Apa yang kamu lakukan ketika kamu harus berhadapan dengan
orang sombong yang nyebelinnya selangit? Sialnya hari ini aku harus berhadapan
dengan guru bahasa Inggrisku yang nyebelinnya setengah mati. Kita sebut saja
dia Bu Ing.
Minggu lalu di akhir pembelajaran Bu Ing memberitahu kalau
besoknya ulangan. Serentak teman-teman sekelas protes. Karena sorenya final
OSIS Super League (OSL) dan kelasku main. Tidak mungkin kan kalau besoknya
harus ulangan. Mengejutkan! Bu Ing setuju. Wah, hebat banget seorang Bu Ing
yang keras kepala mau mengerti akan murid-muridnya yang mau nonton sepak bola.
Dan ulangan pun ditunda minggu depan. Kami pun tersenyum puas.
OSL pun selesai, dan tadi pagi adalah hari perjanjian kita.
Hari di mana kita harus ulangan. Malam harinya aku sih nyantai-nyantai aja.
Males banget habisnya bahasa Inggris mau belajar apa coba. Orang Bu Ing selama
ini kalo ngajar cuma bahas LKS. Ya, pokoknya tuh begitu bel bunyi, dia masuk
kelas dan duduk di kursi guru di pojok depan. Terus buka buku, bahas soal, gituuuuuuuu
aja selama hampir satu semester ini. Siapa sih yang nggak bosen kalo gitu
caranya. Padahal sekolahku tu RSBI harusnya gurunya yang kreatif dong. Bukannya
jadul kayak Bu Ing. Hmmmmm..
Oke, lanjut masalah ulangan tadi. Modelnya ganjil-genap.
Jadi dalam satu kelas itu dibagi jadi dua kelompok. Kelompok pertama
beranggotakan siswa yang bernomor absen genap. Kelompok kedua beranggotakan
siswa yang bernomor absen ganjil. Kebetulan tadi kelompok genap dulu yang
ulangan, kelompok ganjil keluar. Berhubung aku nomor ganjil, 23, aku bersyukur
banget. Karena aku belum belajar sama sekali sedangkan teman-temanku kayaknya
udah siap (dengan contekannya maksudnya).
Selama satu jam pelajaran kelompok genap berkutat dengan 15
nomer soal di dalam ruang kelas yang sumpek dan panas apalagi di awasi nenek
sihir. Sementara di luar kelas aku berkutat dengan halaman-halaman LKS yang
lebar, tipis, buram, dan tak berwarna pula. Behhhh, liat buku ini jadi inget
mukanya Bi Ing. Maleeeeesss. Bel pun berbunyi. Ruang kelas X-5 kini dihuni oleh
kelompok ganji. Aku pilih duduk di bangkuku yang berada paling belakang. Bu Ing
mulai membagikan soal berikut lembar jawabannya. Lalu ia kembali lagi ke
bangkunya. Duduk manis sambil berkata, “Lembaran soal jangan dicoret-coret.
Teman-temanmu tadi itu kelihatannya saja punya kuping, tapi ternyata kupingnya
nggak berguna. Sudah dibilangin soal tidak boleh dicoret-coret, kok ya masih
dicoret-coret. Itu berarti punya kuping tapi nggak berfungsu to?” Aku
mendengarnya hanya bisa istifar sambil mengelus dada.
Aku meratapi soal itu selama beberapa detik, setengah
melamun. Tetapi tak lama aku tersadar dari lamunanku dan mulai mengerjakan
soal-soal. 9 nomer pertama sih aku bisa babat dengan mudahnya. Tapi sampai
nomer 10,11,12, aku mulai mikir. Ini soal tentang Modal. Aku harus melengkapi
kalimat dengan kata yang tepat. Tapi bukan sembarang kata-kata. Mampuss! Aku
belum begitu paham materi ini. Akhirnya aku lewati.
“Mata kamu kenapa?” tanya Bu Ing tiba-tiba pada temanku yang
duduk paling depan. Temanku belum menjawab, tapi Bu Ing sudah bicara lagi,
“Belekan ya? Hahahahaha” . Ya Alloh, ini orang, batinku.
Soal nomer 13 dan 14 hanya menyusun kata-kata menjadi
kalimat yang baik dan benar. Gampang. Aku menandai kata-kata itu dengan memberi
nomer yang urut. Aku tidak sadar kalau aku mencoret-coret soal. Dan soal
terakhir, membuat Procedure text tentang medicine. Aku membuat konsepnya
terlebih dahulu baru kemudian menyalinnya di lembar jawaban. Sedang
asyik-asyiknya menyalin, Bu Ing berseru, “Ayo cepat, waktunya tinggal 5 menit.”
Busyet! Aku kaget banget. Masak sih secepat itu. Aku menulis dengan terburu-buru. Mataku
terbelalak. Teman di sebelahku menanyakan jawaban nomer 12. Bu Ing mengetahui
hal ini.
“Hayo! Kamu ngapain? Makanya kalo diajar itu perhatikan biar
kalo ulangan nggak nanya ke teman!” bentak Bu Ing pada temanku. Ia pun semakin
mendesak agar kami segera mengumpulkan ulangan. Tapi apa mau dikata, kami belum
selesai kok. Lagian bel juga belum bunyi. Kok sewot banget nih orang.
Saat aku mau mengumpulkan, ternyata masih ada 2 nomer yang
belum terjawab. Aku pun mengeluarkan jurus rahasiaku. Jurus “Ta’awudz” alias
jurus NGAWUR. Bodo amat bener apa salah. Yang penting ngumpulin. Nah, akhirnya
beres. Aku pun maju untuk menyerahkan ulanganku. But, aku tersentak, coretan di
nomer 13 dan 14 belum aku hapus, aku pun segera menghapusnya. Bu Ing melihatku.
Ia lalu memalingkan wajahnya seraya menyindirku.
“Di awal kan saya sudah bilang, soal jangan dicoret-coret.
Kok ya nggak dengar”
Dia bicara dengan nada menghina, melecehkan, merendahkan,
jutek, judes, sombong, dan selalu seperti itu. Kuping siapa coba yang nggak
panas dengar ocehan macam itu. Aku bebar-benar nggak tahan. Emosi. Nggak betah
lama-lama berada deket dengan Bu Ing. Dia kayak setan, bawaannya bikin orang
kesal. Akhirnya soal berikut lembar jawaban sudah aku letakkan di hadapannya. Setelah itu
aku langsung minggat ke perpustakaan menyusul temanku yang ulangn lebih
dulu. Di situ baru aku bisa bernapas lega sembari meredam emosi.
guru nyebelin .. sok tua dan sok tau .. sok senior .. hmmmm
ReplyDelete