Categories

February 11, 2012

Nakal? Boleh kok!


Seorang teman lama mengabarkan bahwa salah satu teman kita ada yang mau di DO dari sekolahnya. Kabar via SMS itu tak cukup membuatku kaget. Ya, karena aku tahu siapa dan mengapa ia sampai bisa dapat musibah seperti itu.

Sebut sajalah Adi. Aku mulai mengenalnya dua tahun silam. Dan beberapa bulan lalu memang sempat dekat denganku. Tapi tak lebih dari sebulan, hubungan itu sirna. Aku bersyukur lah. Itu tandanya aku nggak masuk dalam dunianya.

Dia memang bukan dari keluarga kebanyakan, melainkan sedikit lebih “unik”. Aneh, menurutku. Tidak ideal dan tidak seharusnya begitu. Tapi tak perlulah aku mengurusi mereka. Dan kini, aku benar-benar bersyukur bisa lepas dari dia.

Adi sekolah di SMA yang terkenal sebagai sekolah (maaf) buangan. Karena di situlah pusat anak-anak nakal yang tidak diterima di sekolah favorit. Sejak dulu memang sudah begitu. Kondisi ini diperparah dengan orang tuanya yang memang berbeda dari orang tua pada umumnya. Dengan ibu yang doyan main, dan seorang nenek yang sudah tua untuk mengawasi semua gerak-geriknya. Ayahnya? Aku tak pernah tahu. Paman-pamannya lah yang menggantikan posisi ayahnya itu.

Entah kenakalan apa yang  belum pernah ia lakoni. Mulai dari merokok, minum minuman beralkohol, balap liar, membolos, melawan orang tua, pulang larut malam, dan berbagai kenakalan remaja lainnya. Herannya, bukannya menyesal telah melakukan rentetan kenakalan itu Adi seakan mengganggap itu semua adalah prestasinya.

Ia selalu menceritakan semua kenakalannya dengan bangga. Laksana orang-orang sukses yang menceritakan kesuksesannya. Aku hanya mengeryitkan kening tatkala mendengarnya mulai berceloteh. Sebagai teman, tentu aku mengingatkan dia agar mengurangi kenakalannya itu. Tapi apa daya rupanya kuping Adi sudah bebal dengan berbagai bentuk nasihat.

Jadi, kalau sampai dia benar di DO itu salah dia sendiri. Masa remaja memang masa-masa bahagia. Tapi bukan berarti kita bisa melakukan kenakalan sesuka hati. Oke, aku akui nakal memang mengasyikkan. Membantah orang tua, main sampai larut, kebut-kebutan di jalan, membolos, semua adalah kegiatan yang mengasyikkan.

Tapi, apa kita nggak mikir masa depan? Apa kita nggak pingin punya masa depan yang cerah? Apa kita nggak pingin sukses? Apa kita nggak pingin hidup enak nantinya?

Pada akhirnya pilihan ada di tangan kamu masing-masing.

No comments:

Post a Comment