Usiaku sekarang 15 tahun dan 2 bulan lagi genap 16 tahun. Aku
berada pada masa remaja. Kata orang masa ini adalah masa yang rawan. Karena pada
masa ini seseorang akan mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Ia akan mencoba
hal-hal baru. Ia akan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan
sebelumnya.
Aku benar-benar merasakannya. Aku sering merasa bingung
dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku. Bukan perubahan fisik
saja, tapi lebih ke psikis. Ke arah emosi, perasaan, pola pikir, dan suasana
hati yang selalu berubah-ubah.
Kata orang, masa remaja adalah masa penentu hidup kita di
masa depan, di masa kita dewasa. Apabila kita dapat melalui masa remaja dengan
baik, yaitu dengan menjadi anak baik yang tidak melanggar norma-norma maka
setelah dewasa kita akan menjadi orang yang baik dan mendapat derajat yang baik
di masyarakat. Tetapi, apabila seseorang terherumus ke jalan yang salah di masa
remaja, misalnya menjadi nakal, maka
saat dewasa ia akan sulit untuk menjadi orang yang baik. Selain itu
image yang sudah tertanam di masyarakat, ia adalah anak yang bandel. Tentu ini
akan mengganggu perkembangan psikologis.
Lalu bagaimana denganku? Aku kerap kali bingung. Bingung. Iya,
bingung. Aku bingung menentukan jalan mana yang akan aku tempuh. Aku bingung
akan menjadi orang seperti apa aku kelak. Apakah menjadi orang baik-baik yang
hidupnya adem ayem, disegani masyarakat, dan menjadi manusia yang ideal di mata
masyarakat. Ataukah menjadi orang yang hidupnya dipenuhi dengan masalah. Atau kasarnya
menjadi bandel alias badung. Karena menurut pandanganku ada asyiknya juga
menjalani hidup sebagai orang badung. Pasti seru dan penuh dengan tantangan. Tapi,
ini hanyalah pemikiran bocah yang belum genap 16 tahun usianya dan belum punya
pengalaman apa-apa yang berarti.
Pilihan ada di tanganku. Menjadi baik dan lurus-lurus saja
atau menjadi bandel dan berkelak-kelok jalan hidupnya. Aku bisa menjadi salah
satu dari keduanya jika dilihat dari keadaan hidupku saat ini. Aku punya bekal
untuk jadi orang baik. Aku punya keluarga yang baik. Aku punya orang tua yang
baik. Aku bisa dibilang pintar. Aku lumayan rajin solat dan ngaji. Aku lebih
sering di rumah dari pada keluyuran. Aku sering membuat orang tuaku bangga
dengan prestasi dan kelakuan baikku. Aku bisa masuk sekolah favorit yang kata
orang hanya bisa dimasuki anak-anak ber-IQ tidak sembarangan.
Tapi aku juga punya bekal untuk menjadi anak yang badung. Aku
malas sekali. Aku terkadang tak mau tahu aturan. Aku pernah keluyuran
malam-malam. Aku pernah bergaul dengan anak-anak nakal. Aku jarang takut pada
orang yang lebih tua, aku cenderung menantang. Aku pernah melakukan
kegilaan-kegilaan yang mungkin tak terbayangkan oleh anak seusiaku. Aku bisa
bersikap cuek dan tidak peduli pada apa pun. Aku sering menyakiti orang hanya
dengan lidahku.
Hmmm... terkadang aku ingin menjadi orang baik, tapi di saat
lain aku bosan bila harus menjalani kehidupan orang baik. Aku tahu di dalam
hidup ini ada hitam dan putih. Tapi aku tahu bahwa kita gak bisa benar-benar
menjadi hitam ataupun benar-benar menjadi putih. Karena kita hanyalah abu-abu
yang condong ke putih ataupun ke hitam.
Aku butuh seseorang untuk selalu menemaniku, membimbing,
mengerti keadaanku, kondisiku, setiap saat. Tapi siapa? Teman? Teman yang
seusiaku sih sama saja bohong. Pacar? Ah, kayaknya pacar nggak pernah membantu
untuk masalah seperti ini. Orang tua? Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi
urusan seperti ini. Guru? Terlalu formal untukku.
Lalu siapa? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya hanya
diriku sendiri yang bisa mengatasi kebingunganku ini. Karena urusan ini adalah
masalahku. Masalah yang timbul karena aku sendiri yang kerap kali
mempermasalahkannya. So, aku sendirilah yang mampu memecahkannya. Baik, kita
akan lihat akan jadi seperti apa aku kelak . :)
curahan hati seorang remaja. jiaaah .. alay
ReplyDelete