kuda putih yang gagah. Faisal terheran-heran menyaksikan pemandangan ganjil di depannya. Dari atas kereta turun seorang laki-laki tampan berbusana prajurit dari kerajaan. Sangat berbeda dengan apa yang dipakai Faisal, kaos hijau dan celana pendek.
            “Wahai sahabatku” sapa Anggoro dengan senyum penuh keramahan seolah telah mengenal Faisal cukup lama.
            “Sahabat? Memangnya kamu ini siapa memanggilku dengan sahabat.”
            “Aku Anggoro. Aku adalah utusan ratu.  Ratu Laut Selatan.”
Ratu? Ratu Laut Selatan? Pikir Faisal dalam hati. Ia jadi teringat mitos Nyi Roro Kidul yang sudah bertahun-tahun tertanam di alam pikiran masyarakat Teleng khususnya dan masyarakat di pesisir pantai selatan Pacitan umumnya.
 “Tapi, kamu jangan tersinggung dulu, niatku ini baik, aku ingin membantumu. Aku tahu kamu sedang punya masalah. Sudah, ceritakan saja kepadaku. Nanti pasti kubantu” kata Anggoro meyakinkan Faisal dan mengajaknya duduk.
Lalu diperhatikannya Anggoro sekali lagi. Setelah cukup yakin, ia pun menceritakan masalah yang memenuhi kepalanya.
            “Itu masalah kecil. Santai saja, kamu tidak perlu berhenti latihan surfing agar lulus ujian.”
            “Santai? Gampang banget kamu ngomong seperti itu.”
            “Aku bisa membantumu, kalau mau.”
            “Bagaimana caranya?”
            “Aku akan memberimu cincin yang akan memudahkanmu mengerjakan soal-soal ujian. Malam Jum’at bulan purnama datanglah ke sini. Aku akan menjemputmu.”
            Mereka kemudian bangkit dari duduknya dan naik ke kereta. Kereta pun berjalan. Tapi baru setengah perjalanan tiba-tiba ada angin kencang yang berhembus sehingga kereta oleng. Kuda pun tidak dapat dikendalikan oleh Anggoro. Sayup-sayup terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga Faisal, suara adzan Maghrib dari mushola dekat rumahnya. Kemudian kilat menyambar-nyambar disusul suara guntur seolah membelah bumi. Kereta yang tadi ditumpanginya tiba-tiba raib entah ke mana. Faisal terlempar tinggi, tinggi sekali. Ia merasa kakinya terikat erat. Punggungnya tiba-tiba dingin.
Pelan-pelan Faisal membuka mata. Dilihatnya sekeliling. Ada foto dirinya yang terpampang di dinding. Ada poster dan jam dinding. Pandangan berikutnya tertuju pada souvenir papan surfing yang berjejer di meja belajar.  Dengan masih terkantuk-kantuk, disadarinya bahwa ia sudah tidak berada di pantai, melainkan di kamarnya sendiri. Faisal terjatuh dari tempat tidurnya.
            “Ah, cuma mimpi” desahnya pelan.
            “Faisal! Bangun! Shalat Maghrib” panggil ibu dari arah ruang tengah.
            Inggih, Bu” sahut Faisal sambil menggeliat kemudian langsung bangun dan mengambil air wudhu. Dilaksanakannya shalat Maghrib dengan khusyuk. Selesai shalat, ia pun berdoa.
            “Ya Allah, benarkah mimpi yang baru hamba alami? Hamba mohon petunjuk-Mu ya Allah.” Setelah menggulung sajadah ia pun menemui ibu di ruang tengah.
            “Mulai besok kamu tidak boleh latihan surfing lagi!”
            “Lho? Memangnya kenapa to Bu? Ibu jangan begitu to!”
            “Terserah, Ibu nggak mau tahu. Malam ini kamu nggak boleh main ke mana-mana karena guru privatmu akan datang.”
            “Guru privat apa to Bu? Ibu nggak pernah ngomong kalau manggil guru privat.”
            “Ibu melakukan ini karena Ibu nggak mau kalau nanti kamu sampai tidak lulus.”
            “Tenang sajalah, Bu. Faisal pasti lulus.”
            “Kamu itu lho. Siapa to yang bisa menjamin kamu lulus?”
            “Ang......” Faisal menghentikan ucapannya ketika hampir melontarkan nama Anggoro. Ia tidak mau ibu sampai tahu tentang Anggoro dan mimpi tentang janji cincin itu.
            “Ah, mimpi itu” desah Faisal dalam hati. Faisal terusik oleh mimpinya. Mungkinkah mimpi itu bisa menjadi kenyataan? Mungkinkah ia harus pergi ke pantai untuk menerima tawaran Anggoro? Malam itu malam Jum’at bulan purnama. tapi malam itu juga guru privatnya akan datang. Faisal bingung. Ia tidak mungkin melepaskan tawaran spektakuler itu. setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia putuskan untuk pergi ke pantai Telang Ria. Pelan-pelan ia mencoba keluar rumah tanpa sepengetahuan ibu.
Setiba di pantai suasana  begitu lengang, namun terang. Bulan terlihat utuh. Tak seorang pun terlihat kecuali Faisal yang berdiri mematung. Ombak bergemuruh, angin menerpa wajah Faisal. Matanya mencari-cari Anggoro. Ia mondar-mandir ke sana kemari, namun Anggoro yang berjanji akan menemui tak juga muncul. Kecemasan mulai merayapi dirinya.
“Anggoro! Anggoro!” Faisal terus mencari sambil memanggil-manggil nama itu.
 Di tengah kecemasan Faisal datang  kabut tebal, setebal kabut yang menyelimuti hati-nya. Pelan-pelan kabut mengelilingi dirinya. Semakin lama semakin tebal hingga terangnya cahaya bulan tak mampu menembusnya. Dari kejauhan tampak sebuah titik hitam. Titik itu terus membesar dan membesar hingga akhirnya menampakkan wujud aslinya. Kereta kencana lengkap dengan kuda dan penunggangnya.
Faisal tercengang, Anggoro benar-benar menjemputnya dengan kereta kuda. Setelah terjadi perbincangan singkat mereka pun berangkat menuju istana Ratu Laut Selatan. Perjalanan menembus kelamnya kabut terasa sangat cepat. Di tengah perjalanan Faisal kaget mendapati t-shirt hijau dan celana jeans yang tadi dipakainya kini berubah menjadi pakaian kerajaan yang sangat mewah.
            Anggoro mengantar Faisal masuk ke istana. Di sana, seorang wanita berparas cantik jelita dengan tatapan mata yang bersinar tengah duduk dengan anggun di atas singgasana.
            “Inikah Nyi Roro Kidul penguasa laut selatan yang terkenal itu?” pikir Faisal.
            “Selamat datang anak muda” sapa Ratu sembari turun dari singgasana dan berjalan mendekati Faisal. Mahkota emasnya yang bertabur berlian berpadu dengan kemilau tongkatnya yang juga berlapiskan emas.
            “Ee...Te...terima kasih Ratu. Ke...kedatanganku i...ingin menagih cc...cincin yang dijanjikan Ang...Anggoro” Kata Faisal terbata-bata.
            “Tenang! Cincin itu pasti kuberikan. Tapi dengan syarat , kamu harus menikah dengan putriku, Angker Wulan.”
            Mendengar nama Angker Wulan, Faisal teringat akan cerita ibunya di masa kecil. Dari cerita yang ia dengar, Angker Wulan adalah salah satu putri tercantik dari sekian putri Ratu Laut Selatan.
            “Baik Ratu. Aku bersedia” jawab Faisal tanpa pikir panjang.
            Sang Ratu pun mengayunkan tongkatnya. Seketika tempat itu berubah menjadi ruangan pesta yang didatangi oleh semua bangsa lelembut penghuni laut selatan. Suara gendhing4 Jawa mengiringi tari Bedoyo Ketawang5 . Acara pun dimulai, sang Ratu memberikan cincin kepada kedua mempelai. Tanpa berpikir panjang Faisal langsung memakai pemberian itu. Kemudian ditatapnya wajah calon pengantinnya yang cantik jelita. Saking terpesonanya dengan kecantikan si Angker Wulan, tanpa sadar terlontar dari mulutnya, “Subhaanallah!”
            Angker Wulan terhentak kaget. Kalimat itu bagaikan kerikil panas menghujani seluruh wajah cantiknya. Angker Wulan ketakutan. Ia menjerit histeris.  Sambil memegang kepala, Angker Wulan berputar-putar menahan panas. Wajah ayunya terbakar, hingga tinggal tengkorak saja. Api pun menjalar ke seluruh tubuhnya. Suasana pesta menjadi heboh. Tubuh Angker Wulan yang hangus roboh menimpa Faisal. Faisal kaget dan langsung lari tunggang langgang. Cincin yang tadi dipakainya langsung dibuang begitu saja. Seketika istana yang megah itu berubah menjadi lautan yang luas.
Faisal berupaya menyalamatkan diri. Dengan sekuat tenaga ia berenang.
            “Ya Allah, tolong selamatkan hamba-Mu ini.” Kalimat itu terus ia sebut dalam hati. Tak terhitung jumlahnya, sebanyak tarikan napas, ayunan tangan dan kakinya.
            Faisal terus berenang dengan susah payah walau sudah berkali-kali dihalau ombak. Lalu sampailah ia di tebing yang curam. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa Faisal merangkak meniti tebing dan akhirnya sampailah ia di tepi pantai. Faisal duduk sambil meluruskan kedua kakinya yang kram setelah berenang cukup lama. Ditepuk-tepuk wajahnya, untuk meyakinkan bahwa dirinya masih ada di dunia. Disekanya darah yang menetes di dahi.
            “Ya Allah, pakaianku sampai sobek begini. Benarkah aku ada di dunia nyata bukan di dunia lain?” Faisal meraba-raba tubuhnya, ia baru sadar baju yang dikenakannnya berwarna hijau. “Aku baru ingat, Ibu pernah mengatakan tidak boleh memakai baju hijau ke pantai, bila melanggar mitos itu akan menjadi mangsa Nyi Roro Kidul. Tapi untung saja aku selamat, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”

###

            “Faisal! Dari mana saja kamu? Ibu mencari ke mana-mana. Hand phone kamu kenapa nggak aktif? Ini kok basah kuyup begini, kamu main surfing lagi ya?!”
            “Bu, Faisal minta maaf selama ini nggak mau dengarkan nasihat Ibu. Faisal janji akan lebih giat belajar.”
            “Ya sudah, lebih baik kamu cepat ganti baju, nanti masuk angin. Tuh, Bu Shanty sudah menunggu dari tadi di teras samping.” Ibu tersenyum bahagia melihat Faisal akhirnya sadar juga.
            Setelah mengeringkan badan, ditemuinya Bu Shanty. Dan betapa kaget Faisal, wajah Bu Shanty mirip sekali dengan wajah cantik Angker Wulan. Sangat cantik.
            “Angker Wulan, eh Bu Shanty?”
                       
4.       Gendhing                               :  Gamelan.
5.       Bedoyo Ketawang              : Tarian yang diciptakan kraton Kasunanan Surakarta (pada masa
 Sunan  Pakubuwana I), yang digelar setiap tahun, yang dipercaya
 sebagai persembahan kepada  Kanjeng Ratu Kidul.

“Iya, saya guru privat kamu. Bagaimana, kita mulai belajar sekarang?”
Faisal mengangguk. Selama les, pikirannya masih terbayang-bayang pada kejadian yang
hampir saja merenggut nyawanya. Lantas ia pun merenung.
            “Aku sadar selama ini telah salah. Tidak menuruti nasihat Ibu, menyimpan dendam pada Pak Purbo, mengambil keputusan tidak berdasar logika, dan hampir terjerumus dalam bujukan setan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi di masa yang akan datang.” Janji Faisal pada diri sendiri. Kini bersama Bu Shanty hatinya menjadi lebih tenang dan ia akan giat belajar untuk menghadapi Ujian Nasional.




No comments:

Post a Comment