Categories

December 6, 2011

KASIHAN DEH LU part IV


Besoknya Eza mengajak Shelly ke pasar malam. Shelly seneng banget sampe lompat-lompat udah kaya anak kecil dikasih balon aja. Eza merenges diam-diam.

Setelah pertunjukan Bang Bonny kelar, Eza memberi aba-aba. Bang Bonny melakukan aksinya menghipnotis Shelly. Setelah positif terhipnotis, Eza mengajukan pertanyaan pada Shelly. Sebelumnya ia menyalakan perekam di HP-nya, tujuannya buat apa? Kenang-kenangan, pikirnya. Udah kaya wartawan aja, tapi emang bener kok Eza emang ngewawancarain Shelly.

Eza      : “Mm, Shel kenapa jepit rambut kamu bisa ada di kamar aku?”
Shelly  : “Karena aku pernah masuk ke kamar kamu,”
Eza      : “Ngapain?”
Shelly  : “Buat nyari data-data tentang Eca,”

Eza diam sejenak. Eca?? Dia tau Eca dari mana?? Dia melanjutkan wawancaranya.

Eza      : “Mm, kok kamu bisa kenal Eca?”
Shelly  : “Waktu itu dia sms nanyain kamu udah sampe rumah apa belum,”
Eza      : “And then?”
Shelly  : “Aku jealous. Dan aku berniat buat ngancurin persahabatan kalian,”

Oo, jadi ini biang keroknya, ujar Eza dalam hati.

Eza      : “Lantas tindakan kamu apaan?”
Shelly  : “Aku nyari tahu tentang Eca.”
Eza      : “Kapan?”
Shelly  : “Pas malem-malem kamu lagi ngeband. Aku minta ijin sama mama kamu buat masuk
  kamar kamu. Alasan aku mau pinjem buku, dan sampai di kamar kamu aku beraksi.”
Eza      : “Gitu doang?”                                                                                                                   
Shelly  : “Nggak. Siangnya rumah kamu lagi sepi. Aku diem-diem masuk dan ngerusakin laptop
              kamu biar kamu nggak bisa online. Malamnya aku chating sama Eca ngaku-ngaku jadi
  pacar kamu. Aku ngelarang  dia buat berhubungan sama kamu. Aku juga ngirimin dia
  surat dengan ngaku-ngaku jadi kamu. Dalam surat itu aku nyuruh dia buat mutusin
  contact di antara kalian.” 

Eza nggak nyangka Shelly ngelakuin semua itu. Tapi dia udah lega karena udah tau durjananya siapa.
   
Eza      : “Oke Shelly cukup. Makasih karena kamu udah mau ngakuinnya.”
           
Shelly hanya mengangguk. Tatapannya kosong. Eza puas karena Shelly menjawab semua pertanyaan itu
dengan polosnya tanpa ada paksaan sedikit pun.

“Bang, udah cukup bang. Sadarin dia lagi dong,” kata Eza.

Bang Bonny menjentikkan jarinya. Shelly kaya orang baru bangun tidur. Eza tersenyum senang. Shelly bingung, tapi ia senang begitu melihat Eza tersenyum-senyum. Sebagai tanda terima kasih Eza mentraktir Shelly makan bakso. Shelly jadi kegeeran, dikiranya Eza mulai suka padanya.

Begitu sampai rumah Eza langsung menelepon Eca. Kali ini ke telepon rumah karena ia yakin kalau lewat HP pasti Eca tidak mau mengangkatnya.

“Halo, ini Eza, apa Ecanya ada?” kata Eza memulai percakapan.

“Oh, Eza. Iya Za Eca lagi di kamarnya nggak tahu tuh lagi belajar apa main game,” ujar ibunya Eca.

“Eza boleh minta tolong sama Tante nggak buat manggilin Eca?” tanya Eza.

“Boleh, boleh kok. tunggu bentar ya,” kata ibu.

“Halo,” kata Eca dengan malas.

“Ca aku mau minta maaf sama kamu. Aku mau ngasih tahu siapa dalang perusak persahabatan kita,” sahut Eza. Eca terdiam sesaat. Kemudian Eza mulai nyerocos panjang lebar tentang kejadian tadi di pasar malam. Tak lupa ia memutarkan rekaman wawancaranya dengan Shelly saat Shelly dalam keadaan tidak sadar.

“Gimana Ca? Masih nggak percaya?” tanya Eza setelah rekaman selesai.

Eca tertawa terbahak-bahak. “Hahahahaha.... Lucu banget Za. Sampe ngelibatin tukang sulap segala. Ada-ada aja kamu nih,” ujar Eca sambil sesekali terkekeh.

“Ya, habis kalo nggak gini si Shelly mana mau ngaku coba?” kata Eza.

 “Terus si Shelly udah tau belom?” tanya Eca.

“Belom, besok-besok aja deh aku kasih tau,”

Eca manggut-manggut. Beberapa detik mereka terdiam. Eca diam karena bingung mau ngomong apa sementara Eza diam karena kecapekan ngomong.

“Mm, Ca?” kata Eza sekonyong-konyong.

“Apa Za?” tanya Eca.

“Udah dulu ya, ntar kalo biaya telepon nunggak lagi bonyok pasti nyerbu aku,” ujar Eza.

“Iya, iya, lagian aku juga mau tidur nih udah ngantuk. Bye Za..” kata Eca kemudian terdengar bunyi tuut, tuut, tuut...rupanya Eca sudah memutus hubungan telepon barusan.

Saat mau mapan tidur, HP Eca berbunyi. Eza sms.

Met tidur ya c0b...have a nice dream... ^_^
Sender: Eza

Met tidur juga Za...moga bisa bangun pagi! J
Send to: Eza


Eca bahagia karena hubungannya dengan Eza kembali membaik.

Keesokan harinya Shelly mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Segera ia berlari membukakannya. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati Eza yang datang. Eza dipersilahkan duduk sementara ia bergegas ke dapur membuatkan minum dan mencari makanan.

“Shel, ada yang mau aku omongin,” kata Eza seraya mencicipi kue yang disuguhkan.

“Ngomong apa Za?” tanya Shelly. Ia berharap Eza mau bilang I love you.

“Sebelumnya aku mau minta maaf karena kemaren malem aku udah ngehipnotis kamu tapi aku juga amat sangat berterima kasih karena kamu udah jujur,” ucap Eza. Kemudian ia meraih HP dari saku celananya dan memutarkan hasil wawancara itu. Shelly terkejut, lalu ia tertunduk malu. Ia menyembunyikan wajahnya yang merah.

“Shel, tali yang ngikat persahabatan aku sama Eca tuh udah terlalu kuat buat diputusin. Bagaimanapun caranya itu mustahil, jadi mendingan kamu hentiin aja deh usaha kamu yang sia-sia itu,” jelas Eza.

“Za.. aku minta maaf. Aku khilaf Za... Kamu mau khan maafin aku Za??” pinta Shelly penuh harap.

“Aku mau maafin kamu. Tapi ada syaratnya,” kata Eza sambil mencomot satu lagi kuenya Shelly.

“Apaan Za? Apapun syaratnya bakal aku lakuin asalkan kamu mau maafin aku. Kasih tau aku Za apa syaratnya,” kata Shelly.

“Pertama, berhenti ngejar-ngajar aku dan nganggep aku pacar kamu. Aku udah muak sama semua itu. Kedua, jangan pernah lancang masuk kamar aku tanpa izin. Dan ketiga, jangan pernah ulangin tindakan kamu buat misahin aku sama Eca.” jelas Eza kali ini menyedot jus jeruk yang tadi dibuatkan Shelly.

Shelly menghela nafas, “Oke Za. Aku sanggup ngelakuin semua syarat yang kamu sebutin,”

“Well, masalah ini aku anggap kelar. And now aku mau pulang. By the way makasih ya suguhannya,” kata Eza seraya melangkah pergi sembari mencomot satu lagi. Ia sudah tidak sabar ingin bercuap-cuap ria perihal barusan pada Eca. Sementara Shelly masih meratapi nasibnya, hatinya pecah berkeping-keping dan juga nasib kuenya yang ludes tuntas dimakan Eza. ‘Nih anak laper apa doyan ya?’ batinnya. Sambil meratapi piring kosong yang tadinya penuh berisi brownies.

No comments:

Post a Comment