Categories

November 28, 2011

Dilemaku



Usiaku sekarang 15 tahun dan 2 bulan lagi genap 16 tahun. Aku berada pada masa remaja. Kata orang masa ini adalah masa yang rawan. Karena pada masa ini seseorang akan mencari jati dirinya yang sesungguhnya. Ia akan mencoba hal-hal baru. Ia akan melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Aku benar-benar merasakannya. Aku sering merasa bingung dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada diriku. Bukan perubahan fisik saja, tapi lebih ke psikis. Ke arah emosi, perasaan, pola pikir, dan suasana hati yang selalu berubah-ubah.

Kata orang, masa remaja adalah masa penentu hidup kita di masa depan, di masa kita dewasa. Apabila kita dapat melalui masa remaja dengan baik, yaitu dengan menjadi anak baik yang tidak melanggar norma-norma maka setelah dewasa kita akan menjadi orang yang baik dan mendapat derajat yang baik di masyarakat. Tetapi, apabila seseorang terherumus ke jalan yang salah di masa remaja, misalnya menjadi nakal, maka  saat dewasa ia akan sulit untuk menjadi orang yang baik. Selain itu image yang sudah tertanam di masyarakat, ia adalah anak yang bandel. Tentu ini akan mengganggu perkembangan psikologis.

Lalu bagaimana denganku? Aku kerap kali bingung. Bingung. Iya, bingung. Aku bingung menentukan jalan mana yang akan aku tempuh. Aku bingung akan menjadi orang seperti apa aku kelak. Apakah menjadi orang baik-baik yang hidupnya adem ayem, disegani masyarakat, dan menjadi manusia yang ideal di mata masyarakat. Ataukah menjadi orang yang hidupnya dipenuhi dengan masalah. Atau kasarnya menjadi bandel alias badung. Karena menurut pandanganku ada asyiknya juga menjalani hidup sebagai orang badung. Pasti seru dan penuh dengan tantangan. Tapi, ini hanyalah pemikiran bocah yang belum genap 16 tahun usianya dan belum punya pengalaman apa-apa yang berarti.

Pilihan ada di tanganku. Menjadi baik dan lurus-lurus saja atau menjadi bandel dan berkelak-kelok jalan hidupnya. Aku bisa menjadi salah satu dari keduanya jika dilihat dari keadaan hidupku saat ini. Aku punya bekal untuk jadi orang baik. Aku punya keluarga yang baik. Aku punya orang tua yang baik. Aku bisa dibilang pintar. Aku lumayan rajin solat dan ngaji. Aku lebih sering di rumah dari pada keluyuran. Aku sering membuat orang tuaku bangga dengan prestasi dan kelakuan baikku. Aku bisa masuk sekolah favorit yang kata orang hanya bisa dimasuki anak-anak ber-IQ tidak sembarangan.

Tapi aku juga punya bekal untuk menjadi anak yang badung. Aku malas sekali. Aku terkadang tak mau tahu aturan. Aku pernah keluyuran malam-malam. Aku pernah bergaul dengan anak-anak nakal. Aku jarang takut pada orang yang lebih tua, aku cenderung menantang. Aku pernah melakukan kegilaan-kegilaan yang mungkin tak terbayangkan oleh anak seusiaku. Aku bisa bersikap cuek dan tidak peduli pada apa pun. Aku sering menyakiti orang hanya dengan lidahku.

Hmmm... terkadang aku ingin menjadi orang baik, tapi di saat lain aku bosan bila harus menjalani kehidupan orang baik. Aku tahu di dalam hidup ini ada hitam dan putih. Tapi aku tahu bahwa kita gak bisa benar-benar menjadi hitam ataupun benar-benar menjadi putih. Karena kita hanyalah abu-abu yang condong ke putih ataupun ke hitam.

Aku butuh seseorang untuk selalu menemaniku, membimbing, mengerti keadaanku, kondisiku, setiap saat. Tapi siapa? Teman? Teman yang seusiaku sih sama saja bohong. Pacar? Ah, kayaknya pacar nggak pernah membantu untuk masalah seperti ini. Orang tua? Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi urusan seperti ini. Guru? Terlalu formal untukku.

Lalu siapa? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya hanya diriku sendiri yang bisa mengatasi kebingunganku ini. Karena urusan ini adalah masalahku. Masalah yang timbul karena aku sendiri yang kerap kali mempermasalahkannya. So, aku sendirilah yang mampu memecahkannya. Baik, kita akan lihat akan jadi seperti apa aku kelak . :)

1 comment: