Ini cerpen yang membawaku ke FLS2N di Subarabaya. Walaupun nggak dapat juara, tapi aku dapat pengalaman .. ^_^
Dengan
tangan gemetar Faisal menggenggam hasil
try outnya. Jaket kuncung hijau yang masih membalut tubuh siswa kelas IX SMP
terkemuka di Pacitan yang tinggi kekar itu tak mampu menutupi rasa deg-degannya
untuk bertemu dengan seseorang. Tetes-tetes keringat dingin membasahi wajah
tampannya yang mulai memucat. Dikuatkannya dengan segenap jiwa tapi nyalinya
tetap kerdil. Belum sampai masuk ke kamar, seseorang itu yang tak lain adalah
ibunya sudah menegurnya.
“Piye1
try outnya Nang2?”
sapa sayang ibu di ruang tamu mengagetkan Faisal.
“Ya begitulah, Bu.”
“Coba sini, Ibu lihat.”
Dengan gugup Faisal menyerahkan
lembaran itu kepada wanita paruh baya yang sedang mencermati iklan jitu Jawa
Pos tentang penawaran guru privat. Faisal gelisah menanti reaksi ibu yang
biasanya lembut dan sabar itu. Tapi detik berikutnya ibu hanya menghela napas.
“Kenapa bisa begini?” kelembutan ibu
seolah berubah 180 derajat.
“Faisal minta maaf, Bu.” Faisal
tidak berani menatap mata ibu yang sirna akan keteduhan.
“Dari kemarin kan Ibu sudah ngomong,
stop dulu surfingmu dan lebih fokus
belajar. Apa to yang kamu dapat dari
surfing? Pulang Maghrib, badan sudah capek, setelah itu langsung tidur. Terus
belajar kamu kapan?” cerocos ibu sambil bangkit dari duduk dan membanting hasil
try out dengan keras ke meja.
“Tiap hari Faisal belajar kok, Bu.”
“Kalau setiap hari kamu belajar,
hasilnya nggak akan seperti ini.”
”Mungkin memang sudah takdir, Bu.”
“Takdir bisa diubah kalau mau
berusaha.”
“Inggih3
Bu. Faisal akan berusaha.”
“Jangan ngomong thok! Buktikan pada Ibu!”
Sebenarnya Faisal ingin ibu tahu
bahwa latihan kerasnya merupakan upaya untuk membuktikan kepada semua orang,
terutama kepada Pak Purbo bahwa ia bukanlah Faisal yang lemah dan tidak punya
talenta. Pak Purbo, pelatih surfingnya selalu mencemooh dirinya.
“Faisal! Kamu ini bagaimana to? Sudah selama ini masih seperti ini
saja. Kalau kamu memang tidak bisa lebih baik kamu keluar saja dari kelompok
peselancar ini!” ucap Pak Purbo sambil membetulkan topi yang menutupi kepala
botaknya. Tubuh kekar dan sorot mata tajam Pak Purbo cukup membuat Faisal ngeri
untuk bertatap muka.
Ucapan
Pak Purbo terdengar begitu sakit di telinga Faisal. Bukan hanya sekali dua kali
tapi sudah berulang kali Pak Purbo mencemoohnya. Hal inilah yang memacu Faisal
untuk lebih giat berlatih. Luka-luka hatinya telah membulatkan tekadnya untuk
menjadi peselancar yang hebat. Tapi di sisi lain ia tidak ingin mengecewakan
ibu yang sangat menyayanginya itu. Apakah mungkin ia bisa fokus belajar tanpa
harus meninggalkan latihan surfingnya.
“Faisal!
Pokoknya Ibu nggak mau menerima hasil seperti ini di try out berikutnya.” seru
ibu membuyarkan lamunan Faisal.
“Inggih, Bu.” Jawab Faisal lemah sambil
melangkah dengan gontai ke kamar. Direbahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemarahan
ibu di ruang tamu itu memenuhi kepala
Faisal hingga terasa pusing dan memberatkan matanya untuk tetap terjaga. Beberapa
menit
berikutnya
ia terlelap dalam buaian bunga tidur. Faisal tidak merasa tubuhnya berada di
atas tempat tidur melainkan sudah berada di tengah pantai. Di sampingnya
tergeletak papan surfing putih yang panjangnya melebihi tinggi badannya. Ia pun
bangkit, di hadapannya membentang laut selatan tempat sehari-hari ia berlatih
surfing.
“Kenapa sepi sekali? Padahal Pantai
Teleng Ria Pacitan ini nggak pernah sepi.”
Tiba-tiba perasaan merinding
menyelimuti dirinya. Detak jantungnya bagaikan deburan ombak yang dipermainkan
oleh angin pantai yang tak bersahabat. Faisal berlari ke arah barat, berharap
ada teman yang datang, tapi hasilnya nihil. Ia pun kembali ke tengah pantai.
Kabut tebal perlahan menyelimuti
pantai sore itu membuat suasana semakin mencekam. Dari kejauhan terdengar derap
langkah kaki kuda berpadu dengan gemerincing suara genta. Faisal tersentak lalu
membalikkan tubuhnya. Terlihat olehnya secara kasat mata kereta berkerangka
emas yang ditarik oleh empat ekor kuda putih yang gagah. Faisal terheran-heran menyaksikan
pemandangan ganjil di depannya. Dari atas kereta turun seorang laki-laki tampan
berbusana prajurit dari kerajaan. Sangat berbeda dengan apa yang dipakai
Faisal, kaos hijau dan celana pendek.
“Wahai sahabatku” sapa Anggoro
dengan senyum penuh keramahan seolah telah mengenal Faisal cukup lama.
“Sahabat? Memangnya kamu ini siapa
memanggilku dengan sahabat.”
“Aku Anggoro. Aku adalah utusan
ratu. Ratu Laut Selatan.”
Ratu?
Ratu Laut Selatan? Pikir Faisal dalam hati. Ia jadi teringat mitos Nyi Roro
Kidul yang sudah bertahun-tahun tertanam di alam pikiran masyarakat Teleng
khususnya dan masyarakat di pesisir pantai selatan Pacitan umumnya.
“Tapi, kamu jangan tersinggung dulu, niatku
ini baik, aku ingin membantumu. Aku tahu kamu sedang punya masalah. Sudah,
ceritakan saja kepadaku. Nanti pasti kubantu” kata Anggoro meyakinkan Faisal
dan mengajaknya duduk.
Lalu
diperhatikannya Anggoro sekali lagi. Setelah cukup yakin, ia pun menceritakan
masalah yang memenuhi kepalanya.
“Itu masalah kecil. Santai saja,
kamu tidak perlu berhenti latihan surfing agar lulus ujian.”
“Santai? Gampang banget kamu ngomong
seperti itu.”
“Aku bisa membantumu, kalau mau.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku akan memberimu cincin yang akan
memudahkanmu mengerjakan soal-soal ujian. Malam Jum’at bulan purnama datanglah
ke sini. Aku akan menjemputmu.”
Mereka kemudian bangkit dari
duduknya dan naik ke kereta. Kereta pun berjalan. Tapi baru setengah perjalanan
tiba-tiba ada angin kencang yang berhembus sehingga kereta oleng. Kuda pun
tidak dapat dikendalikan oleh Anggoro. Sayup-sayup terdengar suara yang tidak
asing lagi di telinga Faisal, suara adzan Maghrib dari mushola dekat rumahnya.
Kemudian kilat menyambar-nyambar disusul suara guntur seolah membelah bumi.
Kereta yang tadi ditumpanginya tiba-tiba raib entah ke mana. Faisal terlempar
tinggi, tinggi sekali. Ia merasa kakinya terikat erat. Punggungnya tiba-tiba
dingin.
Pelan-pelan
Faisal membuka mata. Dilihatnya sekeliling. Ada foto dirinya yang terpampang di
dinding. Ada poster dan jam dinding. Pandangan berikutnya tertuju pada souvenir
papan surfing yang berjejer di meja belajar.
Dengan masih terkantuk-kantuk, disadarinya bahwa ia sudah tidak berada
di pantai, melainkan di kamarnya sendiri. Faisal terjatuh dari tempat tidurnya.
“Ah, cuma mimpi” desahnya pelan.
“Faisal! Bangun! Shalat Maghrib”
panggil ibu dari arah ruang tengah.
“Inggih,
Bu” sahut Faisal sambil menggeliat kemudian langsung bangun dan mengambil air
wudhu. Dilaksanakannya shalat Maghrib dengan khusyuk. Selesai shalat, ia pun
berdoa.
“Ya Allah, benarkah mimpi yang baru
hamba alami? Hamba mohon petunjuk-Mu ya Allah.” Setelah menggulung sajadah ia
pun menemui ibu di ruang tengah.
“Mulai besok kamu tidak boleh
latihan surfing lagi!”
“Lho? Memangnya kenapa to Bu? Ibu jangan begitu to!”
“Terserah, Ibu nggak mau tahu. Malam
ini kamu nggak boleh main ke mana-mana karena guru privatmu akan datang.”
“Guru privat apa to Bu? Ibu nggak pernah ngomong kalau
manggil guru privat.”
“Ibu melakukan ini karena Ibu nggak mau kalau nanti kamu sampai tidak
lulus.”
“Tenang sajalah, Bu. Faisal pasti
lulus.”
“Kamu itu lho. Siapa to yang bisa
menjamin kamu lulus?”
“Ang......” Faisal menghentikan
ucapannya ketika hampir melontarkan nama Anggoro. Ia tidak mau ibu sampai tahu
tentang Anggoro dan mimpi tentang janji cincin itu.
“Ah, mimpi itu” desah Faisal dalam hati. Faisal terusik oleh
mimpinya. Mungkinkah mimpi itu bisa menjadi kenyataan? Mungkinkah ia harus
pergi ke pantai untuk menerima tawaran Anggoro? Malam itu malam Jum’at bulan
purnama. tapi malam itu juga guru privatnya akan datang. Faisal bingung. Ia
tidak mungkin melepaskan tawaran spektakuler itu. setelah berpikir cukup lama,
akhirnya ia putuskan untuk pergi ke pantai Telang Ria. Pelan-pelan ia mencoba
keluar rumah tanpa sepengetahuan ibu.
Setiba
di pantai suasana begitu lengang, namun terang.
Bulan terlihat utuh. Tak seorang pun terlihat kecuali Faisal yang berdiri
mematung. Ombak bergemuruh, angin menerpa wajah Faisal. Matanya mencari-cari
Anggoro. Ia mondar-mandir ke sana kemari, namun Anggoro yang berjanji akan
menemui tak juga muncul. Kecemasan mulai merayapi dirinya.
“Anggoro!
Anggoro!” Faisal terus mencari sambil memanggil-manggil nama itu.
Di tengah kecemasan Faisal datang kabut tebal, setebal kabut yang menyelimuti
hati-nya. Pelan-pelan kabut mengelilingi dirinya. Semakin lama semakin tebal
hingga terangnya cahaya bulan tak mampu menembusnya. Dari kejauhan tampak
sebuah titik hitam. Titik itu terus membesar dan membesar hingga akhirnya
menampakkan wujud aslinya. Kereta kencana lengkap dengan kuda dan
penunggangnya.
Faisal
tercengang, Anggoro benar-benar menjemputnya dengan kereta kuda. Setelah
terjadi perbincangan singkat mereka pun berangkat menuju istana Ratu Laut
Selatan. Perjalanan menembus kelamnya kabut terasa sangat cepat. Di tengah
perjalanan Faisal kaget mendapati t-shirt hijau dan celana jeans yang tadi
dipakainya kini berubah menjadi pakaian kerajaan yang sangat mewah.
Anggoro mengantar Faisal masuk ke
istana. Di sana, seorang wanita berparas cantik jelita dengan tatapan mata yang
bersinar tengah duduk dengan anggun di atas singgasana.
“Inikah Nyi Roro Kidul penguasa laut
selatan yang terkenal itu?” pikir Faisal.
“Selamat datang anak muda” sapa Ratu
sembari turun dari singgasana dan berjalan mendekati Faisal. Mahkota emasnya
yang bertabur berlian berpadu dengan kemilau tongkatnya yang juga berlapiskan
emas.
“Ee...Te...terima kasih Ratu. Ke...kedatanganku
i...ingin menagih cc...cincin yang dijanjikan Ang...Anggoro” Kata Faisal
terbata-bata.
“Tenang! Cincin itu pasti kuberikan.
Tapi dengan syarat , kamu harus menikah dengan putriku, Angker Wulan.”
Mendengar nama Angker Wulan, Faisal
teringat akan cerita ibunya di masa kecil. Dari cerita yang ia dengar, Angker
Wulan adalah salah satu putri tercantik dari sekian putri Ratu Laut Selatan.
“Baik Ratu. Aku bersedia” jawab
Faisal tanpa pikir panjang.
Sang Ratu pun mengayunkan
tongkatnya. Seketika tempat itu berubah menjadi ruangan pesta yang didatangi
oleh semua bangsa lelembut penghuni laut selatan. Suara gendhing4 Jawa mengiringi tari Bedoyo Ketawang5 . Acara pun dimulai, sang Ratu
memberikan cincin kepada kedua mempelai. Tanpa berpikir panjang Faisal langsung
memakai pemberian itu. Kemudian ditatapnya wajah calon pengantinnya yang cantik
jelita. Saking terpesonanya dengan kecantikan si Angker Wulan, tanpa sadar
terlontar dari mulutnya, “Subhaanallah!”
Angker Wulan terhentak kaget. Kalimat
itu bagaikan kerikil panas menghujani seluruh wajah cantiknya. Angker Wulan ketakutan.
Ia menjerit histeris. Sambil memegang
kepala, Angker Wulan berputar-putar menahan panas. Wajah ayunya terbakar, hingga
tinggal tengkorak saja. Api pun menjalar ke seluruh tubuhnya. Suasana pesta
menjadi heboh. Tubuh Angker Wulan yang hangus
roboh menimpa Faisal. Faisal kaget dan langsung lari tunggang langgang. Cincin
yang tadi dipakainya langsung dibuang begitu saja. Seketika istana yang megah
itu berubah menjadi lautan yang luas.
Faisal
berupaya menyalamatkan diri. Dengan sekuat tenaga ia berenang.
“Ya Allah, tolong selamatkan
hamba-Mu ini.” Kalimat itu terus ia sebut dalam hati. Tak terhitung jumlahnya,
sebanyak tarikan napas, ayunan tangan dan kakinya.
Faisal terus berenang dengan susah
payah walau sudah berkali-kali dihalau ombak. Lalu sampailah ia di tebing yang
curam. Dengan segenap tenaga yang masih tersisa Faisal merangkak meniti tebing
dan akhirnya sampailah ia di tepi pantai. Faisal duduk sambil meluruskan kedua
kakinya yang kram setelah berenang cukup lama. Ditepuk-tepuk wajahnya, untuk
meyakinkan bahwa dirinya masih ada di dunia. Disekanya darah yang menetes di
dahi.
“Ya Allah, pakaianku sampai sobek
begini. Benarkah aku ada di dunia nyata bukan di dunia lain?” Faisal
meraba-raba tubuhnya, ia baru sadar baju yang dikenakannnya berwarna hijau.
“Aku baru ingat, Ibu pernah mengatakan tidak boleh memakai baju hijau ke
pantai, bila melanggar mitos itu akan menjadi mangsa Nyi Roro Kidul. Tapi
untung saja aku selamat, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”
###
“Faisal! Dari mana saja kamu? Ibu
mencari ke mana-mana. Hand phone kamu
kenapa nggak aktif? Ini kok basah
kuyup begini, kamu main surfing lagi ya?!”
“Bu, Faisal minta maaf selama ini
nggak mau dengarkan nasihat Ibu. Faisal janji akan lebih giat belajar.”
“Ya sudah, lebih baik kamu cepat
ganti baju, nanti masuk angin. Tuh,
Bu Shanty sudah menunggu dari tadi di teras samping.” Ibu tersenyum bahagia
melihat Faisal akhirnya sadar juga.
Setelah mengeringkan badan,
ditemuinya Bu Shanty. Dan betapa kaget Faisal, wajah Bu Shanty mirip sekali
dengan wajah cantik Angker Wulan. Sangat cantik.
“Angker Wulan, eh Bu Shanty?”
“Iya,
saya guru privat kamu. Bagaimana, kita mulai belajar sekarang?”
Faisal
mengangguk. Selama les, pikirannya masih terbayang-bayang pada kejadian yang
hampir
saja merenggut nyawanya. Lantas ia pun merenung.
“Aku sadar selama ini telah salah.
Tidak menuruti nasihat Ibu, menyimpan dendam pada Pak Purbo, mengambil
keputusan tidak berdasar logika, dan hampir terjerumus dalam bujukan setan. Aku
berjanji tidak akan mengulanginya lagi di masa yang akan datang.” Janji Faisal
pada diri sendiri. Kini bersama Bu Shanty hatinya menjadi lebih tenang dan ia
akan giat belajar untuk menghadapi Ujian Nasional.
No comments:
Post a Comment