Categories

November 24, 2011

Ulangan Bahasa Inggris Bu Ing



Apa yang kamu lakukan ketika kamu harus berhadapan dengan orang sombong yang nyebelinnya selangit? Sialnya hari ini aku harus berhadapan dengan guru bahasa Inggrisku yang nyebelinnya setengah mati. Kita sebut saja dia Bu Ing.

Minggu lalu di akhir pembelajaran Bu Ing memberitahu kalau besoknya ulangan. Serentak teman-teman sekelas protes. Karena sorenya final OSIS Super League (OSL) dan kelasku main. Tidak mungkin kan kalau besoknya harus ulangan. Mengejutkan! Bu Ing setuju. Wah, hebat banget seorang Bu Ing yang keras kepala mau mengerti akan murid-muridnya yang mau nonton sepak bola. Dan ulangan pun ditunda minggu depan. Kami pun tersenyum puas.

OSL pun selesai, dan tadi pagi adalah hari perjanjian kita. Hari di mana kita harus ulangan. Malam harinya aku sih nyantai-nyantai aja. Males banget habisnya bahasa Inggris mau belajar apa coba. Orang Bu Ing selama ini kalo ngajar cuma bahas LKS. Ya, pokoknya tuh begitu bel bunyi, dia masuk kelas dan duduk di kursi guru di pojok depan. Terus buka buku, bahas soal, gituuuuuuuu aja selama hampir satu semester ini. Siapa sih yang nggak bosen kalo gitu caranya. Padahal sekolahku tu RSBI harusnya gurunya yang kreatif dong. Bukannya jadul kayak Bu Ing. Hmmmmm..

Oke, lanjut masalah ulangan tadi. Modelnya ganjil-genap. Jadi dalam satu kelas itu dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama beranggotakan siswa yang bernomor absen genap. Kelompok kedua beranggotakan siswa yang bernomor absen ganjil. Kebetulan tadi kelompok genap dulu yang ulangan, kelompok ganjil keluar. Berhubung aku nomor ganjil, 23, aku bersyukur banget. Karena aku belum belajar sama sekali sedangkan teman-temanku kayaknya udah siap (dengan contekannya maksudnya).

Selama satu jam pelajaran kelompok genap berkutat dengan 15 nomer soal di dalam ruang kelas yang sumpek dan panas apalagi di awasi nenek sihir. Sementara di luar kelas aku berkutat dengan halaman-halaman LKS yang lebar, tipis, buram, dan tak berwarna pula. Behhhh, liat buku ini jadi inget mukanya Bi Ing. Maleeeeesss. Bel pun berbunyi. Ruang kelas X-5 kini dihuni oleh kelompok ganji. Aku pilih duduk di bangkuku yang berada paling belakang. Bu Ing mulai membagikan soal berikut lembar jawabannya. Lalu ia kembali lagi ke bangkunya. Duduk manis sambil berkata, “Lembaran soal jangan dicoret-coret. Teman-temanmu tadi itu kelihatannya saja punya kuping, tapi ternyata kupingnya nggak berguna. Sudah dibilangin soal tidak boleh dicoret-coret, kok ya masih dicoret-coret. Itu berarti punya kuping tapi nggak berfungsu to?” Aku mendengarnya hanya bisa istifar sambil mengelus dada.

Aku meratapi soal itu selama beberapa detik, setengah melamun. Tetapi tak lama aku tersadar dari lamunanku dan mulai mengerjakan soal-soal. 9 nomer pertama sih aku bisa babat dengan mudahnya. Tapi sampai nomer 10,11,12, aku mulai mikir. Ini soal tentang Modal. Aku harus melengkapi kalimat dengan kata yang tepat. Tapi bukan sembarang kata-kata. Mampuss! Aku belum begitu paham materi ini. Akhirnya aku lewati.
“Mata kamu kenapa?” tanya Bu Ing tiba-tiba pada temanku yang duduk paling depan. Temanku belum menjawab, tapi Bu Ing sudah bicara lagi, “Belekan ya? Hahahahaha” . Ya Alloh, ini orang, batinku.
Soal nomer 13 dan 14 hanya menyusun kata-kata menjadi kalimat yang baik dan benar. Gampang. Aku menandai kata-kata itu dengan memberi nomer yang urut. Aku tidak sadar kalau aku mencoret-coret soal. Dan soal terakhir, membuat Procedure text tentang medicine. Aku membuat konsepnya terlebih dahulu baru kemudian menyalinnya di lembar jawaban. Sedang asyik-asyiknya menyalin, Bu Ing berseru, “Ayo cepat, waktunya tinggal 5 menit.”
Busyet! Aku kaget banget. Masak sih secepat itu.  Aku menulis dengan terburu-buru. Mataku terbelalak. Teman di sebelahku menanyakan jawaban nomer 12. Bu Ing mengetahui hal ini.
“Hayo! Kamu ngapain? Makanya kalo diajar itu perhatikan biar kalo ulangan nggak nanya ke teman!” bentak Bu Ing pada temanku. Ia pun semakin mendesak agar kami segera mengumpulkan ulangan. Tapi apa mau dikata, kami belum selesai kok. Lagian bel juga belum bunyi. Kok sewot banget nih orang.
Saat aku mau mengumpulkan, ternyata masih ada 2 nomer yang belum terjawab. Aku pun mengeluarkan jurus rahasiaku. Jurus “Ta’awudz” alias jurus NGAWUR. Bodo amat bener apa salah. Yang penting ngumpulin. Nah, akhirnya beres. Aku pun maju untuk menyerahkan ulanganku. But, aku tersentak, coretan di nomer 13 dan 14 belum aku hapus, aku pun segera menghapusnya. Bu Ing melihatku. Ia lalu memalingkan wajahnya seraya menyindirku.
“Di awal kan saya sudah bilang, soal jangan dicoret-coret. Kok ya nggak dengar”
Dia bicara dengan nada menghina, melecehkan, merendahkan, jutek, judes, sombong, dan selalu seperti itu. Kuping siapa coba yang nggak panas dengar ocehan macam itu. Aku bebar-benar nggak tahan. Emosi. Nggak betah lama-lama berada deket dengan Bu Ing. Dia kayak setan, bawaannya bikin orang kesal. Akhirnya soal berikut lembar jawaban sudah aku letakkan di hadapannya.  Setelah itu  aku langsung minggat ke perpustakaan menyusul temanku yang ulangn lebih dulu. Di situ baru aku bisa bernapas lega sembari meredam emosi.

1 comment:

  1. guru nyebelin .. sok tua dan sok tau .. sok senior .. hmmmm

    ReplyDelete