Categories

December 6, 2011

Penyesalan


Yang berlalu biarlah berlalu...

Kalimat di atas mungkin terdengar lebay. Tapi mari kita cerna makna dari kalimat tersebut. Seringkali kita menyesali kesahalan yang kita lakukan di masa lalu. Padahal kita sendiri tahu bahwa penyesalan yang berlarut-larut hanya membuang waktu. Tak ada sesal yang muncul di depan, dari zaman nenek moyang sampai cucu cicitnya sesal itu tempatnya pasti di belakang. Ketika kita melakukan suatu kesalahan di saat ini, kita akan merasa fun-fun saja. Menyontek misalnya. Semalaman nggak belajar. Nonton sinetron, film, komedi, sampai wayang golek juga. Pokoknya semua sajian dari layar kaca. Dalam hati  berkata “Ah, mau ulangan mendingan nonton tv saja biar nggak stress. Belajarnya besok pagi saja,”

Tapi.... ketika jam weker sudah ngos-ngosan membangunkan, malah kita matikan sambil ngedumel yang kemudian melanjutkan mimpi. “Mundur setengah jam nggak apa-apa.” Lalu adzan Subuh menggema di seantero negeri ini. Pun belum cukup membuat kita menepati janji tadi malam. Dan bola mata serasa copot mendapati sang mentari yang kian panas menyinari pembaringan. Dengan langkah seribu kamar mandi dijadikan garis finish. Di sekolah, teman-teman juga sama. Pada ngos-ngosan maklum anak kos-kosan nggak ada ortu jadi ongkos pas-pasan.

Debaran jantung melebihi waktu melihat cowok ganteng di mall minggu lalu. Seberkas amplop di tangan pengawas. Setelah lembaran soal sampai di tangan kita, hal pertama yang dilakukan adalah garuk-garuk kepala. Perbandingannya mungkin 1:15 antara soal yang mampu kita kerjakan dan yang tidak. Satu inchi saja gerakan pengawas ke layar handphone-nya merupakan sebuah karunia bagi siswa-siswa kala itu. 7200 second berlalu tanpa terasa. Dengan berat hati lembar jawaban diserahkan di meja pengawas. Dan dengan langkah gontai kita keluar ruangan dengan dada sesak penuh penyesalan.

Seandainya tadi malam aku belajar. Seandainya tadi pagi aku nggak molor. Pasti aku nggak bakal nyontek kayak tadi. Seandainya,seandainya, seandainya, kata itu terus terngiang di kepala kita. Sebersit kesadaran mampir di benak. Tekad pun terucap, “Mulai sekarang aku nggak mau nonton sinetron lagi. Mulai sekarang aku akan giat belajar. Mulai sekarang aku akan bangun pagi. Pokoknya ini terakhir kalinya aku menyontek.” Kalimat-kalimat ini diulang berkali-kali sampai alam bawah sadar kita benar-benar terpengaruh. Sampai hati ini yakin. Setelah pembulatan tekad sudah genap. Kaki akan melangkah pasti ke kos-kosan untuk mengabarkan ortu bahwa ongkos kita tinggal pas-pasan.

Menyesal boleh saja. Harus malah. Terlebih setelah melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan adalah cambuk agar kita lebih berhati-hati. Lalu bagaimana dengan masa lalu yang sudah rusak? Tentu kita harus memperbaikinya. Bagaimana bisa diperbaiki, masa lalu kan nggak bisa kembali lagi? Caranya adalah tidak mengulanginya lagi di masa kini dan akan datang. Bisa dengan jalan tobat atau introspeksi diri. Kalau nggak sanggup mengatasi sendiri bisa minta bantuan dan support orang lain. Tapi tobat di sini benar-benar tobat lho, bukan sekedar tomat, alias tobat kumat lagi.



Pacitan, January 30th 2010
Chim chim changa

No comments:

Post a Comment