Sabtu, 9 Desember aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku
pun lewat jalan yang biasa aku lewati setiap harinya. Aku tak punya firasat
apa-apa. Aku pun melaju dengan tenang dan.... santai pastinya. Tak ada satu pun
kekhawatiran yang menyelinap di hatiku. Aku yakin tidak akan terlambat sampai
di sekolah. Aku pun yakin tidak akan pingsan walau aku belum sarapan karena aku
sudah minum segelas susu. Toh, istirahat nanti aku bisa jajan.
Aku pun lewat MAN (Madrasah Aliyah Negeri) seperti biasa. Di sana ada dua polisi
berjaga. Mengatur lalu lintas yang ramai. Karena jam-jam segitu jalanan
dipenuhi anak sekolah, terutama SLTA. Namun, sesampainya di depan pom bensin
aku tertegun. Oh my God! Operasi Semeru. Ada banyak polisi pada jarak 100 meter
dari posisiku. Aku berniat untuk putar balik. Tapi tidak bisa, karena
polisi yang berjaga di depan MAN tadi menjaga jalan agar orang yang sudah lewat situ tidak bisa putar
balik. Ah, tak ada pilihan lain kecuali melewatinya.
Kulihat banyak anak SMA I. Aku juga melihat beberapa teman
seangkatanku maupun beberapa tetangga yang merupakan kakak kelasku. Pokoknya semua
siswa yang setiap hari melewati jalur itu, pagi itu kena tilang. Ada
temanku yang sampai menangis, mungkin ia berharap agar polisi-polisi itu
kasihan terhadapnya. Tapi apa jadinya, polisi malah tak menggubris tangisannya.
Lalu aku? Aku berusaha untuk tenang, berusaha untuk santai dan tak terlihat
grogi.
Aku belum tahu berapa dendanya. Ini kali pertama aku
ditilang. Yang membuatku bingung, sidang dilakukan pada hari Kamis pukul
delapan pagi. Hari itu ada pelajaran Biologi, jam pertama pula. Masak aku mau
ijin mengambil STNK ke Pengadilan Negeri? Nyaliku sepertinya belum terkumpul
mengingat tragedi tempo lalu. Kata mama, kalau sekolah tidak memberikan ijin ia
yang akan mengambilkan STNK-ku.
Hmmmm... semoga ini menjadi pengalaman berharga butaku. Dan aku
sangat berharap agar umurku segera genap tujuh belas tahun. Agar aku cepat
punya SIM dan KTP. Supaya tidak ditilang-tilang lagi.
No comments:
Post a Comment