Yang berlalu
biarlah berlalu...
Kalimat di atas
mungkin terdengar lebay. Tapi mari kita cerna makna dari kalimat tersebut.
Seringkali kita menyesali kesahalan yang kita lakukan di masa lalu. Padahal
kita sendiri tahu bahwa penyesalan yang berlarut-larut hanya membuang waktu.
Tak ada sesal yang muncul di depan, dari zaman nenek moyang sampai cucu
cicitnya sesal itu tempatnya pasti di belakang. Ketika kita melakukan suatu
kesalahan di saat ini, kita akan merasa fun-fun saja. Menyontek misalnya.
Semalaman nggak belajar. Nonton sinetron, film, komedi, sampai wayang golek
juga. Pokoknya semua sajian dari layar kaca. Dalam hati berkata “Ah, mau ulangan mendingan nonton tv
saja biar nggak stress. Belajarnya besok pagi saja,”
Tapi.... ketika jam
weker sudah ngos-ngosan membangunkan, malah kita matikan sambil ngedumel yang
kemudian melanjutkan mimpi. “Mundur setengah jam nggak apa-apa.” Lalu adzan
Subuh menggema di seantero negeri ini. Pun belum cukup membuat kita menepati
janji tadi malam. Dan bola mata serasa copot mendapati sang mentari yang kian
panas menyinari pembaringan. Dengan langkah seribu kamar mandi dijadikan garis
finish. Di sekolah, teman-teman juga sama. Pada ngos-ngosan maklum anak
kos-kosan nggak ada ortu jadi ongkos pas-pasan.
Debaran jantung
melebihi waktu melihat cowok ganteng di mall minggu lalu. Seberkas amplop di
tangan pengawas. Setelah lembaran soal sampai di tangan kita, hal pertama yang
dilakukan adalah garuk-garuk kepala. Perbandingannya mungkin 1:15 antara soal
yang mampu kita kerjakan dan yang tidak. Satu inchi saja gerakan pengawas ke
layar handphone-nya merupakan sebuah karunia bagi siswa-siswa kala itu. 7200
second berlalu tanpa terasa. Dengan berat hati lembar jawaban diserahkan di
meja pengawas. Dan dengan langkah gontai kita keluar ruangan dengan dada sesak
penuh penyesalan.
Seandainya tadi
malam aku belajar. Seandainya tadi pagi aku nggak molor. Pasti aku nggak bakal
nyontek kayak tadi. Seandainya,seandainya, seandainya, kata itu terus terngiang
di kepala kita. Sebersit kesadaran mampir di benak. Tekad pun terucap, “Mulai
sekarang aku nggak mau nonton sinetron lagi. Mulai sekarang aku akan giat
belajar. Mulai sekarang aku akan bangun pagi. Pokoknya ini terakhir kalinya aku
menyontek.” Kalimat-kalimat ini diulang berkali-kali sampai alam bawah sadar
kita benar-benar terpengaruh. Sampai hati ini yakin. Setelah pembulatan tekad
sudah genap. Kaki akan melangkah pasti ke kos-kosan untuk mengabarkan ortu
bahwa ongkos kita tinggal pas-pasan.
Menyesal boleh
saja. Harus malah. Terlebih setelah melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan
adalah cambuk agar kita lebih berhati-hati. Lalu bagaimana dengan masa lalu
yang sudah rusak? Tentu kita harus memperbaikinya. Bagaimana bisa diperbaiki,
masa lalu kan nggak bisa kembali lagi? Caranya adalah tidak mengulanginya lagi
di masa kini dan akan datang. Bisa dengan jalan tobat atau introspeksi diri.
Kalau nggak sanggup mengatasi sendiri bisa minta bantuan dan support orang
lain. Tapi tobat di sini benar-benar tobat lho, bukan sekedar tomat, alias
tobat kumat lagi.
Pacitan, January 30th 2010
Chim chim changa
No comments:
Post a Comment