Sore tadi aku jalan-jalan sejenak mengitari jantung kota. Sekedar
membeli tas laptop di toko computer, aku sempatkan mengamati kotaku yang mungil
ini. Sejak aku hijrah ke sini akhir 2004 silam hingga sekarang Pacitan telah
mengalami banyak perubahan. Trotoar alun-alun yang hanya ramai di bagian timur
kini bagian barat pun penuh kaki lima. Sajian khas pinggir jalan semakin
kompleks saja tersaji. Trotoar yang di desain seperti di kota-kota besar itu
benar-benar menjadi pelengkap suasana. Orang-orang duduk bersila sembari
bercengkrama.
Di sebelah utara alun-alun, tepat di depan pendopo anak-anak
muda biasa berkumpul. Sekedar nongkrong, hotspotan, atau bermain basket. Suasana
riuh yang selalu terdengar mulai pukul empat sore hingga pukul 10 malam.
Pacitan kota yang nyaman. Jalanannya bersih, tak ada sampah
di trotoar, polusi masih terkendali, susana seperti inilah yang akan selalu
dirindukan. Kejahatan tak pernah marak seperti di kota besar. Penduduknya ramah-ramah.
Bahkan pelayan toko saja masih ingat denganku yang sudah berbulan-bulan tak
pernah menginjakkan kaki di situ.
Jalanan basah, bekas diguyur hujan. Hawanya sejuk, aku betah
berlama-lama di jalan. Pacitan benar-benar kota yang mungil. Aku hafal semua
jalan-jalannya. Sangat mudah beradaptasi di tempat ini. Kendaraan bermotor belum
terlalu banyak. Jadi kita masih bisa bersepeda menyusuri kota. Anak sekolah pun
banyak yang memakai sepeda. Bahkan para pegawai sekalipun. Di sini tak perlu
membuat jalur khusus untuk sepeda.
Frekuensi kendaraan masih seimbang dengan jalan. Bayangkan,
di sini jaraaaaaang sekali terjadi kemacetan. Paling-paling kalau ada event tertentu
saja yang membuat warga pacitan keluar rumah semua. Hehehehe ..
hahaha.. ini kemarin ..
ReplyDelete