Categories

December 11, 2011

Traffic Ticket



Sabtu, 9 Desember aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Aku pun lewat jalan yang biasa aku lewati setiap harinya. Aku tak punya firasat apa-apa. Aku pun melaju dengan tenang dan.... santai pastinya. Tak ada satu pun kekhawatiran yang menyelinap di hatiku. Aku yakin tidak akan terlambat sampai di sekolah. Aku pun yakin tidak akan pingsan walau aku belum sarapan karena aku sudah minum segelas susu. Toh, istirahat nanti aku bisa jajan.

Aku pun lewat MAN (Madrasah Aliyah Negeri) seperti biasa. Di sana ada dua polisi berjaga. Mengatur lalu lintas yang ramai. Karena jam-jam segitu jalanan dipenuhi anak sekolah, terutama SLTA. Namun, sesampainya di depan pom bensin aku tertegun. Oh my God! Operasi Semeru. Ada banyak polisi pada jarak 100 meter dari posisiku. Aku berniat untuk putar balik. Tapi tidak bisa, karena polisi yang berjaga di depan MAN tadi menjaga jalan agar orang yang sudah lewat situ tidak bisa putar balik. Ah, tak ada pilihan lain kecuali melewatinya.

Kulihat banyak anak SMA I. Aku juga melihat beberapa teman seangkatanku maupun beberapa tetangga yang merupakan kakak kelasku. Pokoknya semua siswa yang setiap hari melewati jalur itu, pagi itu kena tilang. Ada temanku yang sampai menangis, mungkin ia berharap agar polisi-polisi itu kasihan terhadapnya. Tapi apa jadinya, polisi malah tak menggubris tangisannya. Lalu aku? Aku berusaha untuk tenang, berusaha untuk santai dan tak terlihat grogi.

Polisi menghampiriku yang duduk di jok. Meminta surat-suratku. Aku berikan STNK. Ia pun menanyakan SIM-ku. Aku kan belum punya SIM. Setelah kutandatangani surat tilang warna pink itu, polisi mengambil STNK-ku. Sidang dilakukan  pada hari Kamis, 22 Desember 2011. Motorku tidak disita karena semua standart dan tidak neko-neko. Alhamdulillah, aku tidak jalan kaki seperti beberapa temanku yang motornya disita.

Aku belum tahu berapa dendanya. Ini kali pertama aku ditilang. Yang membuatku bingung, sidang dilakukan pada hari Kamis pukul delapan pagi. Hari itu ada pelajaran Biologi, jam pertama pula. Masak aku mau ijin mengambil STNK ke Pengadilan Negeri? Nyaliku sepertinya belum terkumpul mengingat tragedi tempo lalu. Kata mama, kalau sekolah tidak memberikan ijin ia yang akan mengambilkan STNK-ku.

Hmmmm... semoga ini menjadi pengalaman berharga butaku. Dan aku sangat berharap agar umurku segera genap tujuh belas tahun. Agar aku cepat punya SIM dan KTP. Supaya tidak ditilang-tilang lagi.


No comments:

Post a Comment